Tags

,

(Gambar: NASA/Creative Commons/Joseph Brimacombe, di http://www.foxnews.com/images/510703/0_62_comet_lulin.jpg)

Langit kerap memberikan pesona luar biasa pada manusia di Bumi. Pada 3 Januari 2009 terjadi hujan meteor tahunan Quadrantid, dan yang belum lama terjadi adalah gerhana matahari cincin pada 26 Januari 2009 lalu. Pesona langit selanjutnya adalah penampakan Komet Lulin pada 24 Februari 2009 yang kabarnya bisa dilihat dengan mata telanjang.

Artikel di science.nasa.gov yang dipublikasikan pada Rabu 4 Februari 2009 menyebutkan komet berwarna hijau tersebut bakal sangat dekat dengan Bumi pada 24 Februari 2009 pagi. Saat itu Lulin berada beberapa derajat dari Saturnus di konstelasi Leo dan berjarak 0.41 AU (unit astronomi) atau 61 juta km dengan magnitudo 4 atau 5. Sebelumnya, yakni pada 10 Januari 2009 lalu, komet yang juga dikenal dengan nama Komet C/2007 N3 ini berada dalam posisi yang sangat dekat dengan matahari.

Komet Lulin ditemukan oleh mahasiswa Sun Yat-sen University, China, bernama Quanzhi Ye pada 11 Juli 2007. Sedangkan fotonya diambil oleh astronomer Taiwan, Chi Sheng Lin.

Komet ini memang tergolong sangat redup, namun lebih terang ketika mendekati bumi. Warna hijau dari komet ini berasal dari gas yang menyusun atmosfer Jupiter. Lulin memiliki bagian yang disebut koma. Koma merupakan campuran debu dan gas yang mengelilingi sekitar permukaan komet dan memancarkan cahaya paling terang. Warna hijau dari koma menunjukkan komet tersebut kaya akan kandungan cyanogen (gas beracun yang ditemukan di banyak komet) dan karbon diatom (C2).

Lulin memiliki dua ekor. Di sebelah kanan koma terdapat ekor ion, yakni pita gas yang terionisasi dan dikesampingkan dari komet tersebut oleh angin matahri. Titik-titik ekor ion hampir secara langsung menjauhi matahari.

Sedangkan di bagian kiri koma adalah ekor debu. Seperti Hansel dan Gretel yang meninggalkan remah kue untuk menandai jalan menuju hutan, Komet Lulin meninggalkan jejak debu komet. Molekul debu ini lebih berat dan keras daripada ekor ion sehingga tidak menepi meski diterpa angin matahari.

Binokuler akan memudahkan pengamatan pada si Lulin ini. Pengamatan akan semakin sempurna bila tidak terganggu polusi cahaya. Tapi semoga memang bisa dilihat tanpa alat.