Tags

,


(Gambar: http://blog.danonenationscup.com/zidane_ambassador/)

Siapapun pasti menginginkan bertemu dengan idolanya. Makanya, saat kesempatan itu datang, tak ada seorangpun yang menyia-nyiakannya. Aku juga begitu.

“Tetot lu mau nggak liputan Zidane di Mekarsari?” tanya korlipku.
“Mau…mau…” jawabku tanpa babibu.

Hmmm, bertemu dengan orang yang pernah jadi pasukan Si Nyonya Besar Juventus adalah satu dari ribuan impianku.

Aku pun nggak sabar menunggu hari itu. Mungkin sih ngak berarti apa-apa buat sebagian orang, tapi buat aku, itu banyak artinya. Soalnya, Juventus adalah bagian hidupku. Sesuatu yang menjadikanku enggak takut bermimpi. Sesuatu yang pernah menjadikanku selalu bersemangat untuk berjalan dan melompat. Meski memang, bukan Juventuslah satu-satunya.

Setelah melalui perjalanan panjang (panjang dan lama karena sopir busnya sering nyasar), akhirnya waktunya tiba. Pas lagi asik laporan berita ke kantor, tiba-tiba di depanku bediri sosok Zidane, sebegitu dekatnya. Sayang, nggak sempet salaman. Abis tangan kananku pegang hape, dan tangan kiriku pegang kamera dan bloknote plus bolpennya.

Yup, pemain berdarah Aljazair yang lahir 23 Juni 1972 itu nyata berdiri di depanku. Tinggi menjulang dihadapanku. Di badannya yang saat itu berbalut kaos putih, beberapa tahun yang lalu pernah terbungkus kostum zebra Juve. Saat dia pernah menjadi playmaker untuk klub asal Torino, Italia itu.

Sayang aku gak sempat foto bareng Zidane. Tapi untunglah aku berhasil mendapatkan tandatangan dia (eh sekarang kutaroh mana ya he he).

Bicara soal Zidane dan Juventus, bagiku nggak lengkap kalau enggak menyinggung nama Alessio Tachinardi. Di antara semua pemain Juve idolaku, dia yang paling aku sukai. Meski banyak orang bilang dia nggak konsisten atau apalah, tapi di mataku dia tetap hebat.

Dulu aku sangat yakin bakal berada di daratan yang sama ama dia. Tapi sekarang aku lebih realistis. Meski mimpi itu masih ada, dan aku toh udah melangkah untuk membuatnya nyata. Sekarang biar waktu yang menjawab….

Anak-anak DNC

(Gambar: http://www.detiksport.com/images/content/2007/05/13/76/Danone-salomo.jpg)

Anak-anak tim Danone Nations Cup Indonesia itu tampak ceria. Mereka sangat patuh ketika diminta berdiri berjajar untuk menyambut pemain sepakbola dunia Zinedine Zidane. Jujur, aku iri sama mereka.

Kadang aku berpikir, kalau aku tidak lahir sebagai perempuan, bisakah aku bermain bola lebih sering dari yang kulakukan? Dan mungkin nggak ya aku jadi pemain bola profesional. Soalnya, selama ini aku cuma main bola waktu pelajaran olahraga zaman SMP-SMA, atau pas 17 Agustus, dan saat main sama adik-adikku. Waktu kuliah aja, nggak bisa dong aku gabung sama tim bola kampus. Semua kan cowok….

Aku duduk bareng anak-anak Tim DNC yang belum lama pulang dari Perancis itu. Kami ‘ngobrol’ dalam bahasa Perancis yang sama-sama patah-patah. Hihihihi, kupikir nggak ada guna aku les Bahasa Perancis sampe level dua, lha wong bisanya cuma nanya nama, alamat, dan kabar, juga Je t’aime….hehehehhe.

Kami terlibat pembicaraan yang seru (kalau ini pakai bahasa Jawa dan Indonesia). Apalagi kalau enggak ngomongin sepakbola.
“Kalian tahu Alessio Tacchinardi nggak?” tanyaku.
“Tahu…tahu,” jawab mereka berbarengan.
“Dia kan pernah ngirimin aku email 4 kali dalam setahun lho….”
“Yeeeeee….”mereka menyorakiku.

“Kamu Juventini bukan?” tanyaku lagi.
“Enggak ya, aku MU. Juve kan di Serie B.”
“Musim ini kan mereka dah balik ke Serie A, enak aja. Lihat aja, mereka pasti dapet scudetto.”
“Ngimpi…ngimpi,” kata anak-anak itu sambil mengacungkan thumbs down-nya.
“Iiih nggak percaya. Lihat aja. Trus ya, kalau di Liga Inggris, yang bakal juara itu Arsenal, nomor duanya Aston Villa. Trus di Spanyol, yang juara liga Barcelona.”
“Nggak…nggak..nggak…” protes mereka.

Ampun deh, dikerubutin sekitar 14 anak kalah juga dong….. Hmmm, tapi aku seneng. Selain itu masih ada beberapa anak SD yang mengerubungiku. Mereka tertarik mendekat soalnya ada ramai-ramai. Hehehehe, kayak tukang jamu.

Meski aku iri, tapi aku berdoa buat kalian. Semoga nanti, kalian bisa jadi pemain bola hebat dan berprestasi. Jangan sia-siakan bakat yang kalian miliki. Juga jangan sia-siakan kesempatan yang udah Tuhan kasih.

Aku, yang nggak akan pernah bisa jadi pemain bola ini, pasti akan selalu jadi penggemar kalian. Selamat berjuang ya adik-adik….

(Seperti kutulis di blog lamaku pada 8 Juli 2007).