(panser pindad, gambar: http://foto.detik.com/images/content/2008/08/29/157/pindad6.jpg)

Mata kuliah Innovation of Technology and Defence System ini benar-benar wow. Perche? Karena ada banyak hal baru yang aku pelajari, banyak hal-hal asing yang yang sebelumnya aku nggak ngerti dan bahkan nggak terlalu kupeduliin.

Karena bahasannya soal inovasi teknologi pertahanan jadi ya nggak jauh-jauh sama alat-alat pertahanan macam tank n panser dengan segala variannya. Biar anak-anak Cohort IV ITB ini lebih mudeng, akhirnya kuliah 5 Maret lalu digelar di PT Pindad.

Di sana dijelasin asal mula PT Pindad. Terus pihak Pindad juga ngebeberin alat-alat apa aja yang mereka produksi untuk mendukung alutsista Indonesia. Then kita diajak keliling ngeliat proses pembuatan panser. Nggak semua proses produksi dilakukan di Pindad. Seperti misalnya pemotongan besi dilakukan perusahaan lain. Dijelaskan juga kalau mereka pakai baja buatan Krakatau Steel dan mesin bikinan Renault. Renault dan Pindad memang sepertinya sangat harmonis.

Pas lagi dijelasin sama bagian Litbang Pindad, Mas Deni menarik tanganku. “Vitong, ayo sini foto sama panser,” katanya. Aku mengangguk sambil mengulurkan camdig-ku ke dia.

“Mbak, naik aja ke pansernya. Sini saya bukain pintunya. Bisa naiknya nggak?” tanya Pak Timbul dari Humas Pindad.

“Boleh ya Pak? Saya bisa dong kalau manjat-manjat begituan,” ujarku sambil memanjat ban panser 6×6 itu. Aku lalu buka pintu atap dan berpose deh.

“Boleh aja. Nanti fotonya taroh di internet ya, masukin ke detikcom,” canda Pak Timbul.

Tapi aku nggak bisa banyak gaya abis teman-teman yang lain termasuk dosen kami, Chris Couldrick, pada ngeliatin semua ke arahku. Nggak enak ih, lagi kuliah malah sibuk nampang.

Next diajak cobain senjata bikinan Pindad. Aku ikutan nembak pakai senjata jenis SS (SS1 or 2 ya, lupa…). Dor! Bidikan pertamaku meleset. Dor! Plok.. plok..plok! Teman-teman memberikan tepuk tangan waktu peluruku mengenai sasaran: balon warna biru.

Senjata beramunisi dan panser-panser itu sama sekali tidak menyeramkan. Malah aku ketagihan pengen nembak lagi. Tapi aku pasti akan berkata lain kalau aku ada di situasi konflik, perang…. Untungnya enggak.

Tentang Chris

Kupikir dosen Inovasi Teknologi dari Cranfield University yang bakal ngajar tuh Prof John Hetherington, ternyata malah Dr Chris Couldrick. Dia adalah cowok yang udah menggondol gelar doktor di usia 30 tahun. Sekarang dia 35 tahun.

Dosen ini imut, awalnya menurutku mirip pemain Liverpool yang udah hijrah ke klub lain. Siapa ya namanya… Lupa, sampai sekarang aku masih belum bisa inget. Tapi dia juga mirip Peter Parker di Spidey yang diperanin ama Tobey Maguire.

Kalau menurut Dini, Chris ini mirip sama Shrek. Ya ampun padahal Shrek itu kan gede dan ijo. Masih menurut Dini, kadang-kadang Chris juga mirip sama Mr Bean. Mr Bean sama Shrek emang mirip ya Din? Dan masih menurut Dini juga, Chris mirip ama Jim Carrey. Intinya: wajah Chris mirip banyak orang he he.

Chris nggak keliatan udah 35 tahun, malah keliatannya masih 20 tahunan gitu. Mungkin dia banyak makan sayur. Abis kata Dini orang yang suka makan sayur mukanya pasti keliatan lebih muda dari umurnya. Contoh: aku he he he. Btw muda dalam bahasa Jepang berarti waste. Jadi hati-hati dengan istilah istri muda karena bisa diartikan sebagai istri sampah ;p

Ya ampun udah 03.30 WIB. Juventus lagi maen tuh lawan Bologna. Damn! Juve ketinggalan 1-0. Eits tapi 3 menit di babak kedua, Juve bisa ngegolin lewat Salihamidzic. Bravo.

Wadaow aku belum bobok. Padahal pagi ini mo senam n lari…. Sebel juga kalau nggak bisa boboknya parah kayak gini….