Tags

,

Pendahuluan

Dewasa ini dunia seakan tanpa batas karena manusia dan barang dapat bergerak dengan mudahnya dari negara yang satu ke negara yang lain. Informasi maupun keadaan yang tengah terjadi di suatu negara pun dapat diakses dengan gampang oleh masyarakat yang hidup di negara berbeda. Masyarakat tidak hanya menjadi bagian dari komunitas suatu negara melainkan juga telah menjadi warga negara internasional yang hidup di perkampungan global. Kondisi inilah yang kemudian dikenal sebagai globalisasi.

Seiring berkembang pesatnya teknologi informasi, globalisasi menyediakan berbagai kemudahan bagi manusia. Misalnya saja, manusia tidak perlu menyeberangi lautan untuk bertemu dan berbicara dengan seseorang. Orang- orang di Indonesia, contohnya, dapat mengakses informasi tentang perang di Afghanistan maupun di Iraq secara real time. Seseorang di Afghanistan dapat mentransfer sejumlah uang kepada orang di Malaysia dengan gampang, aman dan dalam waktu singkat. Globalisasi juga menawarkan peluang baru untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan demokrasi.

Namun seperti sebuah koin, globalisasi tidak hanya memiliki wajah menawan tetapi juga sekaligus mempunyai wajah mengerikan. Sebab kemudahan yang ditawarkan globalisasi justru semakin memfasilitasi kegiatan ilegal yang terjadi dengan melintasi batas-batas yuridiksi negara. Akibatnya kegiatan illegal yang semula hanya dianggap sebagai tindak kriminal biasa kini dianggap sebagai kegiatan yang mengancam keamanan (security) suatu negara. Ancaman transnasional yang lahir akibat globalisasi antara lain proliferasi persenjataan, kekerasan etnis, pencucian uang, perdagangan dan penyelundupan obat terlarang, degradasi lingkungan dan penyebaran infeksi penyakit.

Globalisasi telah melahirkan banyak hal, dan secara langsung atau tidak globalisasi turut membidani lahirnya terorisme. Karena terorisme merupakan produk dari marjinalisasi dan kemiskinan, sedangkan marjinalisasi dan kemiskinan adalah produk dari globalisasi. Disadari atau tidak globalisasi telah memunculkan persaingan global di berbagai bidang. Pihak yang menang persaingan tentu akan menikmati keuntungan. Negara maju yang memiliki teknologi tinggi berada dalam kelompok penikmat keuntungan globalisasi. Namun negara-negara miskin dengan segala keterbatasannya akan semakin jauh tertinggal sehingga kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar. Kemiskinan dan ketidakadilan akan terus menjadi lingkaran setan yang tak pernah putus. Karena itulah muncul perlawanan dari kelompok-kelompok tertindas baik dalam negara maupun intra-state yang tentunya mengancam stabilitas keamanan kawasan regional dan bahkan internasional.

Menurut temuan United Nations Development Programme (UNDP), kawasan yang memiliki indeks pembangunan manusia terendah memiliki kecenderungan dekat dengan kelompok-kelompok teroris. Sebab utamanya adalah bahwa warga di kawasan ini merasa tidak mendapat keuntungan dari kemakmuran yang dijanjikan oleh proses globalisasi dan akses untuk kebebasan. Antipati kepada Amerika Serikat yang dipersepsikan sebagai mesin utama proses globalisasi meningkat, lantaran menurut kelompok yang tertindas ini, AS telah membawa dampak buruk dan bahkan mengancam identitas kelompok tersebut. Alhasil AS, termasuk warga negara dan bisnis dan semua simbolnya, menjadi target perlawanan kelompok itu.

Ide terorisme kemudian disebarkan dengan mudah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Secara nyata kelompok teroris di negara yang satu dengan kelompok di negara lainnya mampu membuat jaringan dengan menggunakan peralatan teknologi dari globalisasi, seraya mengabaikan adanya batas-batas negara. Bahkan dengan memanfaatkan globalisasi, kelompok terorisme mendapat kemudahan akses pendanaan, baik yang legal seperti melalui berbagai kelompok usaha dan lembaga-lembaga non-profit maupun kelompok bisnis ilegal.

Tersebarnya ide terorisme dengan semua kegiatannya semakin memperluas ancaman teror. Peristiwa Bom Bali 2002 merupakan bukti bahwa terorisme global merupakan ancaman keamanan nyata bagi kawasan Asia Tenggara. Tidak hanya Asia Tenggara, kawasan tetangga seperti Asia Timur juga merasa terancam dengan peristiwa tersebut. Apalagi kawasan Asia Timur juga memiliki pengalaman buruk dengan terorisme.

Kerangka Pemikiran

Istilah globalisasi semakin populer penggunaannya, tidak hanya di kalangan akademisi, namun juga di kalangan politisi, praktisi ekonomi, dunia hiburan, jurnalis, dan kalangan lainnya. Meski demikian pengertian globalisasi sebenarnya masih menjadi perdebatan. Istilah globalisasi kerap digunakan secara berganti-ganti dengan istilah internasional, inter-territorial, multinasional, transnasional, dan world-wide.

Seorang peneliti globalisasi Aart Scholte menyatakan ada lima macam fenomena dari konsep dasar globalisasi, yakni globalisasi sebagai sebuah internasionalisasi, globalisasi sebagai sebuah liberalisasi, globalisasi sebagi sebuah universalisasi, globalisasi sebagai westernisasi dan globalisasi sebagai deteritorialisasi. Karena itu luluhnya batas-batas negara seringkali dicirikan dengan adanya perdagangan bebas, persaingan bebas serta masuknya pengaruh budaya barat.

Globalisasi dianggap sebagai tata dunia baru yang muncul seiring berakhirnya Perang Dingin di awal 1990-an. Hal itu ditandai dengan semakin masifnya perdagangan lintas negara yang juga meliputi investasi dan arus modal. Di era ini, banyak yang berpendapat bahwa kedaulatan negara semakin melemahkan kedaulatan negara lantaran pergerakan manusia, barang, jasa dan teknologi hanya melibatkan sedikit campur tangan pemerintah. Meskipun kedaulatan negara memudar akibat batas negara yang luluh, bukan berarti negara lantas bubar.

Ketika berbicara tentang pemikiran globalisasi, ada tiga kelompok yang memiliki pemikiran sendiri-sendiri tentang fenomena tersebut yaitu hiperglobalis, skeptis dan transformationalis. Ohmae yang merupakan hiperglobalis mendefinisikan globalisasi dewasa ini sebagai era baru di mana orang-orang di manapun semakin tunduk kepada disiplin pasar bebas. Sedangkan kalangan skeptis yang antara lain diwakili Hirst dan Thompson menyatakan, globalisasi secara esensial adalah mitos yang menyembunyikan adanya kenyataan bahwa ekonomi internasional semakin terbagi ke dalam tiga kelompok regional utama di mana pemerintah nasional masih memiliki kekuatan. Kaum transformasionalis yang diwakili Rosenau dan Giddens berpendapat, pola globalisasi dewasa ini diterima sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah, yang mana negara dan masyarakat yang melintasi dunia sedang mencoba proses perubahan di mana mereka mencoba untuk beradaptasi kepada dunia yang lebih saling terhubung namun penuh ketidakpastian.

Pengertian yang simpel tentang globalisasi dituangkan David Held dkk dalam buku Global Transformation Politics, Economic and Culture yang mengatakan bahwa globalisasi merupakan perluasan (widening), pendalaman (deepening) dan percepatan (speeding up) interkoneksitas semua aspek kehidupan sosial, dari budaya hingga kriminal, dari finansial hingga spiritual di seluruh dunia. Secara umum, dari berbagai pendapat tentang globalisasi, dapat ditarik benang merah bahwa globalisasi merupakan suatu proses terus menerus, di mana terjadi interkoneksitas dari berbagai bidang yang membuat dunia ini menjadi sebuah tempat tunggal yang dihuni oleh masyarakat dunia. Kemajuan teknologi informasi adalah alat yang membuat globalisasi semakin eksis. Meskipun dapat diprediksi, namun globalisasi tidak dapat dihindari.

Adanya interdependensi yang muncul akibat globalisasi menjadikan kebijakan yang diambil oleh suatu negara sangat mungkin berdampak kepada negara-negara lainnya. Demikian pula kejahatan yang mengancam dan bahkan terjadi di suatu negara sangat mungkin menjadi ancaman negara lainnya. Mengglobalnya tatanan dunia diikuti mengglobalnya ancaman keamanan. Isu keamanan yang belakangan ini paling banyak menyita perhatian publik adalah terorisme. Yang terbaru adalah serangan teroris di Indonesia pada Juli 2009 lalu. Terjadinya peristiwa tersebut membuktikan bahwa ancaman terorisme global belumlah padam.

Terorisme bukanlah hal baru, sebab bila merujuk pada tindakan kekerasan untuk menyebarkan ketakutan masal, hal itu telah dilakukan pada abad I Masehi. Saat itu kelompok sekte Yahudi yang dikenal dengan nama Zealot berjuang melawan kekaisaran Romawi di Judea dengan cara membunuh warga biasa di siang hari di tengah kota Yerusalem. Pembunuhan dilakukan oleh sicarii atau orang-orang bergolok yang menyembunyikan sica atau golok di balik jubahnya. Dalam aksinya mereka juga tidak segan-segan menculik petugas kuil demi mendapat tebusan serta menggunakan racun dalam skala besar.

Istilah teror pertama kali dikenal pada zaman revolusi Perancis. Regime de le terreur dipakai untuk menyebut pemerintah hasil Revolusi Perancis tahun 1795 yang menggunakan kekerasan secara brutal kepada orang-orang anti-pemerintah. Istilah ini semakin banyak digunakan pada 1970-an. Ketika itu teror yang terjadi berskala nasional atau lingkup domestik saja. Namun seiring perubahan tata dunia, teror pun meningkat skalanya menjadi global.

Menurut Donald Hamilton dalam Political Terrorism, terorisme didefinisikan sebagai penggunaan ancaman terus menerus dan juga kekerasan oleh sekelompok orang untuk tujuan politik dengan menimbulkan ketakutan, memunculkan perhatian yang luas, dan atau memprovokasi kekerasan.

C. Terorisme di Asia Tenggara dan Asia Timur

Sejak tragedi 9/11 pada 2001 lalu di AS, isu terorisme menjadi agenda utama dalam sejumlah pertemuan organisasi kawasan maupun organisasi internasional. AS menjadi target serangan lantaran dinilai sebagai negara yang aktivitasnya mengkerdilkan sekelompok orang tertentu. Namun tidak disangka teroris melancarkan aksi jauh di luar AS, meskipun targetnya adalah simbol-simbol eksistensi AS beserta negara-negara sahabatnya. Bom Bali 2002 lalu membuka mata masyarakat internasional, bahwa kegiatan terorisme bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

C.1 Terorisme di Asia Tenggara

Asia Tenggara semakin mendapat sorotan dunia internasional lantaran sejumlah peristiwa teror yang terjadi secara bertubi-tubi. Korban dalam jumlah besar dan target serangan yang merupakan simbol-simbol Barat merupakan persamaan dari serentetan teror yang terjadi di Indonesia, negara yang terletak di kawasan Asia Tenggara. Pelaku teror ditengarai suatu kelompok yang memiliki hubungan dengan Al Qaeda (AQ) di Afghanistan, bernama Jemaah Islamiyah. Padahal AQ diindikasikan sebagai kelompok yang bertanggungjawab atas teror 11 November 2001 di AS.

Teror memang bukan hal baru di Asia Tenggara, sebab ada beberapa kelompok pemberontak yang kerap menggunakan kekerasan sehingga menyebarkan ketakutan di masyarakat. Berikut ini adalah beberapa kelompok pemberontak dan teroris yang ada di Asia Tenggara.

No

Kelompok

Negara

Tujuan

Keterangan

Status

1

Pattani United Liberation Organization PULO

Thailand

Pemisahan diri, membentuk Negara Islam

Motivasi keagamaan, diduga memiliki hubungan dengan Abu Sayyaf Group (ASG)

2

Guragan Mujahideen Islam Pattani

Thailand

Pemisahan diri, membentuk Negara Islam

Motivasi keagamaan, diduga memiliki hubungan dengan AQ and JI

3

Wae Ka Raeh

Thailand

Pemisahan diri, membentuk Negara Islam

Motivasi keagamaan, diduga memiliki hubungan dengan AQ and JI

4

Hmong Guerilla

Laos

Tuntutan otonomi/ pemisahan diri

Ethnonationalis

5

Cambodian Freedom Fighters (CFF)

Cambodia

Politik lokal

6

Khmer Rouge

Cambodia

Politik lokal

7

Karen National Union

Myanmar

Tuntutan otonomi/ pemisahan diri

Ethnonationalis

8

Kachin Defense Army

Myanmar

Tuntutan otonomi/ pemisahan diri

Ethnonationalist

9

Eastern Shan State Army

Myanmar

Tuntutan otonomi/ pemisahan diri

Ethnonationalist

10

Ommat Liberation Front

Myanmar

Tuntutan otonomi/ pemisahan diri

Ethnonationalis

11

Kawthoolei Muslim Liberation Front

Myanmar

Tuntutan otonomi/ pemisahan diri

Ethnonationalis

12

Muslim Liberation Organization of Burma

Myanmar

Tuntutan otonomi/ pemisahan diri

Ethnonationalis

13

Jemaah Islamiyah

Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Kamboja

Membentuk Negara Islam di Asia Tenggara

Motivasi keagamaan, terkait dengan AQ

Dimasukkan dalam daftar organisasi teroris oleh AS dan PBB

14

Abu Sayyaf Group (ASG)

Filipina Selatan

Pemisahan diri, membentuk Negara Islam

Motivasi keagamaan, terkait dengan AQ

Dimasukkan dalam daftar organisasi teroris oleh AS

15

Moro Islamic Liberation Front (MILF)

South Phillipines

Tuntutan Otonomi, pemisahan diri, dan pembentukan negara Islam

Motivasi keagamaan, terkait dengan JI

16

Moro National Liberation Front (MNLF)

Filipina Selatan

Tuntutan Otonomi, pemisahan diri

Ethnonationalis

17

New People’s Army

Filipina

Politik lokal

Komunis

Dimasukkan dalam daftar organisasi teroris oleh AS

Di kawasan Asia Tenggara peristiwa teror banyak terjadi di Indonesia, Filipina dan Thailand. JI diduga berada di balik teror yang melanda Indonesia, sedangkan Abu Sayyaf bertanggunggawab atas teror yang terjadi di Filipina, dan kelompok pemberontak adalah pihak yang kerap menebar ketakutan lewat sejumlah aksi kekerasan di Thailand. Tidak mengherankan jika 3 kelompok tersebut, utamanya JI, paling sering disebut-sebut sebagai pihak yang bertanggungjawab apabila terjadi insiden teror.

Jemaah Islamiyah

Kelompok ini berakar dari Darul Islam, yakni sebuah gerakan yang menginginkan diterapkannya hukum Islam di Indonesia. Darul Islam berkembang di akhir tahun 1940an dan terus berupaya melawan pemerintahan RI. Pada 1969, Abu Bakar Ba’asyir bersama dengan Abdullah Sungkar diduga melakukan operasi untuk mengembangkan Darul Islam.

Menurut PG Rajamohan dalam tulisannya tentang JI, di era pemerintahan Soeharto, Ba’asyir pernah dijebloskan ke penjara tanpa peradilan lantaran dinilai membahayakan. Karenanya usai keluar dari penjara, Ba’asyir memilih pergi ke Malaysia pada 1985 dan menjadi guru mengaji. Saat itulah dia dianggap sebagai pendiri JI, di mana pengikutnya tersebar hingga di luar Malaysia. Ba’asyir bahkan merekrut sukarelawan untuk berjuang melawan Brigade anti-Muslim Soviet di Afghanistan.

Pada 1990, Ba’asyir bertemu Hambali, seorang pria yang menginginkan berdirinya kekhalifahan Islam di Asia Tenggara yang meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunai dan Kamboja. Kemudian Ba’asyir menjadi pemimpin politik organisasi tersebut, sedangkan Hambali menjadi pemimpin militer. Bahkan Hambali mendirikan perusahaan Konsojaya untuk memfasilitasi pencucian uang sebagai bentuk dukungan pada keuangan dan logistic JI. Meski demikian Ba’asyir menyatakan dirinya tidak terkait dan tidak tahu menahu tentang JI.

Rajamohan berpendapat, JI mendukung gerakan Islam di seluruh dunia. Berdasar laporan AS, banyak pemimpin JI yang mendapat pelatihan di camp teroris Pakistan dan Afghanistan. Karena itulah mereka memiliki hubungan dekat dengan Al Qaeda dan Taliban. Lebih dari itu, AQ juga diyakini sebagai sumber pendana utama bagi JI dan menyediakan logistik untuk mendukung kegiatan teroris.

Peneliti terorisme Sydney Jones memaparkan, JI dibagi dalam 4 wilayah operasi di Asia Tenggara, yakni:

Mantiqi 1: Malaysia, Singapura dan Thailand Selatan. Menitikberatkan pada pendanaan.

Mantiqi 2: Indonesia (Jawa dan Sumatera). Dititikberatkan sebagai wilayah jihad.

Mantiqi 3: Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia Timur, Indonesia (Kalimantan dan Sulawesi). Dititikberatkan sebagai daerah pelatihan.

Mantiqi 4: Australia. Menitikberatkan pada aspek ekonomi dan pendanaan.

Tujuan utama dari JI adalah membentuk Negara Islam yang meliputi Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia dan Filipina. Aksi teror yang dilakukan JI seperti terlihat dalam pengeboman di Bali dan di Jakarta adalah tipikal AQ, di mana yang menjadi target serangan adalah kepentingan AS dan sekutunya. Sejak tahun 2000, JI aktif melakukan teror yang antara lain dengan melakukan pengeboman di Bali pada 2002 dan 2005, pengeboman Kedubes AS di Jakarta, pengeboman Hotel JW Marriott Jakarta pada 2004, dan yang terbaru adalah pengeboman Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott Jakarta pada pertengahan 2009.

Deplu AS menyatakan, pada 2001 diperkirakan ada 200 kegiatan yang dilakukan anggota JI di Malaysia. Di saat yang sama, pemerintah Singapura memperkirakan total anggota JI hampir 5.000 orang.

Abu Sayyaf Group (ASG)

Kelompok Abu Sayyaf terbentuk pada 1991 dan berlokasi di Filipina selatan. Pendirinya adalah Abduragak Abubakar Janjalani yang tewas tertembak oleh polisi pada 1998. Pemimpin selanjutnya yakni Khaddafi Janjalani pernah masuk dalam daftar teroris paling dicari oleh FBI sebelum tewas pada 2006. Jumlah anggotanya kadang menurun dan di waktu lain meningkat tajam, bahkan pernah tercatat ada 4.000 orang yang menjadi anggota aktif.

Tujuan kelompok ini adalah mendirikan negara Islam di Mindanao Barat dan di Kepulauan Sulu untuk selanjutnya mendirikan pan negara Islam di Asia Tenggara. ASG dikenal sebagai kelompok separatis paling keras. Mereka menggunakan teror untuk mendapatkan keuntungan finansial ataupun dalam menyerukan jihad. Kelompok ini tidak segan-segan menculik, mengebom, membunuh, dan juga pemerasan. ASG ditengarai memiliki keterkaitan dengan JI karena mereka pernah memberikan tempat perlindungan bagi anggota JI dari Indonesia yang menjadi buron.

Aksi kekerasan di Filipina juga dilakukan kelompok separatis Moro Islamic Liberation Front (MILF) yang beroperasi di Mindanao, Kepulauan Sulu, Basilan dan Jolo. Sejak 1978 kelompok ini telah melakukan pemberontakan bersifat militer terhadap pemerintahan Filipina. Anggota organisasi ini sebelumnya tergabung Moro National Liberation Front (MNLF). Pemisahan dilakukan karena MNLF bersedia berdamai dengan pemerintah.

Seperti halnya dengan ASG, MILF juga memiliki hubungan istimewa dengan JI. MILF telah memberikan izin untuk dilakukannya latihan militer bagi anggota JI di kamp-kamp yang dimilikinya. Kelompok ini juga kerap memberikan bantuan kepada ASG yang beroperasi di Basilan dan Jolo.

Keterkaitan Kelompok Pengguna Teror di Asia Tenggara

ASG

MILF

Kelompok Pemberontak di Thailand

JI

ASG pernah memberikan tempat perlindungan bagi anggota JI dari Indonesia yang menjadi buron.

MILF telah memberikan izin untuk dilakukannya latihan militer bagi anggota JI di kamp-kamp yang dimilikinya.

Mantiqi 3 yang juga meliputi Filipina Selatan memiliki hubungan dekat dengan MILF dalam mendapatkan senjata dan bahan peledak untuk mendukung pelatihan dan operasi.

Bersama dengan JI, kelompok pemberontak WKR bergabung dan berjuang bersama kaum Mujahidin di Afghanistan.

AQ

Pendiri ASG adalah teman dari petinggi AQ, Osama bin Laden dna telah mengikuti pelatihan pada akhir 1980 di dekat Khost, Afghanistan.

Pada Desember 1991 hingga Mei 1992, seorang anggota Al Qaeda mendapat tugas melatih anggota ASG untuk membuat bom.

MILF pernah mengirimkan sekitar 700 anggotanya untuk mengikuti pelatihan militer dan bergabung dengan mujahidin di Afghanistan.

MILF mendapatkan pbantuan pelatihan dari AQ yang dilakukan di Mindanao dan Afghanistan.

Salah satu anggota AQ membuat organisasi amal di Filipina untuk menyediakan bantuan melalui pendanaan pembangunan di bawah kontrol MILF.

WKR membantu mujahidin berjuang Afghanistan.

C.2 Terorisme di Asia Timur

Asia tenggara adalah sebuah lokasi yang berada di antara Timur dan Selatan. Artinya Asia Tenggara terletak sangat dekat dengan negara-negara yang berada di Asia Timur. Meski kawasan Asia Tenggara dibombardir aksi teroris internasional, namun Asia Timur relatif jauh lebih tenang dari ulah teroris. Walau begitu, negara di kawasan Asia Timur tidak bisa hanya memandang dari jendela apa yang terjadi pada kawasan tetangganya, karena bagaimanapun terorisme bisa muncul dan terjadi di mana saja dan kapan saja. Apalagi negara di kawasan itu juga memiliki sejarah dengan terorisme.

Jepang

Jepang belum pernah mengalami serangan teroris asing, namun pada musim semi 1995 sekte Aum Shinrikyo yang dipimpin Shoko Asahara, melakukan teror berskala cukup besar di Tokyo. Pada 20 Maret 1995, sekte tersebut menyebarkan gas beracun sarin ke berbagai lokasi kereta bawah tanah di Tokyo. Akibatnya, 12 orang tewas dan ribuan orang lainnya cidera.

Sisa-sisa anggota Aum di Jepang tahun 2000 berusaha kembali melakukan teror dengan melakukan serangkaian ledakan di Tokyo. Tujuannya adalah agar pemerintah Jepang membebaskan Shoko Asahara dan Tomomitsu Niimi. Kedua petinggi Aum itu melakukan pembunuhan atas 26 orang bekas pengikut sekte yang keluar kelompok itu. Namun pada Juni 2002, pengadilan menjatuhkan vonis mati.

Sebelumnya, yakni pada 1970-an, sejumlah warga Jepang yang tergabung dalam kelompok Tentara Merah sering melakukan serangan-serangan maut di Eropa dan Israel. Aksi tersebut dilakukan sebagai wujud solidaritas terhadap penderitaan rakyat Palestina.

Jepang juga pernah menjadi target teroris internasional, ketika sebuah statemen dipublikasikasikan di situs berbahasa Arab pada Mei 2004. Dalam situs tersebut disebutkan, ada hadiah 100 kg emas untuk orang yang dapat membunuh Sekjen PBB saat itu, Kofi Anan, satu kg emas untuk orang bisa membunuh tentara dari AS atau Inggris, dan 500 gram emas bagi yang dapat membunuh orang-orang dari negara sekutu seperti Jepang dan Italia.

China

Pada 2008 lalu, China menjadi tuan rumah Olimpiade. Saat itu China mendapat informasi, aka nada teror saat kegiatan internasional itu berlangsung. Pada Oktober 2008, China merilis delapan nama teroris yang akan mengganggu jalannya olimpiade. Mereka adalah warga China dari kelompok minoritas Muslim Uighur yang tergabung dalam Pergerakan Islam Turkistan Timur (ETIM). Kelompok tersebut telah dimasukkan AS ke dalam daftar kelompok teroris yang memiliki koneksi dengan Al-Qaidah.

Dua di antara kedelapan tersangka melakukan percobaan pemboman di pasar besar tempat dimana banyak pebisnis China berkumpul sebelum upaya pembukaan Olimpiade. Nama lain dalam daftar ditengarai menargetkan mengebom kilang minyak besar. Namun, berkat ketatnya pengamanan, kedua aksi tersebut dapat digagalkan.

Memetiming Memeti yang merupakan Ketua ETIM juga masuk dalam daftar. Dia pernah menyatakan telah mengerahkan anggotanya ke Timur Tengah dan Asia Barat untuk mengumpulkan dana, bahan peledak, dan melakukan serangan teror ke sejumlah target di China dan negara lain. Salah seorang anggota kelompok tersebut bahkan memposting video berisi perintah penyerangan di internet untuk menciptakan ketakutan. Postingan itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan karena ETIM sudah biasa menggunakan internet untuk mendapatkan dana dan mencari perekrutan.

Xinjiang adalah wilayah di China yang dihuni oleh 20 juta jiwa, dan mayoritas dihuni etnik Uighur dan kaum minoritas Muslim lainnya. Etnik Uighur yang menempati wilayah dekat perbatasan Pakistan, Afghanistan dan Asia Tengah yang kaya akan minyak itu secara tradisional menentang pemerintah Beijing dan menuntut otonomi lebih luas. Merek abahkan berjuang menuntut kemerdekaan dari China. Aksi teror dilakukan sebagai respons atas kontrol ketat Beijing terhadap agama dan juga serbuan suku mayoritas, Han, ke wilayah mereka dengan motif ekonomi.

D. Kerjasama Melawan Terorisme

Terorisme yang pada awalnya berskala lokal meningkat menjadi skala global. Ancaman terorisme kepada satu negara berarti menjadi ancaman bagi negara lainnya. Karena itu dalam melawan terorisme suatu negara tidak bisa bekerja sendiri melainkan perlu kerjasama dengan negara-negara lainnya. Kerjasama regional dipilih sebagai kegiatan awal untuk menghadang dan menumpas terorisme. Tidak hanya itu, kerjasama lintas kawasan selanjutnya juga dipilih untuk menambah kekuatan yang telah dimiliki.

D.1 Melalui ASEAN

ASEAN secara bertahap telah menanggapi isu terorisme melalui serangkaian pertemuan dalam forum-forum resminya. Tindakan bersama untuk menanggulangi terorisme dideklarasikan di Brunai Darusalam, dua bulan sejak tragedi 9/11 pada 2001, yakni pada pertemuan puncak ASEAN ketujuh. Pada saat itu tidak semua negara ASEAN mendukung penuh perang global melawan terorisme yang digadang-gadang AS. Meski begitu ASEAN menunjukkan itikadnya untuk memerangi terorisme. Misalnya saja pada Mei 2002 di Kuala Lumpur, Malaysia, digelar ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime (AMMTC) yang menghasilkan rencana aksi melawan terorisme. Dukungan memerangi terorisme juga disampaikan ASEAN dalam pertemuan puncak ASEAN di Pnom Penh pada November 2002 atau sebulan sejak Bom Bali I.

Dalam memerangi terorisme, negara ASEAN sepakat untuk meningkatkan pertukaran informasi dan intelijen untuk mengidentifikasi secara cepat pihak-pihak yang diduga teroris atau terlibat dalam kelompok teroris, termasuk pergerakan dan pendanaannya. Pemberian informasi terkait dengan perlindungan kehidupan, property dan keamanan berbagai moda perjalanan juga akan ditingkatkan.

Disepakati pula bahwa kerjasama dan koordinasi yang telah berjalan akan semakin diperkuat, antara lain dengan mengoptimalkan AMMTC dengan badan ASEAN lainnya yang relevan untuk mengkonter, mencegah dan menekan berbagai bentuk kegiatan teror. Dengan demikian maka kemampuan menginvestigasi, mendeteksi, memonitor dan melaporkan kegiatan teroris akan berkembang. Selanjutnya apabila teroris sudah tertangkap akan diproses hukum dengan mengajukannya ke pengadilan.

Setahun kemudian, ASEAN menyepakati adanya program pelatihan dalam mengkonter terorisme termasuk operasi psikologi dan pengadaan intelijen. Diberikan pula kursus pendeteksian bom dan bahan peledak, investigasi pasca peledakan, keamanan bandara, keamanan dokumen (termasuk paspor) dan juga inspeksi.

Pada Mei 2002, digelar pula Konferensi ASEAN Chiefs of Police (ASEANAPOL) di Phnom Penh. Hasil dari konferensi tersebut adalah komitmen bersama dalam memerangi tindakan terorisme.

D.2 Melalui ASEAN + 3

Terorisme akan memanfaatkan segala hal untuk tetap eksis. Sebagaimana diketahui, kemajuan teknologi informasi dan transportasi telah memberikan berbagai kemudahan bagi manusia. Ironisnya teroris menggunakan globalisasi sebagai alat untuk memperluas jaringan, kegiatan, dan eksistensinya.

Kerjasama yang lebih luas pun diperlukan untuk menghambat langkah teroris tersebut. ASEAN pun menggandeng negara-negara di kawasan Asia Timur yang memiliki perekonomian dan teknologi yang lebih maju untuk berjuang bersama mengatasi terorisme dalam kerangka ASEAN + 3 (Jepang, China, Republic of Korea (ROK).

Kejahatan transnasional seperti penyelundupan obat terlarang dan perdagangan senjata illegal merupakan bisnis yang bisa dimanfaatkan oleh teroris. Apalagi terorisme sendiri juga merupakan kejahatan yang melintasi batas-batas negara atau trans-nasional. Mengingat negara-negara rekan ASEAN tersebut memiliki teknologi yang lebih maju, maka ASEAN diharapkan memperoleh transfer teknologi dan bantuan dalam pembangunan kapasitas manusia. Penguasaan teknologi semakin penting karena pelaku kejahatan pun memanfaatkannya untuk melancarkan aksinya.

Konsultasi pertama ASEAN + 3 digelar pada Juni 2003 di Hanoi, Vietnam yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan AMMTC + 3 tahun berikutnya. Negara-negar tersebut akan menggelar kegiatan seminar, workshop dan juga pelatihan. Selain itu disepakati juga adanya cost-sharing.

Kesimpulan

Globalisasi dapat diprediksi tapi tidak bisa dihindari. Berbagai konsekwensi akan menyertai berjalannya proses tersebut. Suka atau tidak, globalisasi yang telah menyediakan berbagai kemudahan juga berpotensi semakin memperlebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Proses globalisasi tidak hanya mendorong integrasi ekonomi pada tingkat global dan memperluas rembesan nilai demokrasi serta hak asasi manusia, tetapi sekaligus mendorong perluasan jaringan kejahatan. Berbagai jenis kejahatan akhirnya menjadi kejahatan transnasional. Bibit-bibit terorisme pun semakin bertambah subur.

Sebelumnya, terorisme hanya berskala nasional. Namun seiring melajunya globalisasi, terorisme semakin menakutkan karena berjalan dan meluas begitu cepat. Pengaruh dan jaringan terorisme berkembang sebegitu rupanya karena dukungan teknologi informasi dan transportasi yang maju. Upaya mereka dengan gampang mencapai hasil jika sistem keamanan dan pengamanan dalam negeri dibiarkan rapuh dan amburadul.

Pasca tragedi 9/11 di AS, terorisme juga tampak tumbuh dengan pesat di Asia Tenggara. Hal itu mungkin terjadi karea secara topografi, kawasan Asia Tenggara membuat teroris lebih mudah melakukan aksinya. Ribuan pulau-pulau kecil yang tersebar luas menyulitkan penjagaan pantai. Apalagi ada banyak hutan di Asia Tenggara yang kemudian dijadikan kamp pelatihan bagi para teroris. Karena itulah negara tidak bisa bekerja sendiri memberantas terorisme melainkan membutuhkan kerjasama dengan negara-negara lainnya. Semakin luas kerjasama yang terjalin maka ruang bagi terorisme akan semakin sempit. Bila terorisme sudah mengglobal, maka diperlukan upaya global untuk mengatasinya. Bila terorisme memanfaatkan kemajuan teknologi, maka upaya perlawanannya juga harus memanfaatkan kemajuan teknologi.

Terorisme adalah masalah serius karena berpotensi mengganggu eksistensi negara. Karena itulah diperlukan upaya yang serius pula. Bila selama ini masih ada anggapan bahwa ASEAN hanyalah talkshop atau sekadar nato alias no action talk only, kini saatnya untuk berbenah. Memang bukan perkara gampang, apalagi ada masalah sensitive di antara negara ASEAN seperti soal perbatasan. Namun sudah saatnya negara ASEAN berpikir lebih maju lagi. Tanpa ada integrasi yang kuat, ancaman regional dan bahkan global tidak akan bisa diatasi dengan maksimal.

Namun harus tetap disadari, suatu negara tidak boleh terlalu bergantung kepada negara lainnya untuk melawan terorisme. Karena untuk mengatasi suatu hal perlu mengetahui apa sebab hal itu muncul. Apabila terorisme muncul karena kebijakan pemerintah yang tidak adil, maka perlu pembenahan akan hal itu. Selain itu perlu adanya rehabilitasi dan reintegrasi pihak-pihak yang pernah terlibat dalam terorisme.

Bahan Bacaan:

Bambang Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, Teropong terhadap Dinamika, Realitas, dan Masa Depan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

David Held dan Anthony McGrew, David Goldblatt dan Jonathan Perraton, Global Transformation Politics, Economics and Culture, Cambridge: Polity Press, 1999.

Dian Firmansyah dkk, makalah untuk Defence and Security Management Studies ITB – Cranfield University dengan judul The Emergence of Terrorism in South East Asia, Agustus 2008.

Jan Aart Scholte, Globalization: A Critical Introduction dalam Bantarto Bandoro, Masalah-masalah Keamanan Internasional Abad 21, makalah pada seminar pembangunan hukum nasional VIII di Denpasar, 14-18 Juli 2003.

John Baylis, James Wirtz, Eliot Cohen, Colin S Gray, Strategy in the Contemporary World An Introduction to Strategic Studies, New York: Oxford University Press, 2004.

Rex A. Hudson dalam laporan Persetujuan Interagensi yang dikeluarkan oleh Divisi Penelitian Federal AS pada September 1999 dengan judul Terrorism: Who Becomes Terrorist and Why?

Abu Saffay Group, http://www.nctc.gov/site/groups/asg.html

China Rilis Daftar Teroris yang Incar Olimpiade 2008, http://www.rakyatmerdeka.co.id/internasional/2008/10/22/5926/China-Rilis-Daftar-Teroris-yang-Incar-Olimpiade-2008

MILF Ada Kaitan dengan Al Qaeda dan Abu Sayyaf, www.rrg.sg/subindex.asp?id=A329_07

Petinggi Aum Shinrikyo Divonis Mati, www.gatra.com/artikel.php?id=18514-

Sidney Jones speaks on Jemaah Islamiyah, http://www.indonesiamatters.com/28/sidney-jones-on-jemaah-islamiyah/

US Department of State’s Foreign Terrorist Organizations, dirilis 8 April 2008,
http://www.state.gov/s/ct/rls/fs/08/103392.htm


(Dipaparkan Nurvita Indarini pada International Symposium 2009, Globalization: East and Southeast Asian Perspectives, di UGM Pada Oktober 2009).


About these ads