Tags

,

Nurvita Indarini – detikcom

Ruwatan

Jakarta – Bulan Suro dalam kalender Jawa dianggap sebagai bulan keramat. Ada berbagai mitos yang berkembang dalam masyarakat Jawa terkait bulan yang satu ini.

“Saya tidak tahu awalnya bagaimana sehingga banyak masyarakat yang percaya bahwa bulan Suro itu keramat karena ada bala (berkaitan dengan kesialan),” ujar pengamat sejarah Islam dari LIPI M Hisyam dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (9/1/2008).

Karena itu, lanjut dia, acara ruwatan banyak digelar saat Suro. Bentuk ruwatan ada berbagai macam. Namun hakikatnya adalah melepas kotoran, karena ruwatan berarti lepas. Kegiatan ruwatan seringkali hanya dianggap takhayul semata. Namun banyak sastrawan Jawa yang menganggap kisah itu sebagai hal yang bermanfaat dalam kehidupan, lantaran terselip nasihat maupun petunjuk.

“Saat Suro juga ada pantangan untuk menggelar hajatan, baik mantu ataupun sunatan. Masih ada masyarakat yang percaya itu,” imbuh Hisyam.

Karena dianggap mengandung bala, beberapa orang juga bersedia mandi di tujuh sungai. Seperti yang dilakukan orang-orang di Sleman, Yogyakarta. Mandi di 7 sungai juga menjadi tradisi leluhur sebagian kalangan. Sungai-sungai di Yogyakarta yang digunakan untuk mandi saat 1 Suro, yakni Sungai Opak, Sungai Wareng, Sungai Kalikuning, Sungai Tambak Bayan, Sungai Gajah Wong, Sungai Code, dan Sungai Winongo.

Karena kerap dikaitkan dengan hal gaib dan sesuatu yang luar biasa, pada bulan Suro, dilakukan juga pencucian benda-benda keramat maupun jimat seperti keris dan tombak. “Tapi saat 1 Muharam (kalender Islam) yang bertepatan dengan 1 Suro, kebanyakan orang memperingatinya dengan merenung sambil mendekatkan diri pada Tuhan,” lanjut Hisyam.

Mitos memang bukan hanya milik orang Indonesia saja. Sepertinya di berbagai belahan Bumi, mitos selalu saja muncul. Misalnya saja mitos melempar uang logam di Trevi Fountain, Italia. Konon bila sebelum meninggalkan Italia, seseorang berbalik badan dan melempar uang logam ke kolam, pasti akan kembali lagi ke Roma. ( nvt / sss )