Tags

, ,

gambar: http:/static.howstuffworks.comgambar: http:/static.howstuffworks.com

Cerita seram menjadi salah satu siluet dalam hidup manusia. Kadar keseramannya tentu berbeda-beda. Dan kategori seram juga tentunya nggak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Dan kali ini aku pengen nulis yang syerem-syerem versiku sendiri.

1. Waktu itu aku masih SMA kelas III. Aku pulang dari ultah temanku sekitar pukul 22.30 WIB. Karena aku tinggal di kota kecil, jam segitu udah sepiiii banget. Nah, waktu aku belok ke suatu jalan, aku lihat ada rombongan yang berjalan kaki searah denganku. Rombongan itu cukup panjang sekitar 10-15 meter.

Orang-orang yang berjalan dalam rombongan itu diam membisu. Bahkan ketika lampu sepeda motorku menyorot, tak satupun dari mereka yang bersuara ataupun menoleh ke arahku. Waktu aku mau belok ke gang menuju rumahku, rombongan itu juga memberi jalan tanpa bersuara. Tetap sunyi dan sepi. Itu rombongan apa ya. Yang jelas aku merinding ketika melewati mereka. Sayang aku nggak perhatiin apakah kaki mereka menapak ke tanah atau enggak.

2. Saat aku masih SD-SMA, aku sering mendengar suara guyuran air di kamar mandi, atau suara-suara sendok dari arah dapur. Tapi ketika kutengok tidak ada siapapun. Suara-suara itu kerap terdengar pada malam hari. Bahkan pernah aku terbangun tengah malam dan mendengar suara air di kamar mandi, ketika kutengok… Kamar mandi kosong.

3. Aku masih SD kelas V. Suatu sore, aku pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup. Maklum, usai mengikuti pesta siaga, hujannya deras banget. Sesampainya di rumah, aku ngelongok ke luar jendela sambil melepas bros-bros lambang pramuka dari bajuku. Tiba-tiba di depan wajahku ada wajah seorang nenek berambut putih dan bermulut merah menyeringai ke arahku. Aku kaget setengah mati sambil lari tunggang langgang.

“Mak Lampir…. Mak Lampir…” teriakku ketakutan. Bapakku pun segera mengecek ke luar rumah untuk memastikan sosok nenek yang hampir membuat putrinya pingsan. “Apa-apan sih It, itu kan nenek-nenek lagi numpang berteduh. Mulutnya merah soalnya dia makan sirih,” jelas bapakku. Pfuh, apapun itu di matakau saat itu, tuh nenek emang serem banget.

4. Waktu aku kuliah di Jogja, aku suka bingung kalau udah tengah malam. Soalnya aku sering nggak bisa tidur. Biasanya aku membunuh waktu dengan menulis (whatever… puisi, cerpen, surat, makalah) sambil mendengarkan walkman (belom ada mp3 player yang kecil kayak sekarang ini soale). Tiba-tiba suka kecium bau bunga yang kuat atau parfum cowok. Padahal di rumah yang aku tinggalli itu, sama sekali nggak ada cowoknya.

Beberapa kali juga kulihat bayangan hitam berkelebat tak jauh dari tempatku menulis. Di saat lain aku melihat sosok lelaki di dalam rumah. Padahal jelas nggak ada seorang lelakipun yang tinggal di rumah itu.

5. Sewaktu aku masih kerja di salah satu perusahaan news online, aku pernah melihat ‘sesuatu’ juga. Saat itu aku lagi di toilet sendirian. Waktu aku lagi cuci tangan di wastafel, melalui kaca aku melihat sosok berambut panjang duduk di kloset. “Gila, pipis kok pintunya nggak ditutup,” kataku dalam hati. Ups, waktu aku menoleh ternyata nggak ada siapa-siapa.

6. Aku masih kos di Depok waktu itu. Sekitar jam 21.00 WIB aku sama temanku keluar mau beli pulsa. Ih apaan tuh. Aku melihat sosok putih yang tinggi berdiri hadapan kami. “Meci, awas nanti nabrak,” kataku sambil menarik tangan temanku itu. Tapi temanku malah nggak lihat apa-apa.

7. Aku bangun jam 01.00 WIB dan bersiap keluar kamar mau ambil wudhu buat solat malam. Eits mataku menangkap sosok aneh di jendela dekat kamar mandi. Ada sesuatu yang besar dan tinggi bergerak-gerak. Aku melotot ke sosok ganjil itu. “Pohon apa orang sih itu. Kalau orang kok tinggi banget, ini kan lantai dua,” kataku dalam hati.

Tiba-tiba sosok yang bergerak-gerak itu diam. Jangan-jangan dia tahu aku perhatiin. Kyaaa aku nggak jadi wudhu dan malah masuk lagi ke kamar.

8. Aku di kampus sampai malam, soalnya harus ngerjain tugas yang deadlinenya keesokan harinya. Teman-teman kelompokku udah pulang dan hanya aku dan satu temanku lainnya yang mengerjakan finishing touch. Aku ngeliat sosok hitam di kayu dekat white board. Nggak jelas apakah sosok itu menatap kami atau membelakangi kami. Yang jelas, temanku itu merasa nggak nyaman dan aku merasa sedang diperhatiin.

Kami pun pindah lokasi buat ngerjain tugas. Lagi asyik-asyiknya ngerjain sambil ngobrol, aku menangkap bayangan orang yang datang dari kelas sebelah. Aku menangkap kesan ada orang yang mengintip kami. Tapi ketika kulongok ke kelas sebelah, ternyata kosong. Nggak ada orang sama sekali.

9. Ketindihan. Aku selalu merasa syerem kalau lagi ketindihan alis ereb-ereb. Soalnya waktu ketindihan, aku pernah melihat sosokku sendiri lagi tidur. Aku juga kerap mendengar suara-suara orang di kamarku saat ketindihan, padahal aku kan sendiri di kamar. Aku juga pernah melihat sosok-sosok yang tidak jelas dalam ketindihanku itu.

10. Suatu petang seusai maghrib aku dan seorang temanku berjalan di depan sekolah yang sudah sepi (tentu saja tidak ada murid, lha wong sudah menjelang malam). Jreeeng, aku melihat sesosok hitam berambut panjang di salah satu jendela lantai atas gedung sekolah itu.

11. Sebenarnya saat itu belum terlalu malam, masih sekitar pukul 23.00 WIB. Namun jalanan di sekitar kos temanku di kawasan Cisitu Baru, Bandung, sudah agak sepi. Tiba-tiba aku melihat sosok tangan anak kecil terulur di samping kakiku dari balik pot bunga besar di pinggir jalan. Sepi. Gelap. Bulu kudukku meremang.