Takdir

Kalau bukan keset lantas apa ketika semua beban ditimpakan di pundak? Beban finansial, sampai dominasi urusan domestik dan limpahan muka masam saat harus mengais rupiah di saat orang lain menjeda.

Ketika beban berkurang, namun lantas menanyakan komitmen karena rencana baru yang kurang realistis lantas dianggap sebagai tohokan. Seperti amnesia saat keberatan-keberatan disampaikan dengan bahasa santun, namun tidak digubris. Lalu merasa disayat saat keberatan disampaikan berapi-api.

Apakah selalu salah saat mengingatkan kewajiban? Bahkan hak pun sering diabaikan, tidak dipedulikan.

Mungkin sudah takdir harus belajar bungkam. Bungkam jika kelak kembali mendapat penghakiman yang lahir dari premis-premis tak bertaut. Bungkam jika harus tidak mendapatkan hak. Bungkam sampai tubuh berkalang tanah. Terimalah nasib.

 

Penghasilan Istri Lebih Besar, Selalu Jadi Masalah?

Zaman sekarang, sudah banyak para istri yang bekerja sehingga punya kontribusi yang besar dalam finansial keluarga. Lantas, ketika penghasilan istri lebih besar dari suami, apakah selalu jadi masalah?

Ya dan tidak. Iya, jadi masalah ketika tidak ada keterbukaan penghasilan dan pengeluaran. Jadi masalah ketika yang satu lebih boros ketimbang yang lain sehingga membuat finansial timpang. Jadi masalah ketika salah satu sibuk sendiri dengan ‘dunianya’ sehingga pihak yang lain yang merasa harus selalu ‘stand by’ ketika ada pengeluaran tambahan.

Saya pernah dapat cerita, suami istri yang bertengkar hebat gara-gara uang. Suatu kali suami pinjam uang pada istrinya yang bekerja untuk modal usaha. Setahun-dua tahun, tidak kelihatan hasilnya. Bukannya ada untung dari usahanya, si suami terus-terusan meminjam uang dari istrinya.

Sang istri pun protes karena merasa dirinya seperti mesin ATM. Kalau kata istrinya, bukannya mau itung-itungan sama suami, tapi perilaku suami yang membuatnya jadi perhitungan.

“Karena penghasilan saya lebih besar, sepertinya suami jadi mengandalkan saya untuk selalu ada uang ketika dia butuh. Sementara kalau saya yang butuh uang, saya nggak pernah minta sama dia. Kalau teman-teman saya sering cerita dibelikan sesuatu sama suaminya, saya nggak pernah menuntut seperti itu,” tutur sang istri.

Suaminya juga cenderung tidak peduli apakah istrinya masih punya uang atau tidak. Istrinya bilang, ini karena suami merasa penghasilan istrinya lebih besar jadi nggak akan pernah kekurangan uang. Sehingga ketidakpedulian akan finansial keluarga setelah dirinya merasa sudah menggugurkan kewajiban jadi muncul.

“Kami memang bagi-bagi tanggung jawab. Sekitar 60 persen gaji suami memang untuk pengeluaran wajib rutin rumah tangga. Sementara saya 20 persen untuk pengeluaran wajib rutin rumah tangga, 30 persen untuk tabungan keluarga, 14 persen untuk adik dan ibu saya, 36 persen sisanya untuk transportasi saya bekerja, makan saya di kantor, belanja rumah tangga, dan untuk bisnis yang sedang saya rintis,” jelas istri.

Lantas apa yang membuat mengganjal? “Misalnya 20 persen digunakan sebagai transport dan biaya makan suami selama dia di kantor, ada 20 persen sisanya bukan? Tapi dia nggak turut menabung. Masalahnya juga hampir setiap hari saya selalu memberi uang saku ke suami kalau dia mau ke kantor. Kalau ada pengeluaran ekstra saya juga yang sebagian besar nanggung,” papar istri.

Menurut sang istri, rasanya jadi menyebalkan ketika dirinya selalu dimintai uang ketika sisa gaji suami nggak jelas rimbanya. Apalagi pengaturan uang dilakukan masing-masing dan suami kerap menyebut ‘uangku kok gampang banget habis ya’.

“Buat saya bukan seberapa besar gajinya. Bukan seberapa besar yang dia berikan buat saya di luar uang nafkah. Tapi ketika kita punya keinginan segera menyelesaikan cicilan rumah, misalnya, ya harus sama-sama komit. Jangan cuma saya aja yang berusaha ‘keras’ pada diri sendiri untuk mewujudkan keinginan itu,”kata istri.

Yang mengesalkan, tambah istri, ketika dirinya mengingatkan suami untuk segera ikut menabung saat terima gaji demi lunasnya cicilan rumah, hal itu tidak pernah dilakukan suaminya. “Katanya kalau ada sisa baru nanti ditabung. Nyatanya apa, tiap bulan nggak pernah nabung karena katanya nggak ada sisa. Nggak tahulah ke mana uangnya,” ucapnya.

“Katanya sama-sama punya keinginan rumah cepat lunas. Kalau memang begitu mana komitmennya? Saat kami berantem, saya ingatin tentang hal ini, dia makin marah. Lalu dia ngumpulin semua uangnya, dia kasih ke saya. Apa nyelesein masalah? Justru bikin perkara karena dia kasih uang itu dengan marah, nggak ridho,” lanjutnya.

Hmm, mengomentari hal ini, saya comotin artikel dari detikFinance.

Tentukan tujuan finansial bersama-sama, baik untuk tujuan pribadi maupun tujuan bersama. Setelah menentukan tujuan, cek kondisi keuangan, sehingga terlihat kesanggupan anda dalam menabung atau berinvestasi untuk mencapai impian tersebut. Yang tidak kalah penting adalah keluarga perlu kompak dalam menentukan visi dan prioritas. Harus ada kata “SALING” dalam menentukan tujuan keuangan mana yang diprioritaskan.

Uang penting, tapi bukan yang paling utama. Meski bukan paling utama, bukan berarti disepelekan begitu saja. Bagaimanapun hidup itu butuh uang. Karena hidup butuh uang, maka butuh perencanaan. Butuh prioritas. Lalu apa yang diprioritaskan?

 

Menu Sarapan: Kentang Keju Plus Sayuran

Tags

, , , , , , ,

 

 

kentang sayung

Saya bukan orang yang hobi memasak, tapi sengaja mau menulis tentang cara masak makanan tertentu yang simpel untuk menyemangati diri. Iya, biar lebih variatif memberikan makanan rumahan buat suami dan anak tercinta ūüôā Continue reading

Garlic Bread Sederhana

Tags

, , , , , , , ,

garlic bread

Hari Minggu pagi yang cerah, saya habiskan di kantor. Soalnya ada tugas yang memang perlu saya cicil. Karena nggak sempat meninggalkan makanan yang signifikan, Taqi (1,5 tahun) kelaparan. Kata ayahnya, Taqi berdiri terus di depan kulkas minta makanan. Hiks. Continue reading