Celoteh Pagi

Beberapa hari ini kata teman-teman wajah saya seputih kertas. Perut melilit-lilit dan terkadang disertai muntah, serta serangan sakit kepala. Asam lambung sepertinya naik, persis seperti saat saya mendekati sidang tugas akhir hampir 2 tahun lalu.

Ada banyak hal yang memaksa saya berpikir dan merasakan lebih. Masalah pribadi hingga pekerjaan. Tak hanya saya, teman saya pun mengalaminya. Dan ketika saya ‘berubah’ rupanya banyak yang menyadari. Salah satunya teman saya ini, sehingga dia mengajak saya untuk berbagi.

Beberapa pekan lagi teman saya ini akan melepas masa lajang. Sesuatu yang mungkin tak terpikir pada setahun lalu. Hidup memang misteri yah.

Di beberapa kesempatan, dia memang tampak seperti anak kecil. Begitu polos. Tapi di balik itu dia menyimpan kedewasaan luar biasa. Seorang pengayom hebat yang memiliki bahu kekar karena harus menjadi shoulder to cry on tak hanya bagi perempuannya, tapi bagi anak-anak buahnya.

Kepadanya saya tumpahkan kekesalan yang semula tak saya izinkan orang lain merambahnya. Sepertinya dia dekat dengan ibunya sehingga sangat mendengar her words.

“Bersabarlah” “Ikhlas” dan “Jangan pernah menyakiti perempuan”. Menjadi bekal dari ibu yang dibawanya ke mana-mana. “Makanya aku sering disakitin perempuan Vit,” ujarnya bercanda suatu kali.

Kepada saya dia membagi mantera ibunya: bersabarlah dan ikhlas. Bersabar, mungkin ini yang harus terus saya asah.

Ikhlas? Cukup ikhlaskah saya? Terkait masalah saya dengan laki-laki yang sudah 2 tahunan ini dekat dengan saya, sudah ikhlaskah saya? Saya selalu mencoba menerima kekurangan dan kelebihannya. Ketika ada orang yang mungkin lebih dari dia di beberapa hal datang ke hadapan saya, saya toh tetap memilihnya.

Ketika dia tidak bisa memastikan kapan tepatnya hubungan ini move on ke taraf yang lebih tinggi, saya selalu berusaha ikhlas. Saya setiap hari memohon di setiap sujud agar dikuatkan hingga tiba hari bagi kami.

Ketika saya kesal padanya benarkah karena saya tidak bisa menerima kekurangan dia lainnya? Bukan itu sebenarnya, tapi lebih kepada perbedaan yang belum terkompromikan.

Beberapa hari ini saya ‘hidup tanpa dia’. Merasa tergantung dibiarkan sendiri di tengah lautan rasanya. So far tak terlihat itikad dia memperbaiki ini.

“Apakah harus selalu saya dulu yang mulai membuka keran?” Seolah kendali itu ada di tangan saya. Seolah sayalah sang calon nakhoda. Kemana inisiatif dia? Atau dia merasa tak lagi layak mempertahankan ini semua? Kalau yang terakhir ini benar, saya jadi merasa 2 tahunan ini sia-sia. Komitmen setengah tinggi yang dibangun dan ditawarkan dia sejak awal sepertinya hancur berantakan.

Sampai detik ini saya nggak paham apa yang membuat dia jadi ikut marah dan kesal. Berkali-kali saya memohon sama dia, jangan pernah beri kesempatan pikiran liar dan berbagai hipotesa buruk keluar. Tapi dia toh memberi waktu untuk itu semua.

Saya sengaja menunggu dia yang berinisiatif membuka keran, tapi apa? Seperti sedang menunggu godot rasanya. Gemes banget. Kok bisa ya dia berlama-lama begitu tidak segera menyelesaikan masalah. Take time? For what?

Kata teman saya, tidak apa-apa saya dulu yang membuka keran. Itu menunjukkan saya lebih dewasa. Tapi kalimat teman saya seperti menunjukkan ‘sayalah nakhoda, bukan dia’.

Saya mencoba mengingat hal-hal manis yang pernah kami lalui bersama. Lalu bertanya apakah pertengkaran beberapa hari lalu cukup berharga untuk membuat semua berakhir?

Jika hubungan ini dipaksakan? Dipaksakan untuk apa? Toh saya pun tidak mempedulikan orang-orang yang berusaha mendekati. Kami pun saling mempersilakan untuk masuk ke ranah yang tidak sembarang orang bisa masuk.

Jadi bertanya-tanya, apa maksud dia ‘menggantungkan’ ini? Bolehkah saya pertanyakan komitmennya?

*Tidur lagi*

Pasukan Hamil

Pasukan nikah beberapa waktu lalu membuahkan hasil. Istri mereka kini tengah tekdung tralala alias hamil. Wah barengan juga, alhasil para istri itu jadi pasukan hamil. Read more »

Baju Rombeng

Kadang pakai baju rombeng itu enak. Mungkin saking seringnya dipakai jadi baju pun menjadi rombeng. Justru karena itu, ingin terus memakainya sampai tak bisa lagi dipakai.

Read more »

Bertengkar (2)

Tanpa pahit, maka kita tidak tahu rasanya manis. Bertengkar dalam hubungan itu lumrah. Asalkan kita mampu mengadapi dan menyelesaikannya dengan baik. Read more »

Bertengkar

Entah untuk kali keberapa kami bertengkar. Kalau sudah begini saya jadi berpikir, kami itu cocok nggak sih sebenarnya. Read more »

It’s Not Easy

Bagi saya tidak mudah membiasakan diri dengan hal-hal yang tidak biasa. Tapi saya yakin saya bisa. Read more »

Tali Temali Itu

Entah akan kumulai dari mana tulisanku ini. Berjuta gambaran dan ilustrasi ada di atas kepalaku, aku bingung harus seperti apa aku lukiskan tentang dirimu, dirimu yang menempati salah satu bagian utama di otakku. Read more »

Maaf Merepotkanmu dengan Hatiku

Sejak dulu hati ini memang fragile. Makanya tidak sembarang orang kupercaya untuk menjaganya. Hingga kamu datang ke hadapanku, mengulurkan tangan dengan gagah berani. Dan saat itu kupikir mungkin sosokmu adalah sosok paling tepat untuk menjadi penjaga hatiku. Tapi maaf, jika dalam penjagaanmu, hatiku telah banyak merepotkanmu…. Read more »

Ingatkah?

Ingatkah kau hari ajaib kala itu? Hari indah yang mempertemukan kita? Hari penuh debar di dada. Hari dengan senyum penuh makna. Hari ketika Cupid menembakkan anak panah tepat ke arah kita berdua? Read more »

Home Alone

Sendiri di rumah bukan hal yang baru bagiku. Tapi nggak tahu kenapa, akhir pekan ini ngerasa sedih karena di rumah sendiri. Di luar hujan, jadi males mau keluar. Mau nonton DVD rasanya nggak mood. Aku membunuh waktu dengan membaca di kamar. Tapi rasa sepi ini tak kunjung pergi. Aku pun menangis diam-diam. Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.