Tags

Miss Irit

gambar dari smartshopping

(gambar dari smart shopping)

Aku menatap Tara dengan heran ketika dia mengeluarkan kantong plastik kecil berisi butiran kristal halus berwarna putih dan menuangkannya ke dalam teh hangat pesanannya. Meski tahu sedang kuperhatikan, tapi dengan cuek, gadis berambut ikal itu tetap sibuk mengaduk-aduk minumannya dengan sendok.

“Ra, apaan itu?” tanyaku dengan pandangan tak lepas dari bungkusan plastik kecil itu.

“Oh ini gula pasir. Kalau bawa ini, kita bisa ngirit sampai Rp 1.000 lho. Soalnya ya, teh manis itu kan harganya Rp 2.000, nah kalau yang tawar harganya cuma Rp 1.000. Kalau mau minum tes manis ya tinggal tuangin aja gula yang kita bawa,” terang Tara.

“Jadi kamu setiap hari bawa gula pasir?” aku masih merasa janggal dengan ulah teman sebangkuku yang baru kukenal 2 hari ini, maklum baru 2 hari kami duduk di kelas 2 SMU.

“Iya,” sahut Tara pendek.

“Ya ampun Ra, hanya demi Rp 1.000 kamu ke mana-mana bawa gula pasir?”

“Aurel, jangan pernah meremehkan Rp 1.000 lho. Kalau setiap hari kamu jajan di kantin dan minum segelas teh manis, maka dalam seminggu kamu harus mengeluarkan Rp 12.000. Tapi kalau kamu hanya pesan teh tawar, maka kamu cukup bayar setengahnya. Rp 6.000 bisa ditabung,” tutur Tara sembari meminum teh manisnya.
***

Tara sibuk meruncingkan pensil 2B-nya ketika aku masuk ke kelas. “Hi Ra,” sapaku sambil menepuk pundaknya.

“Hai Rel,” balasnya sambil tetap berkutat dengan pensil dan serutannya.

“Lho kok yang diruncingin pangkal sama ujungnya sih Ra?”

“Iya Rel, ini kan two in one. Efisien,” kata Tara beralasan.

“Segitunya sih Ra,” komentarku.

“Aurel, satu pensil 2B harganya sekitar Rp 2.000. Kalau beli 2 kan harganya jadi Rp 4.000. Nah kalau pakai cara kayak gini, hanya dengan Rp 2.000 kita bisa pakai 2 pensil,” jelas Tara.

Aku diam saja mendengar jawabannya. Mungkin Tara memang orang yang sangat perhitungan dalam mengeluarkan uang. Tapi biarlah, masing-masing orang kan berbeda.
***

Pfuuh… capek juga latihan basket sore ini. Aku duduk meluruskan kaki di pinggir lapangan sambil mengelap keringat dengan handuk putihku. Tara melakukan hal yang sama di sampingku. Dea dan Ajeng, anak kelas sebelah yang juga ikut ekskul basket, tiba-tiba sudah berdiri di hadapan kami.

“Aurel, Tara, makan pisang bakar yuk di seberang sekolah,” ajak Dea.

“Mmm boleh. Kamu mau juga kan Ra?” tanyaku ke Tara.

“Iya, aku ikutan,” sahutnya.

Nggak lama kami berempat sudah duduk saling berhadapan di warung pisang bakar. Setelah beberapa menit menunggu, pesanan kami datang. 3 Pisang coklat, 1 pisang keju, 3 gelas es jeruk dan segelas air putih. Begitu mendapatkan air putih pesanannya, Tara mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya.

“Apaan tuh Ra?” Ajeng ingin tahu.

“Ini minuman rasa jeruk,” jawab Tara sambil merobek ujung plastik kemasan minuman serbuk itu dan menuangkannya ke dalam segelas air putihnya.

“Kamu bawa begituan Ra? Emang kamu dari mana?” Ajeng heran.

“Yah Jeng, Tara sih punya banyak barang tak terduga dari kantong ajaibnya,” kataku sebelum Tara sempat menjawab.

“Kantong ajaib? Barang tak terduga? Maksudnya apaan Rel?” Ajeng menatapku dengan pandangan bingung.

“Jadi begini Jeng, Tara selalu bawa bungkusan gula pasir, minuman serbuk, dan kantong plastik,” kataku sambil tersenyum.

“Lho buat apa?” kali ini Dea yang bertanya.

“Buat ngirit,” jawabku lagi sembari melirik ke arah Tara.

“Beneran Ra?” Dea memastikan.

“Iya. Sekarang kan apa-apa mahal, jadi nggak ada salahnya kan kalau sedikit irit. Lagian aku nggak rasa berat kok bawa barang-barang begini dan melakukan hal begini. Kadang buat aku uang Rp 1.000 nggak terlalu berarti, tapi buat orang lain ternyata berarti banget.”

Tara berhenti sejenak dari penuturannya. Dia mengaduk air yang semula putih itu hingga berubah warna menjadi kuning. Setelah itu, dengan sangat menikmati, Tara meneguk air di gelasnya. “Keluargaku juga sudah mulai beli barang-barang kebutuhan sehari-hari yang harganya murah tapi kualitasnya nggak jauh beda,” tutur Tara sambil membandingkan beberapa merek produk deterjen dan cairan pembersih lantai.

“Lalu selisih uang itu diapain?” Dea bertanya lagi sambil menyuap pisang kejunya.

“Kalau aku sih ditabung. Lumayanlah kalau udah banyak bisa buat beli buku atau alat-alat sekolah,” ucap Tara.
***

Suatu kali Tara datang ke rumahku karena kita harus mengerjakan tugas kelompok pelajaran sejarah bersama beberapa teman yang lain. Dia datang dengan membawa sekotak es krim dan kue coklat.

“Ra, kok kamu beli makanan ini, nggak jadi ngirit dong,” celetukku.

“Lho irit kan bukan berarti pelit Rel. Kue coklat ini bikinan sendiri. Tapi es krimnya terpaksa beli karena jarak rumahku ke rumahmu kan lumayan jauh, jadi kalau bikin sendiri takutnya lumer,” terang Tara sambil mempersilakan kami mengambil makanan yang dia bawa.

“Iya deh Miss Irit. Oh iya tuh udah aku siapin es teh juga. Kamu nggak perlu lho nambah gula yang selalu kamu bawa-bawa itu,” ujarku sambil tersenyum jahil. Wajah Tara memerah mendengar ucapanku. Tapi dia diam saja.

Tara buka suara saat melihat televisi masih menyala ketika kami sibuk berdiskusi dan mengetik dengan laptopku. “Rel, televisinya dimatiin aja sih, kan nggak ada yang nonton. Sayang listriknya,” katanya sambil mengamit lenganku.

“Mmm oke,” kataku sambil mengambil remote control dan memencet tombol sleep timer-nya.
“Rel, pencet langsung tombol power di televisinya dong. Soalnya kalau cuma sleep timer nggak akan memutus arus listrik, jadi sama aja deh kayak nggak dimatiin.”

Mendengar kata-kata Tara, Frado, teman sekelas kami yang cakep dan pintar itu menengok ke arahnya. “Wah sampai hal sekecil itu kamu perhatiin ya Ra,” komentarnya.

“Ya kan memang harus mulai dari hal-hal kecil, mulai dari sekarang, dan mulai dari diri sendiri,” Tara mengutip ucapan da’i kondang, Aa Gym.

“Aku tertarik lho sama ngirit kamu itu. Terus apa lagi ya yang bisa diirit Ra?”
“Banyak sih Do, misalnya aja kamu pakai kertas bekas yang halamannya masih kosong buat ngeprint atau buat mencatat, matiin lampu di ruangan yang enggak dipakai, matiin kran air waktu kita lagi menyabun. Ada banyak cara kok. Kalau kita konsisten pasti bisa ngirit. Dan inget Do, ngirit bukan berarti pelit.” Seperti biasa Tara langsung nyerocos panjang lebar kalau harus ngomong soal irit mengirit.

“Lho kok jadi ngebahas irit-iritan sih. Tugas kita masih belum kelar nih, nanti jadi nggak irit waktu lho,” kataku menyela pembicaraan mereka berdua.
***

Penampilan Tara memang sama saja seperti teman-teman yang lain. Bedanya tentu saja, ke mana-mana dia selalu membawa ‘kantong ajaib’ birunya itu. Kadang aku sering bertanya-tanya sebenarnya apa sih pekerjaan orang tua Tara sehingga dia harus ngirit-ngirit begitu. Bahkan Tara pergi ke sekolah saja naik sepeda. Menurutku, 2 km yang harus dia tempuh tiap pagi cukup membuat lelah kalau harus naik sepeda.

Tara sedang sibuk memotong kertas bekas menjadi dua bagian. Katanya sih buat corat-coret matematika. Saat dia sibuk, aku memperhatikannya. Di tangan kanannya melingkar jam dengan merek terkenal. Pun dengan sepatu yang dia pakai. Meski sepertinya dia hanya punya dua pasang, tapi semuanya sepatu dengan harga yang nggak bisa dibilang murah. Jadi siapa sih Miss Irit ini?
***

Rasa penasaranku atas siapa sebenarnya Tara terjawab pada pagi itu. Saat itu aku baru saja turun dari mobil yang biasa mengantar dan menjemputku ke sekolah. Saat menoleh, aku melihat Tara keluar dari mobil mewah. Wah tumben Miss Irit ini nggak naik sepeda malah diantar mobil keren warna merah.

“Ra, tumben nggak naik sepeda,” sapaku.

“Eh Rel, ban sepedaku bocor jadi terpaksa numpang ayahku, kebetulan ayahku lewat sekolah kita juga,” sahutnya.

“Itu mobil ayah kamu?” aku bertanya untuk memastikan.

“Iya. Kenapa Rel?” Tara balik bertanya.

“Ra, aku heran sama kamu. Mobil ayah kamu aja sekeren itu kok kamu mau-maunya sih ke sekolah naik sepeda. Udah itu kamu kok ngirit-ngirit kayak orang susah gitu.”

“Aurel…Aurel, aku nggak ngerasa kayak orang susah kok kalau naik sepeda atau ngirit. Aku emang hobi naik sepeda. Karena naik sepeda kan uang transportku utuh. Nah kalau soal irit itu, seperti yang aku selalu bilang, nggak ada salahnya kan kalau kita sedikit irit karena sekarang ini kan apa-apa mahal. Udah itu, kita terancam krisis energi, krisis air bersih. Ayahku juga kalau berangkat ke kantor lebih sering naik sepeda motor. Dia baru pakai mobil kalau memang bawa barang banyak atau dokumen penting.”

“Kamu tahu buy nothing day nggak Rel?” tanya Tara.

“Hah apaan tuh? Baru denger deh.”

Tara menjelaskan, buy nothing day alias hari tanpa belanja diperingati secara internasional di lebih dari 30 negara. Perayaannya dipilih berdasarkan hari yang paling memungkinkan banyak orang untuk menghabiskan waktu demi berbelanja.

“Aku baca di Wikipedia, hari tanpa belanja bertujuan memberikan kesadaran publik agar lebih peka terhadap apa yang dibeli, dan seharusnya konsumen mempertanyakan produk-produk yang dibeli dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Selain itu juga membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa dan seberapa banyak barang yang mereka beli telah berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara berkembang,” tutur Tara panjang lebar.

Kata Tara, banyak orang yang belanja barang tanpa berpikir panjang tentang kegunaan barang yang dibelinya. Sebab bagi beberapa orang, belanja sudah menjadi hobi. Padahal bila berlanja, sudah pasti membutuhkan uang yang tidak sedikit. Bahkan ada pula yang sampai isi kantongnya ludes demi menurutkan nafsu belanjanya.

“Padahal Rel, waktu kita belanja-belanja ada orang yang nggak bisa makan, nggak bisa sekolah. Parahnya ada juga yang meninggal gara-gara nggak punya uang buat berobat ke dokter. Jadi, minimal buat aku sendiri, aku nggak mau terlalu mengobral uang. Aku nggak mau terjebak sama jerat hedonisme dan konsumerisme.”

Aku merasa tersindir. Minggu lalu aku sudah beli sepatu, tapi minggu ini aku meminta mamaku membelikan sepatu baru lagi. Aku selalu mengikuti perkembangan teknologi telepon selular, sehingga tiap kali ada model baru aku selalu menganti ponselku. Aku lebih senang menghamburkan uang orangtuaku dan nggak pernah terlintas sedikitpun untuk berhemat. Bahkan aku sama sekali nggak berpikir soal ancaman krisis energi maupun krisis air bersih. Aku hanya berpikir tentang diriku sendiri, kebutuhanku sendiri. Krisis-krisis itu bagiku masih di awang-awang.

Tiba-tiba aku jadi sangat kagum sama Tara. Kupikir hanya orang dengan ekonomi kurang yang bisa mengirit, tapi ternyata Tara bisa melakukannya. Diam-diam aku bertekad akan mengubah diriku menjadi orang yang nggak hanya bisa menghamburkan uang.

“Ra, aku akan selalu matiin lampu kamar mandi kalau nggak perlu. Aku nggak akan belanja-belanja nggak penting lagi,” kataku sambil menggandeng tangan Tara.

“Lho kok tiba-tiba gitu Rel?”

“Aku juga mau coba ngirit. Paling enggak bertambah lagi satu orang kayak kamu Ra.”

“He he he, selamat bergabung jadi Miss Irit, Rel.”

“Mmm tapi aku nggak akan bawa-bawa kantong ajaib kayak kamu.”

“Kenapa? Kamu malu kalau harus ngasih gula ke teh tawar kamu atau membungkus dengan kantong plastik ayam goreng yang belum kamu makan untuk kamu bawa pulang?”

“Bukan itu alasan utamanya Ra. Karena aku bertekad cukup pesan air putih yang gratis saja saat makan. Aku nggak akan bawa pulang makanan karena semua makananku pasti akan selalu habis tanpa sisa. Kayak kamu nggak tahu aja, makanku kan banyak.”

Kami berdua tertawa bersama sambil masuk ke ruang kelas yang sudah mulai ramai. Mulai saat ini aku nggak keberatan untuk dipanggil Miss Irit seperti Tara. Aku malah bangga dengan sebutan itu.

Note: Karya ini aku ikutsertakan dalam lomba menulis cerpen remaja 2008 Lip Ice- Selsun. Alhamdulillah aku menjadi salah satu pemenang harapan utama.

menabung1