Posted on February 19, 2011 by nurvita indarini
Tidak perlu ada es krim dengan choco chips kesukaanku. Biarpun hanya ada segelar air putih, jika ada kamu di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu layar besar di studio bioskop kenamaan. Biarpun hanya televisi 14 inch dengan antena patahnya sudah cukup buatku asalkan kamu ada di sebelahku.
Filed under: Short Story | Tagged: cinta | 2 Comments »
Posted on May 27, 2010 by nurvita indarini
Seusai sholat tahajud, Wawan membuka jendela kamarnya. Udara segar terasa masuk ke dalam kamar sempitnya. Wawan segera melepas sarung dan baju kokonya dan meletakkannya diatas tempat tidur. Sajadahnya dia lipat dan dimasukkannya ke dalam lemari. Subuh masih sekitar setengah jam lagi. Pikirnya, dari pada tidur lagi, pasti nanti subuhnya malah kebablasan.
Filed under: Short Story | Tagged: cerpen | Leave a Comment »
Posted on May 25, 2010 by nurvita indarini
“Mak…. Aku malu. Kenapa namaku ‘Masako’? Kayak bumbu masak aja? Masa orang desa namanya Masako? Kenapa Mak?” tanyaku sore itu dengan sedikit merengek.
Filed under: Short Story | Leave a Comment »
Posted on April 3, 2010 by nurvita indarini
“Aku pergi sekarang,” kata orang berkaos hitam itu. “Apa yang kamu cari? Di sini kamu dapat semua yang kamu mau. Kamu bisa mulai mencicil apartemen seperti mereka. Kamu bisa lebih serius melihat ke depan, maksudku untuk menikah,” ujar orang satunya lagi yang berkemeja garis-garis.
Filed under: Short Story | Tagged: cerpen, hidup | Leave a Comment »
Posted on January 14, 2010 by nurvita indarini
Beberapa kali bajuku basah lantaran kehujanan. Berkali-kali aku terserang flu karena hujan. Tapi aku selalu menyukai hujan.
Filed under: Short Story | Tagged: cinta, hujan | Leave a Comment »
Posted on December 21, 2009 by nurvita indarini
http://ekstra.kompasiana.com/group/fiksi/2009/11/16/alienasi-jodoh/ Asih menikah bulan lalu. Dia adalah temanku sejak kecil. Beruntungnya dia bisa menikah dengan Alan, lelaki ganteng dan sopan yang mapan. Mereka berpacaran sejak duduk di bangku SMA. Bagi Asih, Alan adalah pacar pertamanya. Di pesta pernikahannya, Asih tampak sangat bahagia. Wajahnya berseri-seri, dan senyuman tak kunjung hilang dari bibir tipisnya.
Filed under: Short Story | Tagged: jodoh | Leave a Comment »
Posted on November 18, 2009 by nurvita indarini
Miskin. Kata itu sangat kubenci. Aku benci kemiskinan. Aku benci terlahir miskin. Ya, aku benci dengan kemiskinan yang membelit keluargaku ini. Gara-gara kemiskinan ini, aku harus puas dengan baju-baju kumal yang kumiliki, sepatu sekolah yang hampir bolong di ujungnya, dan peralatan sekolah yang sangat ala kadarnya. Apakah kemiskinan ini adalah suatu kutukan di keluargaku? Sebab [...]
Filed under: Short Story | Tagged: jakarta, kemiskinan, matahari, miskin | Leave a Comment »
Posted on September 3, 2009 by nurvita indarini
http://www.glogster.com/media/2/4/0/61/4006161.jpg 3 Tahun sudah berlalu sejak kita bertemu untuk terakhir kalinya. Aku ingat benar, saat itu sore hari, aku masih memakai baju kantorku. Kamu menungguku di sebuah restoran di pusat Jakarta. Wajah dan bajumu sedikit basah. Rupanya kau juga kehujanan. Kamu mendongak saat aku menyapamu. Seperti biasa, kamu pun melemparkan senyum. Senyum. Ya, kamu nggak [...]
Filed under: Short Story | Tagged: cerpen, cinta | Leave a Comment »
Posted on September 3, 2009 by nurvita indarini
http://yukan.dasaku.net/wp-content/uploads/2008/06/crying1.jpg Perempuan itu biasa saja. Ya, mungkin dia sedikit lebih pintar dariku tapi penampilannya tidak jauh lebih sempurna dariku. Secara fisik, mungkin aku lebih menarik darinya. Banyak yang mengatakan aku memiliki tubuh yang seksi. Aku pun mengakui hal itu. Sebelumnya aku hanya tahu sosok perempuan itu dari foto. Tidak. Dia tidak sendiri di foto itu. [...]
Filed under: Short Story | Tagged: kisah, perempuan | Leave a Comment »
Posted on August 26, 2009 by nurvita indarini
Aku sudah terbiasa bekerja dengan memanfaatkan 100 persen otak dan kemampuanku. Banyak prestasi kutoreh selama aku hidup. Kupikir itu wajar, bukankah aku selalu melakukan semuanya dengan maksimal. Bukankah setiap orang yang bekerja keras pantas mendapatkan hasil yang lebih baik? Aku selalu percaya hal itu.
Filed under: Short Story | Tagged: bersyukur, karunia | Leave a Comment »