Tags

Nurvita Indarini – detikNews

kembang-api
Jakarta – 2 Minggu lagi tahun 2007 akan berakhir. Dalam perayaan itu, pesta hura-hura kerap digelar sebagian kalangan. Saat tahun baru menjelang, banyak orang yang terjebak simbol semata.

“Karena tahun baru, ada yang beranggapan semua harus baru. Itu kan simbol semata. Padahal yang lebih penting adalah refleksi, bagaimana agar ke depannya bisa lebih baik lagi,” ujar budayawan Romo Mudji Sutrisno dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (16/12/2007).

Ditambahkan dia, banyak pemuda-pemudi yang cenderung menggelar pesta berbobot konsumtif dan hedonis saat malam tahun baru. Esensi dari tahun baru pun ibarat jauh panggang dari api.

Pesta kembang api, melek semalaman agar menjadi saksi bergantinya tahun. Semua itu adalah simbol. Kebanyakan hal hanya dilihat dari kulitnya. Karena itu, maknanya jadi sulit untuk dihayati.

“Terkadang kemajuan disimbolkan dengan pesta, padahal kemajuan itu bisa dilihat dari rasionalitas. Karena tahun baru ini dekat dengan Natal dan Idul Adha, sebaiknya dilihat sebagai anugrah yang tidak perlu dipestakan berlebihan. Sebab saat uang dihamburkan, masih ada orang yang butuh makan,” sambung Romo Mudji.

Perayaan tahun baru, sebenarnya adalah tradisi. Awal mulanya, hal itu adalah tradisi di Eropa. Cahaya kembang api dan terompet merupakan metafora dari sinar harapan. Bersamaan dengan dibakarnya kembang api, refleksi setahun juga dilakukan.

“Banyak tradisi tahun baru, tergantung tempatnya. Seperti di Italia misalnya, kalau tahun baru, barang-barang lama di dalam rumah dilempar keluar. Metafora agar yang baru masuk,” jelas pria berambut gondrong itu.

Sejarah Masa Lalu

Di masa lalu, mengutip informasi dari website Kedubes AS di Jakarta, orang-orang melakukan kebiasaan-kebiasaan untuk meninggalkan masa lalu dan memurnikan dirinya untuk tahun yang baru. Hal itu dilakukan orang Persia kuno dengan mempersembahkan hadiah telur pada Tahun Baru, sebagai lambang produktivitas. Sedangkan orang Romawi kuno saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci.

Orang-orang Romawi mempersembahkan hadiah kepada kaisar saat tahun baru. Para kaisar pun lambat-laun mewajibkan hadiah-hadiah seperti itu.

Pada tahun 457 Masehi, gereja Kristen melarang kebiasaan ini, bersama kebiasaan tahun baru lain yang dianggapnya merupakan kebiasaan kafir.

Namun pada tahun 1200-an pemimpin-pemimpin Inggris mengikuti kebiasaan Romawi yang mewajibkan rakyat mereka memberikan hadiah tahun baru. Saat pergantian tahun, para suami di Inggris memberi uang kepada para istri mereka untuk membeli bros sederhana (pin). Namun kebiasaan ini hilang pada tahun 1800-an. Meski demikian, istilah pin money, yang berarti sedikit uang jajan, tetap digunakan.

Dalam merayakan tahun baru, banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, menembakkan senapan ke udara dan berteriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.

Di Indonesia, pada tahun baru 2008, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan agar tidak digelar pesta hura-hura. ( nvt / nrl )