Tags

, ,

990101-F-5502B-002

(Hercules C-130 gambar: wikipedia.com)

her(kecelakaan Hercules di Magetan, Jawa Timur. Gambar kompas.com)

Burung besi itu terbang rendah. Setelah menyambar atap rumah warga, dia menabrak pohon dan kemudian terkapar di sawah. Asap membumbung. Burung besi buatan Amerika Serikat yang usianya di akhir 20-an itu terbakar.

Lagi-lagi ada kabar duka dari angkasa Indonesia. Kecelakaan pesawat terbang kembali terjadi. Belum usang dari ingatan, peristiwa jatuhnya Fokker 27 milik AU di Bandung pada April lalu yang menewaskan 24 orang. Kini musibah terjadi lagi pada Rabu 20 Mei 2009 di Magetan, Jawa Timur. Hercules C-130 yang mengangkut 98 penumpang dan 14 kru (kompas.com) itu ‘tewas’ setelah sebelumnya sayapnya putus. Akibat peristiwa itu, 98 orang ditemukan tewas (detik.com). Beberapa orang lainnya yang terluka mendapat perawatan intensif di RS Lanud Iswahyudi, Jawa Timur.

Insiden yang menimpa keluarga Hercules di Indonesia pada tahun 2009 juga pernah terjadi. Peristiwa tersebut terjadi di Wamena, Papua, pada 11 Mei 2009 lalu. Pesawat tersebut tergelincir saat membawa logistik Pemilu 2009. Beruntung tidak ada korban jiwa.

Menurut pakar penerbangan Dudi Sudibyo, Indonesia adalah negara pertama di Asia dan kedua di dunia, setelah Amerika Serikat, yang menggunakan Hercules. Untuk keperluan pelatihan para penerbang, tenaga pengajar dari AS pun didatangkan ke Indonesia. Awalnya pesawat itu digunakan untuk melayani penerbangan sipil, yakni digunakan oleh Merpati. Pesawat yang digunakan Merpati adalah jenis L-100-30. Namun kemudian pesawat tersebut dihibahkan kepada TNI AU untuk melengkapi armada Hercules di skadron udara 17 dan 31 yang berkedudukan di Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kini Indonesia memiliki sekitar 27 unit pesawat Hercules.

Kompas.com menulis, pesawat tersebut merupakan pengangkut taktis utama bagi banyak angkatan bersenjata di dunia. Lebih dari 40 model dan jenis Hercules dipakai di lebih dari 50 negara. Pesawat yang mampu lepas landas dan mendarat dari landasan pacu darurat ini awalnya dirancang sebagai pesawat angkut pasukan, evakuasi medis, dan pengangkut barang. Ketangguhannya membuat Hercules digunakan untuk keperluan lain, termasuk sebagai pesawat perang (gunship) untuk melancarkan serangan udara, kegunaan pencarian dan penyelamatan (SAR), pendukung penelitian, pendeteksi cuaca, pengisian bahan bakar di udara, patroli maritim, dan pesawat pemadam kebakaran.

Hercules dikenal sebagai pesawat yang tangguh. Namun angka kecelakaan pesawat buatan Lockheed AS itu cukup besar. Tercatat lebih dari 140 kali kecelakaan Hercules terjadi. Pesawat itu memiliki kecepatan maksimum: 329 kn (610 km/h). Kecepatan jelajah: 292 kn (540 km/h). Jarak jelajah: 2.050 nmi (3.800 km), dan ketinggian terbang: 10.000 m. Pesawat memiliki daya angkut 20.000 kg termasuk 2-3 kendaraan tempur Humvees atau sebuah kendaraan angkut personel lapis baja M113.

Penyebab kecelakaan Hercules di Magetan masih dalam penyelidikan. Ditengarai keadaan cuaca menjadi faktor penyebab kecelakaan. Sebab dari segi mesin, pesawat yang relatif muda itu memiliki performa yang baik. Menurut Kapuspen TNI Marsda Sagom Tamboen, perawatan berat pesawat tersebut terakhir kali dilakukan pada 28 September 2007. “Sedang pemeliharaan tingkat sedang pada 22 November 1999 dan tingkat ringan 19 Mei 2009,” kata Sagom seperti dikutip dari detikcom 20 Mei 2009.

Sagom menjelaskan, engine mesin pesawat naas tersebut rata-rata berumur 800 hingga 2.603 jam terbang. Untuk baling-baling (propelar) 1.100 hingga 2.439 jam terbang.

Namun ada pula kalangan yang berpendapat, kecelakaan terjadi lantaran anggaran alutsista yang tidak memadai. Jusuf Kalla bahkan menjanjikan akan menaikkan anggaran itu bila dirinya terpilih sebagai Presiden RI 2009 ini. Meski anggaran tidak seret, namun jumlahnya masih belum signifikan. Untuk bidang pertahanan, Indonesia sebagai negara yang besar wilayahnya mengalokasikan angka yang lebih kecil bila dibandingkan dengan Malaysia, dan bahkan Singapura yang jauh lebih kecil. Pada 2006, anggaran pertahanan Singapura mencapai 4,4 milyar dolar AS dan Malaysia sebesar 3,5 milyar dolar AS.

Untuk tahun 2009, Menhan Juwono Sudarsono mengemukakan, anggaran pertahanan Indonesia adalah Rp 35 triliun. Angka ini turun dari tahun sebelumnya yakni Rp 36,39 triliun. Pemangkasan ini dikarenakan 80 persen anggaran negara difokuskan pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Kantor berita Antara pernah menulis, kebutuhan minimal Departemen Pertahanan dan TNI sekitar Rp 100,53 triliun. Dalam daftar Pagu DIPA TA 2008 TNI Angkatan Darat secara nominal mendapat porsi anggaran terbesar sekitar Rp 16,1 triliun. Namun dana tersebut dialokasikan untuk 129 satuan kerja (Satker). TNI Angkatan Laut mendapat alokasi Rp 5,5 triliun yang akan didistribusikan ke 47 satker. Sedangkan TNI Angkatan Udara menerima alokasi anggaran sebesar Rp3,98 triliun, yang didistribusikan ke-58 Satker.

Untuk Dephan, yang mendapat alokasi anggaran sebesar Rp 6,3 triliun, besaran dana itu didistribusikan hanya ke dua satker yang ada. Sementara untuk Mabes TNI, dari total alokasi anggaran yang diterima sebesar Rp 4,5 triliun, didistribusikan untuk 11 satker.

Indonesia memiliki masalah yang kompleks. Kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Namun hal itu sebaiknya jangan sampai mengabaikan perawatan alutsista yang ada. Semoga peristiwa tersebut menjadi mimpi buruk terakhir bangsa ini.