Tags

,

Nurvita Indarini- detikcom

newmeede1Jakarta – Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, itulah kata mantan Presiden Bung Karno. Untuk mendorong keingintahuan akan masa lalu, bisa dengan membaca novel sejarah.

Novel sejarah akhir-akhir ini semakin banyak terlihat di toko-toko buku. Sebut saja Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi, Pangeran Diponegoro karangan Remy Silado, juga yang berbau detektif seperti Rahasia Meede karya ES Ito.

Menurut sejarawan Lipi Asvi Warman Adam, sejarah sendiri terdiri atas berbagai teks yang masing-masing menyusun versi tentang kenyataan. Keterkaitan antara karya sastra dan sejarah adalah kaitan intertekstual di antara berbagai teks (fiksi maupun faktual) yang diproduksi pada zaman yang sama atau berbeda.

“Dengan novel sejarah, bisa mendorong keingintahuan akan masa lalu. Banyaknya novel sejarah ini bagus, mengingat sastra mulai banyak dibaca dan generasi muda banyak yang menggemari novel,” ujar Asvi dalam perbincangan dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Dengan novel sejarah, lanjut dia, maka pembacanya bisa menghayati suasana pada masa lampau. Meski memasukkan unsur umajinasi, namun para pengarannya tidak menghilangkan konteks. Bahkan penulisannya pun dilakukan secara serius.

“Gajah Mada jilid 4 tentang Perang Bubat, misalnya, ditulis tentang rekonsiliasi antara etnis Sunda dan Jawa. Ini akan menjadi perspektif baru. Bisa jadi media rekonsiliasi. Penulis menggunakan dokumen sejarah, sejauh itu ada, dan imajinasi,” beber Asvi.

Bagaimana bila penulis novel sejarah menggunakan data yang tidak sesuai dengan sejarah? “Hasil tulisannya itu ditentukan apakah bisa diterima pembaca atau tidak. Umumnya penulis menggunakan data sejarah yang memang harus ada. Selebihnya imajinasi,” ucapnya.

Di Jepang, dengan berlatar belakang sejarah dibuat berbagai komik manga seperti Flash of The Wind dan Samurai. Asvi berharap, ke depannya akan semakin banyak cerita lain untuk menjadi dasar pembuatan novel sejarah.

“Ada berbagai peristiwa masa lalu di Indonesia. Bukan hanya Konferensi Meja Bundar seperti disinggung di Rahasia Meede, atau Diponegoro, atau Gajah Mada. Masih banyak yang lain,” pungkas Asvi. ( nvt / nvt )

About these ads