Tags

, ,

organizer

Buku kerja warna hitam itu berjajar bersama beberapa koleksi bukuku di rak kayu setinggi 1,5 meter yang berada di kamarku. Perlahan kuambil buku itu. Di halaman pertama buku itu tertulis ‘Buku Kerja 2006’. Meski sudah berusia dua tahun, namun buku itu masih bersih dari coretan tinta. Sedianya buku itu akan kuberikan sebagai hadiah ulang tahun untuk ayahku. Namun niat itu tak kesampaian.
***
Sejak duduk di bangku SMU, aku tinggal terpisah dari orangtuaku. Aku memilih meninggalkan kota Bandung dan melanjutkan pendidikan di Jakarta. Aku ingin membiasakan hidup mandiri dengan tinggal di kos.
“Kamu yakin bisa tinggal jauh dari ayah dan ibu?” tanya ayahku kala itu, ketika aku menyampaikan keinginanku untuk bersekolah di Jakarta.
“Yakin dong, Yah. Lagi pula Bandung-Jakarta kan nggak jauh, hanya 3 jam naik kereta,” jawabku memberi alasan.

Dengan berbekal kepercayaan penuh dari orangtuaku, aku pun berniat ingin jadi yang terbaik di sekolah. Sejak masuk ke sebuah SMU di Jakarta Selatan, aku aktif di kegiatan OSIS, Rohis, ekstra kurikuler basket, les Bahasa Prancis, dan mengikuti lomba karya tulis. Seabrek kegiatan itu membuatku benar-benar sibuk. Ketika teman-teman bermalam Minggu dengan jalan-jalan di mall atau nonton, aku memilih berjam-jam duduk di sebuah bilik di warnet. Bukan chatting atau browsing film dan lagu seperti yang biasa dilakukan teman-temanku, melainkan browsing untuk bahan-bahan karya tulis.
***

Suatu malam aku tengah mengerjakan PR kimia, tiba-tiba ponselku berbunyi. Oh rupanya telepon dari rumah.
“Assalamualaikum,” sapaku.
“Walaikumsalam. Aira kamu sehat-sehat aja kan?” tanya ayah.
“Sehat kok. Ayah, ibu, Akira juga sehat kan?”
“Alhamdulillah. Sudah makan belum, Nak?”
“Udah dong, Yah. Sekarang Aira lagi ngerjain PR.”
“Bagus kalau kamu selalu rajin belajar. Tapi kayaknya ayah nggak pernah dengar cerita kamu soal cowok. Kamu sudah punya pacar belum?”
“Aaah cowok…. Itu mah nanti aja, Yah. Sekarang Aira belum mau pacaran. Oh iya Yah, minggu depan Aira tanding basket lagi, doain ya,” aku mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya, pasti ayah doakan. Nak, kamu sudah 2 bulan ini nggak pernah pulang ke rumah ya, kita semua kangen sama kamu lho.”
“Maaf , Yah. Belakangan Aira sibuk banget, jadi susah kalau mau pulang. Janji deh begitu agak longgar langsung pulang. Aira juga udah kangen. Yah, Aira pengen makan soto ayam bikinan Ayah deh.”
“Nanti kalau kamu pulang, kita masak bareng ya. Ya sudah, kamu lanjutin belajarnya ya.”
“Ibu sama Akira mana Yah? Aira juga pengen denger suara mereka.”
“Akira nganterin Ibu ke rumah Tante Ana. Nanti kalau sudah pulang Ayah minta mereka telepon kamu deh. Ya sudah ya Nak, belajar yang baik dan jaga kesehatan. Selalu buat kami bangga ya. Assalamualaikum.”
“Insya Allah. Walaikumsalam.”
***

Sekitar 3 bulan sejak telepon dari ayah malam itu, aku mendapat kabar yang sangat mengejutkan. “Ayah kamu sudah 4 bulan belakangan ini keluar masuk rumah sakit, Ra,” kabar Tante Ana, adik ayah, melalui telepon.
“Keluar masuk RS? Memangnya ayah sakit apa, Tan?”
“Sebenarnya waktu tes medis, semua organ tubuhnya dinyatakan sehat sama dokter. Tapi ayah kamu sering banget kesakitan luar biasa di pinggangnya. Ada masalah juga sama pipisnya. Cuma kata dokter, ginjal ayah kamu masih berfungsi baik.”
“Tan, kenapa sih Aira nggak dikasih tahu soal ini. Waktu ayah telepon waktu itu juga nggak bilang apa-apa.” Aku terisak.
“Ssst udah nggak usah nangis. Ayah kamu memang nggak ingin kamu khawatir. Sebenernya tante juga dilarang kasih tahu hal ini sama kamu, tapi tante rasa kamu berhak tahu. Nah akhir pekan ini, ada baiknya kamu pulang buat lihat keadaan ayah,” saran tante Ana.
***

Sepintas tidak ada yang terlalu berubah dari fisik ayahku. Itulah yang tampak di mataku ketika aku menyempatkan diri pulang ke rumah atas saran tante Ana. Memang sih dia kehilangan sekitar 2 kilogram berat badannya, tapi dia masih tampak sehat.

“Ayah baik-baik aja kan?” Aku menghambur ke pelukan ayah begitu aku mendapati sosoknya yang tengah membaca koran di ruang keluarga.
“Aira…. Kamu pulang kok nggak kasih kabar. Ada apa?” Ayah kaget.
“Ayah keluar masuk RS kok diam-diam sih. Kenapa sih Aira nggak boleh tahu? Ayah sakit apa?” berondongku dalam tangis.

Dengan jari-jari tangannya yang besar, ayah memegang pundakku. “Ra, coba lihat ayah. Ayah baik-baik aja kan? Kadang tulang belakang ayah memang sakit, pinggang sakit, tapi kata dokter itu karena tulang ayah trauma akibat ayah jatuh waktu main bola puluhan tahun lalu. Nggak apa-apa kok. Kamu konsen saja sama belajar kamu.”

Aku menatap mata ayah lekat-lekat. Aku berusaha mencari tanda-tanda bohong di matanya, tapi tidak kutemukan. Mata itu masih saja sepasang mata elang yang membuatku nyaman, telaga yang menyejukkan, dan tempat perlindungan yang aman bagiku.
***

Akhirnya kalimat ‘ayah keluar masuk RS’ menjadi hal yang biasa bagiku. Aku hanya merasa ayah terlalu lelah dengan pekerjaannya. Meski kateter sempat dipasang untuk membantu ayah pipis, meski tabung oksigen pernah dipakai, tapi ayah meyakinkanku kalau dia baik-baik saja. Apalagi saat itu aku lagi sibuk-sibuknya dengan kegiatan OSIS yang benar-benar menyita waktuku.

“Assalamualaikum,” sapa suara lelaki yang mengangkat teleponku.
“Walaikumsalam. Ayah ya, Aira nih. Apa kabar, Yah?”
“Alhamdulillah baik kok, Nak. Kamu sehat?”
“Aira sih selalu sehat dan kuat. Pinggang ayah masih sering sakit?”
“Masih sih tapi bakal enakan kalau dipijit atau ditempel botol hangat. Sekarang ayah jadi langsing lho.”
“Oya? Jadi tambah ganteng dong. Maaf ya Yah, udah 4 bulan Aira nggak pulang. Tapi minggu depan pasti pulang kok.”
“Nggak ada pertandingan basket lagi, Ra?”
“Lagi nggak ada kok, Yah.”

Akhirnya pembicaraan kami berakhir setelah 20 menit. Seperti biasa ayah mengingatkanku untuk selalu sholat tepat waktu sebelum menutup telepon.
***

ayah-anak2

Seperti yang kujanjikan pada ayah, aku pun pulang ke Bandung di akhir pekan. Segudang cerita telah berjubel di benakku. Semua berebut untuk segera keluar dari mulutku. Aku pun tak sabar ingin membaginya dengan ayah.
Tak lama perjalanan Jakarta-Bandung yang terasa lama itu pun berakhir. Dengan sesungging senyum, aku membuka pintu gerbang dan berjalan menuju rumah. Sesosok pria berdiri di pintu seolah hendak menyambutku. Rambutnya memutih dan tampak tipis. Kulit kecoklatan yang mulai berkerut membungkus tulang dan sejimpit daging. Siapa dia?

“Aira,” panggil sosok yang nyaris tak kukenal itu.
“Ayah,” aku menghambur dalam pelukannya. Sekuat tenaga aku menahan air mata yang bersiap membanjiri pipiku.
“Ayah kangen sekali lho. Kamu lapar kan, yuk kita makan siang bareng. Tadi ayah beli mie goreng Pak Trisno kesukaan kamu.”
“Tunggu ya Yah, Aira ganti baju dulu,” ujarku sambil meningalkan ayah menuju kamar. Ibu yang baru saja kusalami, mengikutiku masuk ke kamar.
“Bu, ayah sakit apa? Kenapa jadi sekurus itu? Kenapa ayah kurusnya kelewatan.” Aku menangis terisak-isak. Tanpa aku tahu, ayah mendengar kata-kataku dari balik pintu sambil meneteskan air matanya.
***

Selama libur seminggu di rumah, aku ingin selalu dekat sama ayah. Semua hal yang menyenangkan kuceritakan. Aku senang sekali melihatnya tersenyum. Senyum di wajah menua yang menurutku senyum paling indah di dunia, mengalahkan senyum Monalisa.

Di saat lain aku memijat pinggangnya saat dia mengeluh kesakitan. Pundaknya yang dulu terasa lebar kini seolah jauh lebih kecil saat kupeluk. Ya, ayahku telah jauh berbeda dari beberapa bulan yang lalu.
Akhirnya libur seminggu itu pun berakhir. Aku harus kembali ke Jakarta, melakukan rutinitasku sebagai anak sekolah.
***

Sore itu begitu terik. Aku melirik jam tangan biruku. Pukul 15.50 WIB. Rapat OSIS yang melanjutkan pembahasan kegiatan ulang tahun sekolah hanya memakan waktu dua jam. Aku berjalan perlahan meninggalkan gedung sekolah yang sudah mulai sepi. Huh… rasanya enggan untuk langsung pulang ke kos.

“Aira, lemes banget sih. Sakit ya?” sapa Arya, wakil ketua OSIS, yang menjajariku dengan sepeda motor birunya.
“Enggak kok, nggak apa-apa.”
“Eh mau nggak ke toko buku?”

Ke toko buku? Hmm, sepertinya tawaran menarik. Aku pun nggak berpikir dua kali untuk mengangguk.
Sesampainya di toko buku, Arya memintaku menemaninya membeli alat tulis. Ketika sedang melihat-lihat, mataku tertuju pada buku kerja hitam sederhana namun menarik. Aku mengambil buku itu dan menimang-nimangnya. Entah kenapa, saat melihat buku itu aku teringat sosok ayahku. Sosok yang sederhana, bersahaja, namun menarik. Kulihat harganya, Rp 68.000.

“Mau beli buku kerja Ra?” Suara Arya mengagetkanku.
“Bukan buatku sih, tapi buat ayahku. Dia ulang tahun akhir bulan ini.”
“Wah anak yang baik ya. Mmm, yang merah marun ini lebih bagus Ra,” usul Arya sambil menunjuk buku kerja yang lain.
“Ini aja deh, soalnya kalau yang hitam ini tuh ayahku banget.” Arya mengangguk-angguk mendengar kata-kataku.
***

Ulang tahun sekolah dirayakan dengan pentas musik, bazar, dan berbagai lomba selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Acaranya benar-benar seru. Semua siswa tampak puas dengan rentetan acara ulang tahun sekolah kali ini. Kelelahan kami terbayar dengan kesuksesan acara tersebut.

Saking sibuknya aku sampai lupa kalau hari Minggu itu ayahku berulang tahun. Aku nggak akan ingat kalau buku kerja yang sudah kubeli dan akan kuberikan sebagai kado untuk ayahku tidak jatuh dari meja. Jam dinding kamarku menunjuk angka 8. Sudah pukul 20.00 WIB, nggak mungkin aku pulang ke Bandung.

Dengan perasaan sangat bersalah aku menelpon rumah. Ibu yang mengangkat teleponku. Setelah mendengar permintaanku, ibu memberikan telepon kepada ayah.
“Selamat ulang tahun ya Yah. Maaf banget Yah, Aira nggak bisa pulang. 2 Hari ini di sekolah sibuk banget, soalnya lagi ada ulang tahun sekolah. Ayah marah?” tanyaku takut-takut.
“Nggak apa-apa. Sebenarnya sih kamu dapat jatah nasi kuning juga. Tapi karena kamu nggak bisa pulang ya sudah, nggak apa-apa,” kata ayah dengan serat-serat kecewa yang ditutup-tutupi.
“Siapa yang bikin nasi kuningnya, Yah?”
“Ibu yang bikin. Tapi ayah bantu kupas dan potong timun. Nasi kuningnya pakai sambal goreng ati dan kentang kesukaan kamu lho. Ayam gorengnya juga pakai tepung,” ujar ayah dengan suara bergetar.
“Wah enak banget dong. Ayah, maafin Aira ya.”
“Nggak apa-apa.”

Setelah menutup telepon, aku pun menangis. Aku menutup wajahku dengan bantal karena tidak ingin orang lain mendengar tangisku. Aku merasa sangat kecewa pada diriku sendiri. Seharusnya aku ada di samping ayah saat orang yang kucintai itu sangat mengharap kehadiranku. Bukankah tanpa aku, acara ulang tahun sekolah juga bisa berjalan. Toh aku sudah memberikan kontribusi mempersiapkan acara itu.
***

Aku ingat benar saat itu. Aku sedang konsentrasi penuh mengerjakan ulangan kimia. Tiba-tiba ibu menelpon ke sekolah dan memintaku segera pulang. Kata-kata ibu singkat namun cukup mampu membuatku panik luar biasa.
“Ayah masuk rumah sakit lagi. Pulang sekarang juga ya Ra,” ujar ibu sambil member tahu lokasi ayah dirawat.
10 Soal kimia baru kuselesaikan separuh. Namun langsung kuserahkan kepada guruku sekaligus minta izin untuk pulang.

Tanpa berganti pakaian aku bergegas ke Stasiun Gambir. Untunglah aku tak perlu menunggu lama kereta Parahyangan yang akan membawaku pulang. Dalam perjalanan, aku kalut dan tidak tenang. Ayah memang sudah sering keluar masuk rumah sakit, bahkan belum lama sempat dioperasi lantaran kanker prostat, namun baru kali ini aku diminta untuk pulang. Segawat apa kondisi ayah?
***

Setiba di rumah sakit, aku berjalan setengah berlari menuju kamar tempat ayah dirawat. Di depan pintu kamar, aku melihat ibu, Akira, dan Tante Ana sedang duduk sambil komat-kamit. Mereka tengah berdoa. Akira, adikku yang saat itu matanya terlihat sembab, menyenggol lengan ibu saat melihatku. Ibu melambai. Setelah aku berada di dekatnya, ibu hanya menggenggam tanganku sambil terus komat-kamit. Aku yang masih kebingungan pun ikut berdoa.

Pintu kamar ayah terbuka. Beberapa perawat dan dokter yang ada di ruangan tersebut meminta kami masuk. “Dik, baca doa di telinga ayah ya,” pinta seorang perawat kepadaku dan Akira.

Kami berdua menurut. Dengan khusyuk kulantunkan beberapa surat-surat dalam Al Qur’an. “Ayah pasti kuat, Aira tahu kok. Ayah akan sembuh dan akan kerja lagi kayak dulu. Ayah juga akan lihat Aira jadi orang sukses. Jangan pernah tinggalin kami, Yah,” bisikku.

Saat itu aku berharap ayah akan segera tersadar dan memanggil namaku dengan suara khasnya. Aku mendengar suaraku dipanggil namun bukan oleh ayah tetapi oleh dokter.

“Aira, tabah ya, ayah sudah pergi,” kata dokter itu sambil memegang bahuku.
“Apa? Bohong! Dokter bohong! Nggak mau, Aira nggak mau ayah pergi. Ayah bangun! Bangun, Yah,” ratapku sambil mengguncang-guncang tubuh ayah.
“Ra, sabar ya. Jangan bikin ayah sedih di sana,” ujar dokter itu lagi.
Aku menatap nanar dokter itu. “Dokter apaan kamu? Kamu bilang ayahku kena kanker prostat. Tapi setelah dioperasi ternyata ayah masih sakit. Sekarang ayah meninggal, dan kamu bilang aku harus sabar! Dokter apaan kamu! Kembalikan ayahku!” Aku histeris.

Ibu memelukku dan mengusap-usap rambutku. “Ra, kami semua merasa kehilangan. Kami juga sedih. Tapi apa salah kalau yang punya kehidupan meminta kehidupan itu kembali. Mungkin ini yang terbaik buat ayah, agar dia tidak terlalu lama menderita karena sakit.”
***

Ayah pergi untuk selamanya, 5 hari setelah ulang tahunnya. Dia pergi tanpa pesan dan tanpa pamit. Penyesalan yang teramat sangat masih menggunung di hatiku. Penyesalan karena membuatnya kecewa lantaran lebih memilih sibuk di acara ulang tahun sekolah ketimbang berada di sampingnya meski sejenak.

Aku sangat menyesal tidak bisa memberikan buku kerja sebagai kado ulang tahunnya yang terakhir. Seberapa jauh aku berlari dan sekeras apapun aku memanggil namanya, ayah tidak akan pernah pulang untuk menerima buku kerja ini. Waktu dan ruang telah memisahkan kami.

Air mataku menetes deras membasahi buku kerja yang seharusnya kuberikan untuk ayah. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Aku pun tahu air mata penyesalan ini tidak ada gunanya. Karena itu aku berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan serupa, sejak saat itu hingga kelak….