Tags

, ,

www.holidaytoons.comhttp://www.holidaytoons.com

Umur laki-laki itu awal 30-an. Kulitnya coklat gelap terbakar matahari. Dalam gendongannya, seorang gadis kecil dengan ingus di hidung.

“Gatotkaca terbang bawa nasi, terus masuk ke gua…ayo aaa,” celoteh laki-laki itu sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulut si gadis kecil.

Dengan manja, si bocah menyuap nasi itu. Lambat-lambat, mulut kecilnya mengunyah butiran nasi bercampur udang. Tampak nikmat.

Di depan mereka, melintas pria lain paruh baya. Sarung melilit sebagian tubuhnya. Rupanya dia sedang menunggu waktu salat Ashar.

“Loh kok gendongan Pak anaknya. Aleman temen,” sapanya dengan logat Banyumas yang kental.

Si lelaki awal 30 tahun mendongak sembari senyum. “Ini lagi panas badannya. Nggak mau makan kalau nggak disuapi bapaknya,” sahut dia.

Tak lama setelah nasi dalam mangkuk licin tandas, si gadis kecil terlelap. Di keningnya tertempel daun pisang untuk mengompres.

***

Angin sore bertiup cukup dingin. Pria berkulit coklat gelap terbakar matahari yang kini usianya telah bertambah hingga menjadi awal 40 turun dari sepeda motornya. Sepeda motor laki-laki produksi Yamaha.

Dengan senyum mengembang, pria itu menenteng tas kresek hitam. Tercium aroma sedap mie goreng.

“Ayo kita makan mie goreng kesukaan kamu. Selamat ulang tahun ya. Nih taruh mienya di piring,” ujar lelaki itu pada gadis kecil 10 tahun.

“Asyik… Makasih Bapak,” sahut bocah berbaju biru itu ketika mendapat kecupan di kedua pipinya.

Tak lama, meja makan dipenuhi 4 orang. Lelaki itu bersama istri dan kedua putri kecilnya. Celoteh-celoteh mereka menyemarakkan suasana meja makan yang sederhana.

“It, kok mienya disisihin? Kenapa nggak dihabisin?” tegur perempuan akhir 30-an kepada putri sulungnya.

Si putri sulung berbaju biru itu menyibakkan poni sebelum menjawab. “Ini buat Oskar. Aku juga udah berbagi susu coklat sama dia.”

Percakapan mereka diusik ngeongan kucing berbulu abu-abu hitam. “Iya Oskar, ini makananmu,” kata si bocah sambil menaruh mie goreng di piring kertas.

Tapi tak selamanya suasana meja makan selalu hangat. Meski nasi dalam cething masih mengeluarkan asap, dan sayur masih panas, tapi suasananya sangat dingin.

Mulanya, lelaki awal 40 tahun bertanya pada putri sulung mengapa tidak mengambil ayam goreng untuk lauk.

“Nggak mau. Aku nggak mau pakai lauk,” tukas si gadis kecil.
“Bapak beli lauk kan buat dimakan, bukan buat hiasan,” timpal lelaki awal 40-an.
“Kan aku bilang nggak mau. Kan aku nggak minta dibeliin ayam,” sahut si bocah sambil menggoyang-goyangkan rambut ekor kudanya.

Rupanya kalimat ekor kuda membuat kuping lelaki itu memerah. “Ya udah, bapak nggak akan lagi beli ayam goreng. Terserah kamu,” katanya dengan suara berat.

Ekor kuda tambah memonyongkan bibirnya tanda kesal. Akhirnya dengan gerakan cepat, dia mengambil juga sepotong paha ayam, menggigit dagingnya dengan kesal. Bersamaan dengan itu, dia menyuap nasi banyak-banyak. Mulut kecilnya sulit mengunyah. Matanya merah, dia pun tersedak.

“Hueek…,” ekor kuda muntah sambil menangis. Sudah rahasia umum, tingkahnya itu disengaja. Itu bentuk perlawanan kecilnya. Perlawanan di meja makan.

***

Laki-laki awal 40 tahun itu mengendarai sepeda motornya dengan ceria. Duduk di belakangnya, gadis kecil ekor kuda. Mereka berhenti di pasar.

Sambil menggandeng tangan mungil ekor kuda, mereka mendatangi tukang ikan. Saat asyik melihat ikan pesanannya dibersihkan, seseorang datang menegur.

“Wah belanja Pak?” sapa sepasang suami istri berpakaian kembar, serba putih. Rupanya mereka usai olahraga.

“Iya, nih si sulung minta ikan,” jawab lelaki awal 40-an.
“Wah sudah besar. Ini yang kemarin ikut lomba siswa teladan ya?” tanya si putih perempuan berambut ikal.
“Iya, juara 2 jadi nggak bisa maju ke kabupaten,” kata lelaki awal 40-an sambil menatap bangga putri kecilnya.

Saat pulang ke rumah, genggamannya pada putrinya makin erat. Seolah tak ingin lepas.

“Aku mau lontong sate Pak,” pinta si bocah saat melewati penjual sate.
Dengan senang hati laki-laki itu memenuhi permintaan putrinya.

***

Ini hari bersejarah bagi lelaki berkulit coklat tua dengan umurnya yang sudah pertengahan 40. Sebab si sulung telah lulus SD dan bersiap memasuki SMP.

“Nanti bapak antar ambil formulir di SMP Favorit ya. Kamu tunggu di rumah, nanti siang bapak jemput,” kata si lelaki sembari mengusap rambut si sulung.

Cepat-cepat gadis kuncir kuda menggeleng. “Aku mau ambil sendiri aja sama teman-teman. Udah janjian Pak. Boleh ya,” pintanya manja.

Pria pertengahan 40 mengalah. “Ya udah, ini ongkos naik angkotnya ya,” katanya sambil memberi selembar uang Rp 5.000.

Ingin rasanya pria coklat tua itu mengantarkan anaknya mendaftar ke SMP Favorit. Ternyata harapan terwujud saat si sulung akan mengembalikan formulir pendaftaran. Meski hari itu putrinya membuat dia sedikit kesal.

“Pak, ada kertas formulir yang kelupaan,” kata putri sulung takut-takut.
Maklum, sebelum mengantar putrinya menyerajkan formulir, pria coklat tua harus ngantor dulu. Dan saat ini, dia tengah berkutat dengan pekerjaannya.

“It, bapak itu nggak cuma ngurusin kamu aja. Kamu itu harus tertib dong biar nggak kerja 2 kali,” tegur pria itu.
“Maaf pak.”

Akhirnya masalah selesai dengan diantarnya si sulung mengambil kertas yang tertinggal oleh teman lelaki coklat tua.

Pada saat pengumuman penerimaan siswa baru, lagi-lagi si sulung datang bersama coklat tua. Wajah bulat sulung pias tak mendapati nomornya.

“Yah… nggak ada,” bisik sulung lirih, bergetar menahan tangis.
“Nggak ada gimana. Ini nomor kamu,” kata coklat tua sambil menunjuk sebuah nomor. Senyum bangga terukir di wajahnya.

Selama 3 tahun di SMP, beberapa kali pria coklat tua mondar-mandir di bangunan itu. Paling banyak lantaran menjemput putrinya dari kegiatan pramuka.

Dengan penuh senyum, pria coklat tua itu juga kerap menjemput si sulung saat berlatih lomba baris dan lomba upacara. Suara putrinya saat membaca UUD 1945 dari pinggir lapangan membuat dadanya bergetar.

Saat melihat si sulung dengan ekor kuda menghampirinya, mata pria coklat tua memerah. Putrinya begitu kurus, kulitnya pun hitam kemerahan terpanggang matahari. Maklum latihan baris dan upacara selalu dilakukan di bawah terik matahari.

“Nilaiku fine-fine aja kok. Tapi kalau matematika ya gitu deh….” ujar si sulung tiap kali ditanya soal hubungan kegiatan sekolah dan nilai-nilai pelajarannya.

Suatu ketika, di tengah malam, Coklat Tua terbangun. Suara dari ruang tamu membangunkannya. Ternyata keributan itu bersumber dari si Sulung.

Pria Coklat Tua melongok. Tampak si Sulung melolong-lolong sambil bergaya. Sedang membaca puisi rupanya.

“It, dah pagi ini. Kamu nggak bobok?” tegur Coklat Tua.

Si Sulung Ekor Kuda kaget. Dia tersenyum. “Besok aku lomba baca puisi, Pak. Mepet waktunya jadi nggak sempet latihan,” kata bocah itu.

Esok siangnya, sepulang dari kantor, pria Coklat Tua melihat si Sulung sudah bertengger di kursi teras. Di tangannya ada majalah Bobo. Sedangkan di sampingnya bertumpuk buku tugas.

“Gimana lomba baca puisinya?” tanya Pria Coklat Tua.
“Juara 4. Abis di tengah-tengah aku lupa. Padahal jurinya dah terpesona gitu, Pak….”
“Halah ge er kamu.”
***

Waktu serasa cepat berlalu. Usia pria berkulit coklat tua itu semakin bertambah. Juga putri sulung yang beranjak dewasa.

Meski si sulung gagal masuk SMU paling favorit, kebanggaan coklat tua tak berubah. Dia percaya, kelak putrinya akan meraih bintangnya dengan jalannya sendiri.

Sore itu cukup cerah dengan hembusan angin sepoi meniup daun-daun jambu. Menempelkan serbuk sari ke kepala putik. Kelak, jambu putih akan muncul sebagai hasil pembuahan.

Coklat tua menyimpan senyum saat si sulung dan putri tengah sedang menghayal.

“Nanti aku mau ke Italy, nonton Juventus di Delle Alpi. Terus aku nungguin pemain Juve yang lagi latihan di Comunale. Kan ada Tacchinardi tuh, aku kasih dia handuk…. Senangnya,” celoteh si sulung.

Putri tengah tak mau kalah. Dengan antusias, dia ceritakan mimpinya. “Iya, trus Tudor sama aku jalan-jalan ke Venezia,” tukasnya.

Coklat tua tahu benar keinginan 2 putrinya. Dia pun memahami cita-cita keduanya untuk menjadi diplomat agar bisa bekerja sekaligus tinggal di berbagai negara. Senyumnya makin mengembang saat tahu 2 putrinya membeli 2 buku belajar Bahasa Italia.

“Semoga Nak. Kelak kalian pasti bisa berada di daratan yang sama dengan pebola idola kalian. Kalian pasti bisa menjelajahinya,” ujar coklat tua dalam hati.

Karena letak sekolah si sulung dengan kantor coklat tua berdekatan, mereka sering berangkat bersama. Dengan agak ngirit, maka uang untuk membeli pernak-pernik sepakbola semakin gampang.

Di atas rak buku kedua putrinya, Coklat Tua melihat berbagai majalah dan tabloid sepakbola. sedangkan di kamar mereka, poster-poster artis berubah jadi rentetan pemain bola.

“Udah tuker aja pin up Arkarna sama Phillip Neville.” Samar-samar terdengar obrolan kedua putrinya dari ruang tamu.

Pernah Coklat Tua melarang putri-putrinya menonton pertandingan sepakbola di televisi. Hasilnya, keesokan paginya dia melihat kedua bocah itu bangun dengan mata sembab.

“Aku malah gak bisa belajar kalau gak nonton bola ama F 1,” kata si Sulung.

“Ya sudah. Tapi harus pinter ya,” Coklat Tua mengalah.
“Pasti dong.”

Coklat Tua melarang putrinya begadang bukan tanpa alasan. Si Sulung sering tak tidur semalaman gara-gara bola dan balap mobil. Orangtua manapun pasti khawatir dengan kesehatan dan prestasi sekolah anaknya.

Belum lagi aktivitas les dan OSIS yang menyita waktu. Untung putrinya menepati janjinya. “Pak, lihat nih, aku 3 besar,” ujar si Sulung memamerkan rapornya kepada Pria Coklat Tua.

Suatu kali, pria coklat tua meringis melihat buku-buku jari tangan kanan si sulung luka-luka. Luka itu masih baru. Tapi putrinya tak peduli sama sekali dengan lukanya.

“Oh luka ini. Aku nonjokin tembok. Kesel sih Juve kalah sama Real Madrid. Tacchinardi juga sedih banget tuh,” ucap gadis itu sambil mengibas-ngibaskan tangan.

Dia kesal karena klub bola favoritnya, Juventus, bertekuk lutut di kaki Real Madrid. Alhasil, piala Liga Champion urung diboyong ke Delle Alpi.

***

clipart.comclipart.com

Telepon dari laki-laki berinisial E itu kerap menyambangi rumah Pria Coklat Tua. Yang dicari: sulung ekor kuda.

Kalau sudah ngobrol, mereka bisa berjam-jam. Sulung pernah meninggalkan embernya begitu saja padahal aktivitas siram bunga sorenya belum kelar. Aralnya sudah pasti: telepon si E.

Tak jarang, Sulung mandi di atas pukul 19.00 WIB. Gara-garanya: telepon si E.

“Kakiku nggak apa-apa kok. Biasa kali, jatoh pas main bola.”
“Mean itu kan kan sigma n per n. Idih bisa-bisanya kebalik.”

Itulah cuplikan omongan Sulung yang berhasil didengar Pria Coklat Tua. Terkadang suara cekikikan juga terdengar. Siapakah E? Bila Sulung izin menonton sepakbola kelasnya atau pergi bermain, apakah bersama E?

“Enak aja banting-banting telepon. Sok banget sih. Besok kalau E telepon aku nggak mau angkat,” teriak sulung ekor kuda suatu kali.

Tidak ada yang berani bertanya sebab kemarahannya. Gadis itu memang mengerikan kalau sedang marah. Semua dibanting. Untungnya masih tahu diri dengan tidak membanting barang pecah belah ibunya.

Saat yang lain, Pria Coklat Tua menemukan gambar laki-laki berkacamata. Di atas gambar tertulis nama anak laki-laki berinisial: *.

Gambar itu dicoret-coret tulisan bertinta merah. “Nyebelin. I hate you. 11 Tahun is Nothing. Sebel. Pergi Sana.”

*… Adalah nama yang sering disebut-sebut Sulung Ekor Kuda sejak beberapa tahun lalu. * pernah beberapa kali datang ke rumah. Coklat Tua tidak perlu bertanya untuk memastikan apakah keduanya saling suka. Sorot mata mereka berdua bercerita banyak.

Sejak menemukan gambar itu, Coklat Tua kerap melihat Sulung Ekor Kuda melamun, tidak konsentrasi.

Hal itu semakin parah saat Coklat Tua menemukan gambar lelaki berinisial I dengan tulisan Good Bye. Saat itu Coklat Tua bahkan mendengar putrinya ditegur di kelas karena tidak memperhatikan gurunya.

Meski serampangan, Sulung Ekor Kuda cukup tertib. Dia tidak suka barang-barang yang tidak diletakkan di tempatnya.

Tapi, suatu pagi, Coklat Tua menemukan pembalut di kamar mandi. Sebelumnya, Sulung Ekor Kuda yang cebar cebur di kamar mandi. Jadi bisa dipastikan pemiliknya.

Coklat Tua tidak mau membuat putrinya malu. Pria itu pun bersikap wajar. Bahkan pagi itu dia mengantar putrinya ke sekolah.

Keceriaan ekor kuda raib berhari-hari. Namun pagi itu, senyum gadis itu muncul lagi. Saat masuk gerbang sekolah, langkahnya sejajar dengan laki-laki berseragam putih abu-abu pula. Itulah E, potongan mozaik lain dalam hidup Ekor Kuda.

Ekor Kuda bukan hanya gampang marah. Tapi dia juga mudah menangis. Air matanya tak pernah surut saat Coklat Tua masuk RS.

“Bapak udah baikan tapi masih harus istirahat di RS. Selamat ulang tahun ya,” kata Coklat Tua pada Sulung lewat telepon.

Terdengar suara terisak. “Makasih Pak. Cepat sembuh ya. Tadi makan-makan di sekolah. Trus pulangnya disiram air selokan,” cerita ekor kuda dengan suara bindeng.
“Wah kamu bau dong. Ada yang antar kan?”
“Enggak. Kelasku pulangnya gasik.”
***

“Anakku kuliah di Jogja.” Kata-kata itu diucapkan Coklat Tua tiap kali teman-temannya menanyakan di mana putri sulungnya. Hmm, sudah makin besar. Uban di rambut Coklat Tua pun bertambah.

Dari surat-surat yang dikirim Ekor Kuda ke rumahnya di Cilacap, Coklat Tua tahu putrinya sibuk les usai kuliah. Menginjak tahun kedua Sulung kuliah, Coklat Tua masuk RS lagi. Dia dirawat di RS dr Sardjito Jogja.

Pinggang dan punggungnya kerap nyeri tak tertahankan. Dokter menyebut, tulang belakang Coklat Tua trauma akibat jatuh puluhan tahun lalu.

“Aku ikutan kegiatan BEM Pak,” kata Sulung sambil menyuap jeruk ke mulut Coklat Tua.
“Kuliahnya gimana?” tanya Coklat Tua sambil memandang punggung tangan putrinya yang menghitam. Hitam disengat baskara Jogja.
“Gak ganggu kok. Jadi sekarang aktivitasnya banyak. Ikut diskusi di univ laen, les, kegiatan kampus juga,” cerita Sulung yang kini berkerudung.

Seminggu kemudian, Coklat Tua meninggalkan RS dan tinggal beberapa hari di rumah mertuanya di Jogja. Rumah tempat putrinya bernaung saat kuliah. Namun penyakitnya belum juga sembuh. Nyeri itu makin tak tertahan.

Ingin rasanya Coklat Tua tak menjerit kesakitan. Dia tak ingin putrinya menatap ke arahnya dengan berurai tangis. Tapi apa daya. Sekuat tenaga dia menahan rasa sakit saat tangan mungil putrinya memijit punggungnya.

Suatu sore, Coklat Tua melihat Ekor Kuda dengan pakan kotor. “Menang main bolanya?” tanya dia.
“Iya dong. Aku ngegolin tadi. Nih sampai lecet-lecet,” sahut Ekor Kuda bersemangat.

Melihat putrinya bersemangat, semangat Coklat Tua pun menggelegak. Dia menyerahkan kotak berisi sandal untuk kedua putrinya. Sandal sederhana untuk dipakai les.

“Tadi bapak beli? Emang punggung bapak nggak sakit?” Ekor Kuda kaget.
“Alhamdulillah enggak. Kalau nggak suka, dituker aja,” kata Coklat Tua sambil memalingkan wajah.
“Wah aku suka kok. Ngapain ditukar,” tukas gadis itu sambil menjajal sandal model japit bertuliskan Revanas. Dia melebih-lebihkan kegembiraanya.

***

Beberapa bulan berlalu. Coklat Tua telah kembali ke kediamannya di Cilacap. Tak pernah dia beri tahu putrinya, soal nyeri yang tak juga hilang.

Namun dia tetap memantau aktivitas putrinya. BEM, les Prancis, lomba baca puisi bahasa Jawa.

“It, sekarang bapak langsing lho,” ujar Coklat Tua kepada Ekor Kuda di telepon.
“Oya? Udah nggak gendut? Bagus dong,” sambut Ekor Kuda tak sabar melihat penampilan Coklat Tua.

Keinginan itu menjadi nyata. Beberapa hari menjelang puasa Ramadhan berakhir, Ekor Kuda ikut menjemput bapak ibu dan adik bungsunya untuk lebaran di Jogja.

Dari dalam mobil, Ekor Kuda melihat sosok tua kurus berdiri di pintu menyambutnya. “Siapa itu,” batin Ekor Kuda.

Ternyata sosok itu adalah Coklat Tua. Perut buncitnya khasnya hilang berganti dengan seraut wajah tirus nan pucat. Bibirnya kering setengah terbuka. Ada air di sudut matanya.

Ekor kuda menyalami Coklat Tua tanpa berani menatap wajahnya. Coklat Tua pun idem. Buru-buru Ekor Kuda menghambur ke kamar. Dia menangis terisak-isak. Hanya dalam 3 bulan, sosok fisik ayahnya berubah seperti laki-laki tak dikenal.

***
Matahari Fitri masih terasa. Sinarnya masih membebat dengan kehangatan kasih.

“Bapak nggak suka kaos ini It. Buat kamu aja ya. Ini kan kecil. Masak laki-laki pakai pink,” kata Coklat tua suatu pagi.
“Itu bukan pink ah. Lagian gambarnya motor,” sahut Ekor Kuda menahan perih hatinya.
“Tapi bagus dipakai kamu. Kamu kan putih,” timpal Coklat Tua.
“Iya deh, buat aku pak,” ujar Ekor Kuda akhirnya sambil tersenyum menahan pedih. Bahkan, di saat sakitnya, Coklat Tua membeli kaos untuk dirinya sendiri namun warnanya malah pas di kulit Sulung.

Tak lama, Coklat Tua bersama istri dan anak laki-laki bungsunya bertolak lagi ke Cilacap. Saat itu, selama beberapa bulan, Coklat Tua keluar masuk RS lagi.

Atas permintaan Coklat Tua, putri-putrinya di Jogja tidak diberi kabar soal kesehatannya. Hingga suatu hari, Ekor Kuda pulang ke Cilacap.

Dia sempat memboncengkan Coklat Tua untuk mengurus perpanjangan STNK sepeda motor mereka. Sepanjang jalan, Ekor Kuda diam-diam menangis. Meski tersapu angin, kadang air asin itu jatuh juga di sudut bibirnya.

“It, bapak mau makan sop di dekat lampu merah. Nanti berhenti di sana ya,” pinta Coklat Tua. Ekor kuda mengangguk.

Hanya Coklat Tua yang makan sop buntut. “Kan aku nggak suka sop begituan Pak,” kata Ekor Kuda saat Coklat Tua menyuruhnya memesan makan serupa.

Pahit. Kuah sop gurih itu terasa pahit bak empedu di lidah Coklat Tua. Tapi demi menghapus air mata diam-diam putrinya, Coklat Tua makan dengan lahap.

“Tuh kan bapak makannya banyak,” cetus Coklat Tua sambil menyendok nasi. Ekor kuda manggut-manggut sambil berusaha menampilkan senyum terbaiknya.

Air mata Ekor Kuda kian santer saat kateter dipasang untuk membantu pipis Coklat Tua. Untuk ke belakang saja Coklat Tua kepayahan.

“Itu Si Sulung abis dapat beasiswa. Sekarang jadi Sekretaris BEM, trus lagi nyiapin magang di UNIC Jakarta,” kata Coklat Tua kepada temannya yang datang membesuk dengan bangga.

Bukan sesuatu yang luar biasa. Namun anak selalu menjadi kebanggaan orangtuanya.

***

clipart.comclipart.com

Sakit Coklat Tua tak kunjung sembuh. Dia lantas dilarikan ke RS Klaten. Vonis: kanker prostat.

Sebelum palu vonis diketuk, tabung oksigen sempat dipasang untuk membantu Coklat Tua bernafas. Matanya cekung. Ekor Kuda tak berani menatap.

“Gimana ya, bapak sakit. Aku harus studi ekskursi ke Jakarta. Apa aku batalin aja ya, tapi aku jadi ketua rombongan,” curhat Ekor Kuda pada ibunya.

Perempuan pertengahan 40 tahun itu menggenggam tangan putri sulungnya. “Bapak nggak apa-apa kok. Bapak pasti nggak suka kamu gak jadi berangkat. Buat kami bangga ya,” kata perempuan itu.

Ekor kuda mengangguk. Akhirnya dia pergi juga ke Jakarta dengan rombongan studi ekskursinya. UNIC, Aminef, Istituto Italiano di Cultura, Kedubes Jerman, UE, ADB, telah dikunjungi. Topik terorisme diangkat sebagai isu diskusi. Namun separuh hati Ekor Kuda tertinggal di RS swasta di Klaten.

Operasi prostat Pria Coklat Tua dilakukan saat ulang tahun Ekor Kuda. Dalam igauannya, ulang tahun putrinyalah yang disebut-sebut Coklat Tua.

Syukur, operasi lancar. Namun usai operasi, Coklat Tua malah tak bisa berjalan. Bahkan untuk duduk saja, dia kesakitan. Meski begitu, dia meninggalkan RS menuju rumah orangtuanya, tak jauh dari Candi Prambanan.

8 Oktober tahun itu adalah ulang tahun Coklat Tua ke 50. Sebuah organizer dibeli Sulung dan Tengah untuk kado. Mereka berharap Coklat Tua bisa segera menggunakan organizer itu saat kembali ke kantor.

Nasi kuning lengkap dengan irisan telur dadar, orek tempe, perkedel, dan ayam goreng disiapkan Coklat Tua untuk 2 putrinya. Namun hingga malam, yang ditunggu tak data juga. Aktivitas BEM membelenggu mereka saat itu. Organizer itu pun urung diberikan.

***
Setahun berlalu begitu cepat. Lebaran datang lagi. Coklat tua sudah bisa berjalan, menyapu. Namun kesehatannya masih seperti roller coster.

“Kalau kamu lulus nanti, trus mau kuliah lagi ya langsung aja kuliah, nggak usah nunggu-nunggu,” ujar Coklat Tua.
“Aku mau kuliah tapi nggak pakai uang bapak sama ibu,” kata Ekor Kuda.
“Pakai uang siapa?” Coklat Tua mengerutkan kening.
“Duitku sendiri, atau enggak beasiswa,” jawab gadis itu sambil membetulkan kerudungnya yang miring.

25 Desember tahun itu, ada sesuatu yang terasa lain. Coklat Tua meminta maaf pada istrinya. Dia pun terlihat lebih manja dari biasanya.

“Babe, kamu harus kuat. Jangan nyerah. Anak-anak masih butuh kamu,” ujar perempuan pertengahan 40.
“Iya Pak. Aku udah ujian proposal. Januari aku mau wisuda lho. Bapak harus datang ya,” kata Ekor Kuda.
Coklat tua diam. Di sudut matanya air mata menetes. Dia tak berkata apapun dan tak menjanjikan apapun.

3 hari kemudian, jarak yang tak bisa diciutkan dengan kendaraan apapun membentang. Coklat Tua pergi tanpa pesan dengan wajah damai dengan iringan Ayat Qursi di kedua kuping yang dilantunkan 2 putrinya.

Tangis pecah. Kesedihan membekap jiwa. Figur ayah itu pergi, tak akan kembali.

***
Sepeninggal Coklat Tua, Ekor Kuda tidak menyentuh skripsi yang tengah di susun. Tiap hari dia pergi ke perpustakaan kampus, tapi untuk membahas skripsi teman-temannya.

Wisuda Januari berlalu tanpa nama Ekor Kuda. Dalam 3 bulan, Ekor Kuda malah sibuk ikut lomba karya tulis.

Menjelang ujian skripsi, dia tergopoh-gopoh menyerahkan skripsi yang dibuat dalam semalam.
“Bimbingan juga kamu,” sambut dosen pembimbing 2 Ekor Kuda.
“Iya Pak. Saya mau ikut pendadaran bulan ini.”
“Tapi kamu kan nggak pernah bimbingan,” dosen berkepala agak botak itu geleng-geleng.
“Pak, tolong dong. Kalau ada yang harus dibenerin, saya benerin sekarang, Pak.”
“Hmm, ini masih dangkal nih. Kurang menunjukkan pengaruh ekonomi yang membuat orang Albania move ke Italia,” ucap dosen itu sambil mencoret-coret lembaran skripsi yang diajukan.
“Oke Pak, aku bikin siang ini. Sebelum bapak pulang, udah jadi.”
“Loh, tapi kamu kan harus cari data lagi.”
“Aku bisa kok Pak. Tunggu ya Pak, permisi,” pamit ekor kuda tergopoh-gopoh menuju rental komputer di belakang kampus.

Dosen itu hanya terbengong-bengong melihat Ekor Kuda yang bak orang kesurupan.

Ekor Kuda melangkah cepat. Baginya tiap detik begitu berharga. “Nah ini dia orang jenius itu yang enggak tidur sehari semalam buat bikin skripsi,” seseorang yang biasa dipanggil Kakak oleh Ekor Kuda menghadang di bawah tangga.

“Kak, ada masalah? Kupikir kamu yang paling tahu apa yang aku pengen,” Ekor Kuda gusar.
“Heh orang gila, kamu nih nekat ya. Nggak makan, nggak tidur. Mau mati?” kata Kakak galak.
“Dengar ya Kak. Aku nggak peduli orang bilang apa. Aku enggak merugikan siapapun. Aku dah nyia-nyiain berapa menit nih buat berdebat. Udah ah,” Ekor Kuda kabur.

Kakak hanya angkat bahu sambil geleng-geleng kepala. Dia pun melangkah gontai menuju Supra dengan nopol BK-nya.

Beberapa jam kemudian, yakni 5 menit menuju pukul 17.00 WIB, Ekor Kuda datang lagi ke ruang dosen. “Pak ini udah selesai. Lampiran, semua dah lengkap,” ujarnya pada dosen pembimbing 2.
“Wah kamu nggak main-main ya. Emang mau ngapain sih wisuda April?” tanya dosen itu sambil membuka-buka skripsi.
“Karena aku ingin April,” tegas Ekor Kuda.
“Saya harus baca dulu nih. Udah gitu belum diperiksa pembimbing lainnya. Saya usahakan kamu bisa ikut ujian. Tapi maaf, sepertinya 99 persen nggak bisa,” dosen itu sibuk memilih kata.
“Aku masih punya 1 persen kan Pak. Aku berharap sama yang 1 persen itu,” tukas Ekor Kuda.

Dosen itu menggaruk-garuk kepalanya. Rupanya dia kehabisan kata menghadapi Ekor Kuda yang keras kepala. “Ok, saya baca-baca dulu ya,” kata dosen itu akhirnya.
“Aku tunggu kabar baiknya, Pak. Semoga 1 persen harapan aku itu nggak cuma harapan. Permisi Pak,” pamit gadis itu sambil mengangkat tas punggungnya.

Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui akankah Ekor kuda akan ikut wisuda di bulan April. Sebab keesok harinya, si dosen pembimbing mengirim SMS: Maaf, kamu belum bisa ikut
Pendadaran.

***

Hati ekor kuda tercabik-cabik karena tidak bisa wisuda di waktu yang diinginkan dia. Namun toh dia pergi ke kampus juga esok harinya untuk menemui dosen pembimbing dia.

“Saya tahu kamu menguasai materi skripsi kamu. Tapi bukan cuma itu masalahnya. Kamu nggak pernah bimbingan tiba-tiba minta diuji. Nggak bisa begitu,” nasihat pria asal Jabar yang jadi dosen pembimbing lainnya.
“Aku cuma berusaha, Pak,” kata Ekor Kuda lirih.
“Seharusnya kamu melewati prosedur yang sama seperti yang dilakukan teman-teman kamu. Lomba-lomba karya tulis itu bukan pembenar kamu nggak bimbingan skripsi,” lanjut dosen itu.
“Ya Pak, aku kejar pendadaran selanjutnya. Lagian aku masih butuh status mahasiswa,” timpal Ekor Kuda sembari tersenyum.

Dari tempat lain, Pria Coklat Tua melihat putrinya makin sibuk, tenggelam dalam buku-buku. Tapi bila diperhatikan, buku yang dibaca putrinya tak ada satupun berkaitan dengan skripsi. Buku-buku itu melulu masyarakat sipil, pedesaan, pembangunan.

Bahkan kata kunci yang diketik Ekor Kuda dan adiknya di google juga bukan migrasi Albania ke Italia.

Rupanya proyek Ekor Kuda dan adiknya yang kebetulan kuliah di tempat yang sama adalah ikut lomba menulis lagi. Dalam kurun waktu 3 bulan, Ekor Kuda mengikuti 4 lomba karya tulis. Salah satu makalahnya dibuat semalam, mulai dari memilih tema, mencari bahan, dan menerjemahkannya dalam kata-kata di atas kertas HVS.

Bila ada kemauan, pasti selalu ada jalan. Saat itu dia merasakan benar, sesuatu yang diyakini dan diperjuangkan pasti bisa diraih. Meski tampak mustahil, namun dengan kerja keras, segalanya tampak konkret.

Air mata Coklat Tua meleleh. Dia menyaksikan putrinya pagi-pagi benar meninggalkan rumah. Dalam 1 jam harus bolak-balik di banyak tempat. Air mata coklat tua makin deras melihat putrinya nyaris putus asa.

“Waduh hari ini cap pos harus udah dikirim makalahnya. Tapi ini dah maghrib belum dapat tanda tangan pembantu rektor 3. Gimana ini,” Ekor Kuda bicara sendiri.

Bibir gadis itu gemetar. Kalau tidak keburu pakai pos, maka dia harus menyerahkan sendiri kepada panitia yang alamatnya di kota tetangga.

Dengan gerakan kilat, Ekor Kuda mengambil motor dan memacunya menuju rumah pembantu rektor 3. Jam menunjuk pukul 19.00 saat Ekor Kuda tiba di kompleks perumahan rektor.

“Udah janji belum sama bapak?” tanya satpam sambil memperhatikan penampilan Ekor Kuda yang sudah kucel.
“Belum sih,” jawab gadis berkerudung itu dengan tampang kesal.
“Besok pagi sajalah ke kantor.”
“Pak, maaf ya. Aku butuh tandatangan buat lomba karya tulis. Besok pagi-pagi aku harus ke Solo buat nyerahin. Kalau nggak ada tandatangan PR 3 ya gak bisa. Nggak lama kok, 5 menit aja,” Ekor Kuda tak bisa menurunkan volume suara yang terlanjur tinggi.

Si satpam mengalah. Dia membiarkan gadis high temper itu berjalan menuju rumah PR III. 30 menit kemudian, satpam itu melihat sesungging senyum dari wajah Ekor Kuda saat keluar dari rumah PR III.

Usai semua lomba diikuti, Ekor Kuda hanya punya 2 minggu untuk menyelesaikan skripsinya. Gadis itu bolak balik ke warnet, karena datanya berbasis dari tulisan-tulisan di dunia maya. Maklum, soal migrasi belum banyak dikupas dalam buku di Indonesia.

Korespondensi dan chatting via MIRC dengan orang Italia dijalani Ekor Kuda demi kelancaran skripsinya. Dia ingin keluar dari kampusnya dengan jalan yang sempurna.

17 Juli tahun itu menjadi potongan mozaik lainnya dalam hidup Ekor Kuda. Itulah hari wisudanya. Sebenarnya dia enggan merias diri di salon. Namun demi tak ingin mengkhianati keinginan ibundanya, Ekor Kuda pun rela wajahnya dicoreng moreng perias.

“Itu putriku,” tunjuk Pria Coklat Tua dari suatu tempat. Telunjuknya mengarah pada Ekor Kuda yang tengah beranjak dari kursi terdepan menuju panggung diiringi tepukan meriah teman-temannya.

Coklat tua memang tidak bisa mendampingi putrinya saat wisuda. Meski namanya dipanggil, dia toh tak bisa datang. Namun dia puas bisa melihat putrinya menapak 1 anak tangga menuju impian tertinggi.

“Pak, ini buat bapak,” ujar Ekor Kuda lirih sambil memegang erat prasasti penghargaan dari kampus yang baru saja diperolehnya. Air mata gadis itu meleh. Tangan berkulit coklat tua berusaha menghapus tapi tak bisa. Dua sosok yang terpisah ruang dan waktu itu pun menangis bersama.

clipart.comclipart.com