Menangkap Lagi Sajakmu

Hipnotismu tak kunjung usai. Masih saja membuatku tak mampu berpaling. Membuatku merangkak mengumpulkan ceceran kata-katamu. Sang pencinta kata, kuabadikan lagi butir-butir aksaramu. Kutangkap lagi sajak-sajakmu yang berterbangan dalam gugus-gugus angin akhir Mei…. Seperti Kabut aku akan menyayangimu seperti kabut yang raib di cahaya matahari

Bukan Puisi Cinta Habibie Untuk Ainun

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Dalam Sepi

Seingatku aku tak pernah mengundangnya Tapi dia hadir saat itu Ketika malam menyisakan isakan Diiringi desahan bayu yang membebat erat tulangku.

Sonet 11 dan 12

Aah lagi-lagi dia. Lagi-lagi kujejak katanya. Bukan sedang ingin mencari arti dari sesuatu. Bukan sedang mencari imitasi dari pita kisah dalam tapakku. Hanya ingin mengabadikan kata-kata sederhananya dalam ketidakabadian dunia maya. Seperti yang pernah dan sering kulakukan.

Imajiner Doa

Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis “Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh. Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku.”

Puisi Untuk Si Kecil

Anakku… Bila ibu boleh memilih Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu Maka ibu akan memilih mengandungmu… Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah

Puisi Hitam

Kau duduk di sudut ruangan seperti malam-malam lalu Tumpukan kertas menggenangi meja kayu mahoni hitam yang kita beli bertahun lalu Pena berkuas mengangguk-angguk seiring anggukan kepalamu Mengukir kata dengan cipratan tinta

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Untitle

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Pramudya Ananta Toer) Aku hanya menyusun abjad Mengeja kata Dalam ruang kering Di antara belenggu kabut Tanganku menari Bukan karena kau atau dia Aku hanya  ingin menguliti serpihan waktu [...]

Puisi Gie

…. Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat Apakah kau masih akan berkata kudengar detak jantungmu kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam CINTA

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.