Tags

,

Beberapa waktu yang lalu, ada teman meminta rekomendasi film-film sedih. Hmm rupanya dia lagi ingin menangisi ‘dunia’ seperti yang pernah kulakukan juga sebelumnya. Beberapa judul film pun kuajukan. Karena udah lama nggak up date film, jadi ya disodorin film-film lama or nggak terlalu baru. Nggak apa-apa, yang penting misi berhasil: menangisi ‘dunia’.

1. La Vita è Bella

“Buon giorno Principessa,” ujar Guido Orefice (Roberto Benigni) ketika bertemu perempuan yang kemudian dinikahinya, Dora (Nicoletta Braschi). Guido adalah seorang pemuda Italia keturunan Yahudi yang datang ke Arezzo untuk mendirikan toko buku. Sedangkan Dora adalah seorang guru yang berasal dari keluarga aristokrat yang kaya dan bukan Yahudi.

Setelah menikah, lahirlah Giosue’ (Giorgio Cantarini). Suatu hari Guido bersama pamannya yang bernama Eliseo dan Giousue’ dibawa ke kamp konsentrasi Nazi. Guido selalu berupaya menjaga semangat anaknya, pokoknya never let him down gitu deh, dengan mengatakan kalau kamp itu hanyalah permainan. Siapa yang mendapat 1.000 point maka berhak mendapat sebuah tank sungguhan.

Huaa air mataku berderai-derai waktu adegan seorang Jerman tanya ke puluhan orang di ruangan tempat Giudo dan Giousue tinggal, ada nggak yang bisa bahasa Jerman. Eh si Giudo langsung angkat tangan, padahal dia sama sekali nggak bisa bahasa Jerman.

Dia pun pura-pura mentranslate: “The game starts now. You have to score one thousand points. If you do that, you take home a tank with a big gun. Each day we will announce the scores from that loudspeaker. The one who has the fewest points will have to wear a sign that says “Jackass” on his back. There are three ways to lose points. One, turning into a big crybaby. Two, telling us you want to see your mommy. Three, saying you’re hungry and want something to eat.”

Ending dari kisah ini adalah Giudo tewas. Sedang Giousue’ selamat dan bertemu ibunya. Saat bertemu ibunya, bocah itu naik tank sungguhan yang dia pikir hadiah kemenangannya mendapatkan 1.000 point. “…. This is the sacrifice my father made for me….. This is a simple story… but not an easy one to tell.” Begitu narasi Giousue’ dewasa.

2. Grace is Gone

Film bergenre drama ini dibintangi John Cusack. Dia berperan sebagai ayah  yang tidak ingin memberi tahu kedua putrinya kalau ibu mereka tewas dalam tugas di Irak. Adegan yang bikin nangis di antaranya tuh waktu Cusack telepon ke rumah saat dia dan anak-anaknya lagi jalan-jalan dan pura-pura lagi ngomong sama istrinya. Yang terasa makin tragis waktu anak sulungnya tahu, ayahnya pura-pura bicara sama ibunya di telepon.

3. My Father

Film Korea kedua yang kupunya setelah Fly Me to The PolarisFly (katanya Me to The Polaris sedih, tapi aku nggak nangis sama sekali dan benar-benar nggak ngerasa sedih tuh). Film ini berdasar kisah nyata tentang anak laki-laki yang diadopsi keluarga Amerika. Dia lantas berupaya mencari orangtua biologisnya di Korea Selatan. Selama pencarian, dia bertemu ayah kandungnya yang didakwa sebagai pembunuh dan kemudian harus menjalani hukuman mati.

Daniel Henney berperan sebagai si anak adopsi, James. Dia bekerja sebagai relawan tentara AS di Korea. Dia bertanya-tanya mengapa ayahnya dihukum mati, dan kemudian dia menemukan banyak hal yang ingin diketahuinya, tidak hanya tentang ayah tetapi juga tentang hidupnya. Sedih… aku termehek-mehek sampai film selesai.

4. The Cure

Wah ini sudah pernah kutulis di sini.

5. The Kite Runner

Novel Kite Runner yang membuatku meraung-raung membuatku ingin juga menonton filmnya. Hiks, nangis juga sih nonton film ini. Kisah tentang dua bocah laki-laki yang bersahabat. Yang satu anak orang kaya di Afghan dan satunya adalah anak penjaga rumah yang kemudian diketahui ternyata satu ayah lain ibu. Mereka adalah Amir dan Hassan.

Mereka sangat akrab. Saat adu layang-layang, mengejar dan mendapatkan layang-layang adalah aktivitas yang mereka jalani bersama anak-anak lainnya. Dan Hassan adalah pengejar layang-layang yang baik. Hampir semua layang-layang putus bisa didapatkannya. Hingga ada peristiwa yang akhirnya mengubah persahabatan mereka. Kekejaman pemerintah Taliban pun menjadi bagian dari film ini.

Selain itu aku juga menangis waktu nonton My Girl yang dibintangi Macaulay Culkin and Anna Chlumsky, cerita tentang cinta pertama yang berakhir sedih soalnya mereka dipisahkan oleh kematian. Bridge to Terabithia, Saving Private Ryan, Turtles Can Fly, The Italian (waktu ngeliat anak kecil yang ingusan itu rasanya sedih dan nggak tega), Wall-E (suara Wall-E yang manggilin Eva terdengar menyedihkan), Pursuit of Happiness (biarpun happy ending), Boy In The Striped Pajamas, Pianist, dan Schindler’s List juga touching banget. Kayaknya film-film yang mengambil setting atau tema holocaust itu sedih-sedih deh.

Aku nangis juga waktu nonton Lake House dan Spiderman 3 padahal menurutku bukan kategori film sedih sih, tapi emang ada adegan yang bikin mataku maunya nangis. Waktu itu sampai diketawain partner nontonku :(

About these ads