(Gambar: http://media.comicvine.com/uploads/0/40/268896-164986-granny_large.gif)

Setiap orang pasti tidak akan pernah siap kehilangan. Tapi kehilangan adalah bagian dari kehidupan. Bila ada yang pergi maka pasti ada yang datang. Hal itu akan terus berlangsung karena datang dan pergi merupakan salah satu siklus dalam hidup.

Aku juga nggak pernah siap kehilangan dia, meski dia pergi dalam usia berkepala 8. Dalam usia 80 lebih itu, dia telah menjadi saksi banyak peristiwa. Dalam hidupnya dia pun telah menjalani sejumlah peran yang berbeda-beda. Bagiku, dia telah menjalankan perannya sebagai seorang nenek dengan sangat sempurna.

Nenekku ini telah membangun sebongkah potongan mozaik besar dalam hidupku. Dia yang merawatku sedari bayi hingga 3 tahun karena orangtuaku sibuk mengurus adikku yang lahir hanya terpaut setahun denganku. Dan dia lagi-lagi mendapat tanggungjawab mengurusku saat aku kuliah.

Dulu, kami kadang-kadang berbeda pendapat. Masing-masing merasa benar dan tidak mau didebat. Bila sudah begitu, aku memilih memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi, dan menyepi di suatu tempat. Tapi waktu aku pulang, aku mendapati nenek tengah menungguku di depan pintu rumah. Saat aku masuk ke rumah, makanan makan malam buatannya pun sudah menungguku.

Waktu aku sakit cacar air, dengan sabar dia menyiapkan bubur, meski aku cuma makan 3 sendok. Dia pun rajin membaluri tubuhku dengan bedak tradisional buatannya agar cacar air itu tidak menimbulkan bekas di kulitku. Aku juga kerap mendapatinya tengah menatapku khawatir saat aku demam tinggi.

Mulut nenek tak pernah berhenti komat-kamit berdoa saat hujan deras dan aku harus pergi les. Dia selalu mengingatkan agar aku nggak lupa bawa jas hujan. Dia juga pasti akan menyambutku dengan handuk saat aku pulang dalam kondisi basah kuyup.

Dia adalah orang yang paling sedih waktu aku menangis sesenggukan gara-gara tidak bisa ujian skripsi di waktu yang aku mau. Dia duduk di sampingku sambil mendoakan segala macam kebaikan dan menghiburku. Itulah yang selalu dilakukannya saat melihatku terpuruk.

Sekecil apapun luka di kulitku, dia pasti tahu. Dia juga jadi orang yang paling mengerti raut kesal yang kusembunyikan. Saat suaraku bindeng gara-gara pilek, saat aku terbatuk-batuk, saat gigiku sakit, saat perutku mules, sepertinya dia pun ikut merasakan penderitaanku. Dia akan selalu menghampiriku dengan obat dan memijat badanku.

Nenekku nggak pernah bersungut saat aku membangunkannya di tengah malam hanya untuk menemaniku ke kamar mandi. Dia dengan senang hati berbagi bantal denganku waktu aku mengeluh ketindihan atau mimpi buruk. Dia dengan senang hati memenuhi permintaan untuk memelukku demi membuang rasa takutku.

Nggak pernah aku lupa ekspresi bahagianya waktu aku dan adikku pulang ke rumahnya dengan membawa piala-piala. Kadang kulihat dia diam-diam mengelap piala-piala itu dengan kain basah.

Dialah orang yang paling khawatir waktu aku menganggur beberapa bulan usai wisuda. Kata dia, setelah wisuda aku tampak kurus. Dia pikir hal itu karena statusku yang pengangguran.

Nenekku bersorak gembira saat akhirnya aku mendapat pekerjaan. Tapi ekspresi senang itu hilang waktu tahu aku harus hijrah ke Jakarta. Dia pun berderai air mata waktu melihatku kurus kering kerontang, beberapa minggu setelah aku berjuang menaklukan Jakarta.

“Kamu kerja di Jogja aja kayak masmu (sepupuku). Dari pada kurus begitu. Kamu susah kan di sana,” kata dia kala itu.

“Aku nggak suka jadi pegawai negeri. Aku baik-baik aja kok. Lama-lama juga nggak kurus lagi,” ujarku. Nenekku rupanya masih ingin mengurusku untuk memastikan aku selalu baik-baik saja.

Tiga tahun belakangan ini aku jarang pulang ke Jogja untuk liburan. Kalau aku ke Jogja selain saat lebaran, pasti ada tujuan lain: legalisir, liputan, reuni, atau melengkapi berkas beasiswa. Tapi nggak tahu kenapa, Januari 2009 lalu aku menyempatkan diri 5 hari stay di Jogja. Itulah saat-saat terakhir aku bisa merasakan kasih sayang nenekku yang masih sehat. Dia curhat banyak hal dan seperti biasa mendoakan kebaikan buatku.

Pertengahan Maret 2009 lalu aku ke Jogja lagi karena nenekku sakit. Aku sempat menjaganya di RS. Dia tidak berubah. Dia selalu memastikan apakah aku sudah makan dan sudah mandi. Nenek memang masih memperlakukanku seperti anak-anak. Dalam sakitnya dia masih hafal benar sifatku yang serampangan. “Udah deket jamnya kamu balik ke Bandung belum? Siap-siap sekarang aja biar nggak keburu-buru. Nanti jangan ngebut.”

Aku menyalami dia dan mencium pipinya. “Makan yang banyak biar cepet sehat lho. Pokoknya harus cepet sembuh,” kataku.

“Iya,” jawab nenek tanpa menatap mataku.

Itulah terakhir kali aku melihatnya. Terakhir kali aku menyentuhnya. Terakhir kali aku bicara padanya. Karena seminggu kemudian my lovely grandma pergi. Bahkan aku nggak sempat melihat sosok terakhirnya di dunia. Aku juga melewatkan pemakamannya. Aku sampai Jogja, 9 jam setelah nenek dimakamkan. Adik dan mbakku masih lumayan, karena di Jakarta, mereka bisa mengejar pesawat terdekat sehingga menyaksikan prosesi pemakaman itu.

Rumah hangat yang pernah kami tinggali bersama itu sekarang kosong. Tapi ratusan buku milikku dan adikku masih di sana. Baju-baju kami juga masih tersimpan di lemari. Piring dan peralatan rumah tangga pun masih pada tempatnya, seperti terakhir kali dia meninggalkannya. Di tiap sudutnya, aku yakin masih ada sidik jarinya. Di rumah tempat jutaan kenangan lahir itu kini sepi, tanpa suara ceplas-ceplos perempuan tua yang bersahaja. Nenekku pergi dengan mewariskan banyak hal berharga buatku. Ti amo la mia nonna…. Sampai jumpa satu hari nanti…. (Hingga detik ini aku masih belajar mengikhlaskanmu….)