Tags

, ,

www.kapanlagi.comhttp://www.kapanlagi.com

Waktunya habis dalam 73 tahun. Kini tiada lagi sajak-sajak baru yang memukau khas dirinya. Sebab ‘Si Burung Merak’ itu kini telah pergi dan tidak akan kembali….

Dunia sastra berduka. Willibrordus Surendra Broto Rendra yang  lebih dikenal sebagai WS Rendra dan populer dengan julukan Si Burung Merak itu pergi. Setelah beberapa waktu terbaring sakit, Rendra meninggal dunia pada Kamis (6/8/2009) pukul 20.48 WIB di RS Mitra Keluarga Depok. Sekitar satu bulan lalu Rendra memulai pengobatan cuci darah karena gagal fungsi ginjal.

Pria yang sempat mengenyam pendidikan di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Rendra merupakan anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Bakat sastranya mulai terlihat saat di bangku SMP. Ketika itu dia mulai menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolah. Tak hanya itu, dia pun mampu menhipnotis penonton tatkala tampil di atas panggung.

Pada 1967, pria bersuara khas ini meninggalkan Indonesia untuk mengambil pendidikan di American Academy of Dramatical Art, New York, USA. Sepulangnya dari AS pada 1968, dia membentuk grup teater bernama Bengkel Teater yang kemudian menjadi basis kegiatan seninya.

Rendra menikahi Sunarti Suwandi –perempuan cinta pertamanya– pada 31 Maret 1959. Pernikahan mereka membuahkan lima anak yakni Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Pada 12 Agustus 1970, dia kemudian menikahi putri darah biru Keraton Yogyakarta Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Saat itulah Rendra masuk Islam. Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati adalah empat anak hasil pernikahannya dengan Sitoresmi.

Pesona Si Burung Merak tak pudar meski usianya bertambah. Pesona itu mampu memikat Ken Zuraida yang kemudian menjadi istri ketiga Rendra. Dua anak bernama Isaias Sadewa dan Maryam Supraba melengkapi kebahagiaan mereka. Pada 1979 Rendra menceraikan Sitoresmi. Dua tahun kemudian Sunarti juga diceraikan.

Rendra pernah ditahan oleh pemerintah yang berkuasa ketika tahun 1978  menelorkan karya-karyanya yang berbau protes. Bahkan dramanya yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.

Pria berambut gondrong itu juga beberapa kali menulis puisi yang menyerukan kehidupan masyarakat marginal. Sajak-sajaknya ada pula yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and Blues: Poems oleh Oxford University Press pada tahun 1974. Bahkan sajaknya yang berjudul Mencari Bapak, pernah dibacakannya pada Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial International School Jakarta.

Sederet penghargaan di dunia sastra menegaskan kemampuan dan bakat yang dimiliki Rendra. Penghargaan yang diperoleh dia antara lain Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989) The S.E.A. Write Award (1996), dan Penghargaan Achmad Bakri (2006). Beberapa sajak/puisi karya Rendra antara lain: Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Jangan Takut Ibu, Mencari Bapak, Nyanyian Angsa, Pamphleten van een Dichter, Perjuangan Suku Naga, Pesan Pencopet kepada Pacarnya, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Sajak Potret Keluarga, Sajak Rajawali Sajak Seonggok Jagung, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, State of Emergency, dan Surat Cinta.

Tarian Si Burung Merak kini hanyalah kenangan.  Hadirnya yang bagaikan warna-warni cahaya itu kini  menjadi bagian sejarah. Selamat jalan Si Burung Merak. Semoga damai di sisi-Nya….

sumber: tokohindonesia.com

wikipedia.com