Tags

, ,

dexter-ericthe cure

eric-dex

Picture8

Belakangan nggak tahu kenapa lagi pengen nonton film yang sedih-sedih. Jadi kalau biasanya aku beli DVD kartun Jepang, sekarang aku mulai mencari-cari judul film yang direkomendasikan beberapa orang bakal menguras air mata.

Aku mulai dengan menonton Pursuit of Happiness. Lalu dilanjutkan dengan nonton John Q. Film-film itu berhasil membuatku meneteskan air mata. Dua film itu bertema hubungan ayah dan anak. Aku suka film yang begitu karena aku lagi kangen banget sama bapakku yang udah meninggalkan kami hampir 6 tahun.

Tiba-tiba aku keinget sama film yang pertama kali kutonton waktu aku SMA. Dulu aku nonton film itu di RCTI. Judulnya The Cure. Aku inget banget, dulu aku dan adikku terisak-isak di depan TV gara-gara melihat acting Brad Rendfro and Joseph Mazzello.

Karena nggak juga nemuin DVD The Cure, akhirnya aku download dari youtube dan menggabungkan ke-10 bagian film itu pakai movie editor. Ternyata film itu masih bisa membuatku sesenggukan. Tingkah Eric (Renfro) dan Dexter (Mazzello) itu bisa membuatku tersenyum dan menangis.

Aku ngerasa lucu aja waktu Eric memberi permen banyak-banyak untuk Dexter, karena berpikir Dexter terkena virus HIV lantaran kurang banyak mengkonsumsi yang manis-manis. Lucunya lagi, Eric menyuruh Dexter mencicipi coklat yang dijual di mini market sebelum mereka membelinya. Eric sembunyi-sembunyi membuka coklat. “Are we allowed to do this?” tanya Dexter.
“Of course. How else you supposed to know what you’re gonna get,” jawab Eric.

Untuk menyembuhkan penyakit Dexter, Eric meracik daun-daunan di sekitar sungai yang tak jauh dari rumah mereka. Setiap kali daun-daunan itu direbus dan airnya diminum Dexter, Eric akan selalu bertanya “How do you feel?”. Suhu badan Dexter juga selalu diukur.

Lalu contoh daun yang sudah dikonsumsi ditempel di buku disertai laporan berapa suhu badan Dexter dan apa yang dirasakan Dexter. Suatu kali Dexter pernah bertanya:  “I’ve been wondering about something. Where do bugs go to the bathroom?”
“Not on leaves,” jawab Eric.

“How can you be sure?”
“Because bugs eat leaves. Not even bugs are stupid enough to shoot on their own food.”

Peracikan daun-daunan untuk obat Dexter dihentikan ketika suatu hari Dexter keracunan. Namun upaya untuk membuat Dexter sembuh tidak berhenti. Mereka berdua pegi diam-diam ke New Orleans setelah membaca majalah yang emmberitakan bahwa seorang dokter di sana menemukan obat untuk mengobati orang yang terpapar virus HIV.

Mereka pun mengarungi sungai. Akhrinya mereka bertemu dengan seseorang yang tengah menambatkan kapalnya. Eric memberi sejumlah uang agar diantarkan ke New Orleans. Di dalam kapal mereka menemukan majalah Playboy dan melihat gambar-gambar perempuan di dalamnya.

“This doesn’t look like my mom,” ujar  Dexter.
“These aren’t moms. These are women. This is what they’re supposed to look like,” sahut Eric.

Suatu malam, kapal itu berheinti untuk beristirahat. Dexter dan Eric tidur dengan tenda di luar. Tiba-tiba Eric mendapati Dexter berkeringat saat tidur di kantung tidurnya. Eric pun memberikan bajunya yang kering kepada Dexter.  “Suppose you kept going another 18 billion light years, what if there’s nothing out there? Suppose you kept going another trillion times further, so far out you see nothing. The light from the universe would be fainter than the faintest star. Infinitely cold. Infinitely dark. Sometimes if I wake up and it’s dark, I get really scared, like I’m out there and I’m never coming back,” tutur Dexter.

Lalu Eric mengambil sebelah sepatu conversenya yang sudah butut dan menaruhnya di depan Dexter sambil berujar “Here, hold onto this when you sleep. And if you wake up and you’re scared, you’ll say, “Wait a minute. I’m holding Eric’s shoe. Why the hell would I be holding some smelly basketball shoe a trillion light years from the universe? I must be here on earth, safe in my sleeping bag, and Eric must be close by.”

Hiks, aku udah mulai nangis tuh…

Lalu, Eric terpaksa mencuri uang pemilik kapal lantaran kapal tidak segera berangkat ke New Orleans. Mereka pun mencari tumpangan hingga ke agen bus. Saat menunggu bus, mereka dikejar 2 pemuda pemilik kapal yang telah menyadari uangnya dicuri 2 bocah itu.

Saat terdesak, Dexter melukai tangannya. “My blood is poison. You can invested by HIV virus,” kata Dexter sambil mengacung-acungkan tangannya yang terluka. Si pemuda pun ketakutan dan lari pontang-panting.

Setelah itu, Dexter bertambah lemah. Eric memberikan kemeja luarnya untuk membebat luka Dexter. Sesampainya di tempat menunggu bus lagi, Dexter tertidur. Eric pun menelpon ibu Dexter untuk memberi tahu bahwa mereka akan segera pulang.

Setelah beberapa saat di dalam bus, bus pun berhenti. Eric membangunkan Dexter. “Have we arrived at New Orleans?” tanya Dexter. Tapi betapa kagetnya dia ketika turun dari bus mendapati ibunya.

Dexter pun dirawat di RS. Meskipun ibu Eric tidak mengizinkan anak itu berteman dengan Dexter, namun Eric tidak menggubrisnya. Eric bahkan dengan setia menunggui Dexter di RS. Dengan kejailan dan kenakalan khas anak-anak, mereka mengerjai dokter-dokter di RS itu. Eric pura-pura menangis karena Dexter tidak lagi bernafas. Ketika diperiksa dokter, Dexter berteriak mengagetkan. Kedua bocah itu pun tertawa penuh kemenangan karena berhasil mengerjai orang lain. Beberapa kali trik itu berhasil. Namun suatu kali, ketika mereka melakukan trik itu lagi, Dexter benar-benar tidak bernafas.

Hua… Air mataku bertambah deras.

Saat-saat paling menyesakkan adalah saat Eric menatap Dexter yang terbujur kaku di peti jenazah. Tak lama dia pun pamit pulang kepada Ibu Dexter yang sudah menganggap Eric seperti anak sendiri. Ketika itu Ibu Dexter melihat Eric berjalan sedikit terpincang karena hanya memakai sepatu sebelah. Buru-buru dia masuk ke ruangan tempat Dexter disemayamkan. Di sana dia melihat Dexter tengah memeluk sebelah sepatu Eric yang sudah butut. Sementara itu Dexter hanya memakai sepatu sebelah.

Diam-diam Eric pergi membawa sebelah sepatu Dexter. Lalu dia menghanyutkan sepatu itu di sungai tempat dirinya dan Dexter selalu bermain bersama. Hua… air mataku semakin tak terbendung.

Dialog menarik dalam film itu:

Erik: My grandmother says you’re going to hell. She says you’ll suffer external torture from a billion flames, hotter than the center of the sun.
Dexter: Hmm. She must be some kind of genius.
Erik: What?
Dexter: Well, my doctor’s really smart – he says he has no idea what happens to people after they die. If your grandmother knows she must be a genius.
Erik: She’s a clerk at K-Mart.

Linda: I’m sorry.
Erik: I’m sorry too. I shoulda tried harder.
Linda: Tried what?
Erik: To find the cure.
Linda: Come here sweetie. You did, you did. Everything that was sent in Dexter’s life was sad, alone, you made it go away. Dexter was happy to have you as a friend.

Film ini memang dibuat 14 tahun yang lalu. Bahkan Brad Renfro juga sudah meninggal dalam usia muda. Tapi film itu buat aku nggak ada matinya deh. Film itu mengajarkan banyak hal… Persahabatan, dan bahkan ketika sesuatu tidak mungkin terjadi tetap berjalan tegak untuk mencari berbagai kemungkinan…

Btw soal Brad Renfro, dulu aku and teman-teman semasa SMP pernah tergila-gila sama dia. Posternya pernah menjadi salah satu penghuni kamarku. Makanya aku sangat menyesalkan saat beberapa tahun yang lalu mendengar kabar Brad ditangkap polisi karena kepemilikan dan penggunaan narkoba. Bahkan dia meninggal juga kabarnya karena OD. Apapun, thanx ya Bradley Barron Renfro….

just eric

Picture3