laba-laba

Siang itu aku lagi sering blank… Mungkin karena ada banyak hal yang lagi aku pikirkan. Sehabis dari kelas, aku ke UPT Bahasa. Bukan mau les, tapi mau izin kalau hari itu aku dan dua temanku tidak bisa ikut les.

Aku langsung nyamperin guru les Italia-ku. Dia lagi asyik minum susu sambil baca sesuatu di mejanya. “Ciao,” sapaku.

Guruku mendongak. “Ciao, ada apa?” tanya dia.

“Mau izin hari ini saya dan teman-teman nggak bisa les. Jadi ci vediamo settimana prosima,” kataku.

“Oh mau pergi?”

“Iya, mau ke Jakarta.”

“Va bene. Grazie.”

Setelah pamit, aku melangkah terburu-buru ke arah gerbang kampus. Ya ampun… tadi di telinga kiri signor itu aku lihat ada laba-laba. Laba-laba kecil itu lagi bikin sarang melalui benang yang dia rajut dan dikaitkan antara daun telinga dan leber kemeja signor itu. Jahatnya, aku hanya terpana ngeliat laba-laba itu sibuk bikin rumah tanpa ngasih tahu signor itu.

Aku merutuki diri sendiri selama di dalam angkot menuju kosan. Masa iya aku terpesona ma laba-laba sampai gak kasih tahu sama signor itu. Ini gak boleh terjadi lagi! Gak boleh blank kayak gitu lagi. Untung signor itu masih sehat-sehat aja.