Tags

, ,

“…. Di sini ada pesta. Datang tak diundang, Pulang tak diantar.” Senandung yang dipercaya sanggup memanggil roh ini sangat lancar kulafalkan saat masih kelas 3 SD. Ya, untaian kata itu disenandungkan saat memainkan permainan jelangkung.

Temanku yang mengenalkan permainan jelangkung padaku. Dulu kami tidak memainkannya dengan boneka, melainkan dengan lidi. Permainan ini dilakukan oleh dua orang yang masing-masing tangan mereka memegang lidi. Kedua orang lantas berhadap-hadapan dan menyatukan potongan lidi itu, sehingga sekilas tampaknya dua orang itu memegang 2 lidi yang sama.

Setelah menyenandungkan pemanggil roh, lalu berucap “Di sebelah kanan saya Mbak X di sebelah kiri saya Mas Y. Bila suka mendekatlah, bila benci menjauhlah.”

Terkadang memang lidi itu jadi berat. Lalu yang terjadi adalah, bisa saja lidi yang satu mendekati yang lain, lidinya saling mendekat, diam saja, atau malah putus. Permainan itu dilakukan untuk mengetahui apakah teman cowok kita suka sama kita atau enggak. Ya ampunnn.

Permainan ini pernah begitu populer di sekolah, sampai akhirnya nggak ada lagi yang memainkannya karena kami dimarahi guru agama. Di rumah, waktu aku mencoba memainkannya dengan adikku, aku pun dimarahi orangtuaku. Mereka memberi kami pengertian, jelangkung itu bukan permainan yang pantas dilakukan.

“Kalau beneran yang datang roh kan kasihan rohnya, salah dia apa sih harus datang dan pulang sendiri. Dunianya kan beda. Kalau memang setan yang datang, mau-maunya kalian bermain sama setan, nanti kalau diajak ke neraka gimana.”

Waktu SMP memainkan permainan jelangkung lagi. Kali ini bukan pakai lidi, tapi pakai koin. Jadi di hadapan pemain dibentangkan kertas berisi jajaran huruf dari A sampai Z. Nanti kalau jelangkungnya sudah datang, dia akan masuk ke koin yang dipegang oleh satu jari. Komunikasi dilakukan jelangkung dengan menunjuk huruf demi huruf hingga merujuk pada suatu kata.

Tapi selama kami memainkannya di sekolah, alhamdulillah tidak pernah berhasil. Rasa-rasanya penasaran sekali. Kenapa ada orang yang berhasil memanggil sementara kami tidak. Padahal ada banyak pertanyaan yang mau ditanyakan ke jelangkung. Hingga akhirnya kami tidak lagi memainkannya karena tersiar kabar di sekolah tetangga ada yang kerasukan saat memainkan jelangkung. Yang kerasukan itu berusaha mencekik leher teman-temannya. Hiiii.

Waktu SMA, aku dan teman-teman tidak ada yang mau memainkan permainan itu. Kalau mau tahu gebetan kita suka atau tidak, maka kita memainkan Ken Kamadonga. Permainan ini menggunakan tissue. Tissue ditaruh di meja, lalu diletakann gulungan kertas kecil (kayak buat arisan) bertulis nama gebetan di tengahnya. Tissue kemudian dilipat segitiga dan digulung kecil. Lalu gulungan tissue dipegang sedemikian rupa oleh dua telunjuk.

Manteranya: ‘Ken kamadonga can kamadongi’ (diulang-ulang) sambil tangan digerak-gerakkan maju mundur dan mata terpejam.

Kalau gebetan suka sama kita, maka hertas berisi nama itu akan keluar dari tengah tissue. Dulu sempat hebohlah sama permainan ini. Kalau sudah memainkan ini, kita tampak seperti orang bodoh. Semakin serius justru makin tampak bodoh he he.

Hingga suatu malam, saya dan adik mengetahui rahasia bagaimana gulungan kertas berisi nama gebetan bisa keluar. Hal itu tergantung dari cara kita melipat, menggulung, dan memilin tissue. Kertas bisa keluar saat tangan kita memilinnya. Sejak rahasia terbongkar, tidak ada lagi yang mengucap mantra itu sambil merem ;p

About these ads