Posted on May 30, 2010 by nurvita indarini
Hipnotismu tak kunjung usai. Masih saja membuatku tak mampu berpaling. Membuatku merangkak mengumpulkan ceceran kata-katamu. Sang pencinta kata, kuabadikan lagi butir-butir aksaramu. Kutangkap lagi sajak-sajakmu yang berterbangan dalam gugus-gugus angin akhir Mei…. Seperti Kabut aku akan menyayangimu seperti kabut yang raib di cahaya matahari
Filed under: Poem | Tagged: puisi, sajak, sapardi djoko damono | 2 Comments »
Posted on May 17, 2010 by nurvita indarini
Seingatku aku tak pernah mengundangnya Tapi dia hadir saat itu Ketika malam menyisakan isakan Diiringi desahan bayu yang membebat erat tulangku.
Filed under: Poem | Tagged: puisi | Leave a Comment »
Posted on April 30, 2010 by nurvita indarini
Kau duduk di sudut ruangan seperti malam-malam lalu Tumpukan kertas menggenangi meja kayu mahoni hitam yang kita beli bertahun lalu Pena berkuas mengangguk-angguk seiring anggukan kepalamu Mengukir kata dengan cipratan tinta
Filed under: Poem | Tagged: puisi | Leave a Comment »
Posted on April 28, 2010 by nurvita indarini
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
Filed under: Poem | Tagged: doa, puisi | Leave a Comment »
Posted on February 10, 2010 by nurvita indarini
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.. (Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono)
Filed under: Ngomong saja | Tagged: puisi | Leave a Comment »
Posted on February 10, 2010 by nurvita indarini
…. Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat Apakah kau masih akan berkata kudengar detak jantungmu kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam CINTA
Filed under: Poem | Tagged: gie, puisi | Leave a Comment »
Posted on February 9, 2010 by nurvita indarini
(Gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/3/3c/Chairil_anwar.jpg) Nama Chairil Anwar sering kubaca waktu aku mulai masuk SMP. Beberapa puisinya tercantum di buku teks Bahasa Indonesia. Aku pun pernah membaca sajak-sajaknya di depan kelas. Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta pada 28 April 1949. Dari wikipedia, hampir semua puisi-puisi yang ditulisnya merujuk pada kematian. Saat [...]
Filed under: Poem | Tagged: chairil anwar, puisi | Leave a Comment »
Posted on December 19, 2009 by nurvita indarini
http://fc02.deviantart.com/fs19/f/2007/292/3/3/33f64e6d753e3f4c.jpg Halo Ya, aku tahu itu kamu Sosok yang tak pernah sanggup kulupakan Meski seorang tiran mati namun kemudian muncul tiran-tiran lainnya Ya aku tahu itu kamu Sosok banyak senyum yang pernah menyinari ruangku Aku selalu tahu, itu kamu Aku tahu itu kamu yang pernah bersamaku mengejar matahari yang pernah hadir dalam butiran waktuku yang [...]
Filed under: Poem | Tagged: cinta, puisi | Leave a Comment »
Posted on December 6, 2009 by nurvita indarini
Halo Ini aku yang pernah mengisi hari-harimu Ini aku yang pernah bersamamu ‘melawan’ dunia menghujat para tiran Ini aku sekarang, juga aku yang dulu Aku tidak pernah berubah Ini aku, datang menyapamu tidak memintamu membuat istana bukan menagih janjimu Aku hanya mau kamu tidak menghapusku
Filed under: Poem | Tagged: aku, don't erase me, puisi, remember me | Leave a Comment »
Posted on November 25, 2009 by nurvita indarini
Kau tidak pernah sederhana Kau rumit, kompleks tidak mudah dijelaskan Kau langka tak berduplikat Aku takut
Filed under: Poem | Tagged: puisi | Leave a Comment »