Tags

, , ,

Miskin. Kata itu sangat kubenci. Aku benci kemiskinan. Aku benci terlahir miskin. Ya, aku benci dengan kemiskinan yang membelit keluargaku ini. Gara-gara kemiskinan ini, aku harus puas dengan baju-baju kumal yang kumiliki, sepatu sekolah yang hampir bolong di ujungnya, dan peralatan sekolah yang sangat ala kadarnya. Apakah kemiskinan ini adalah suatu kutukan di keluargaku? Sebab orangtua ibuku adalah orang miskin. Orangtua ayahku juga orang miskin. Orangtua dari orangtua ayahku miskin. Orangtua dari orangtua ibuku pun tak kalah miskinnya. Bahkan mungkin keadaan itu tidak jauh berbeda hingga tujuh generasi sebelumnya.

Kemiskinan ini seperti lingkaran setan yang tanpa ujung. Selama 16 tahun hidup di dunia ini, aku sudah beberapa kali mengalami pergantian pemerintahan. Tapi siapapun yang jadi presidennya, kondisi keluargaku tidak pernah berubah. Kami tetap miskin. Kami tetap menjadi kaum marjinal di tengah gegap gempitanya kota metropolitan Jakarta ini. Begitu setianya kemiskinan itu membelit keluargaku secara turun temurun. Mungkin fengshui rumah kami menjadikan kemelaratan sangat betah tinggal dan beranak pinak hingga rumah itu dipenuhi sejuta aura kemiskinan yang tak pernah pudar.

Kemiskinan itu tampak nyata dalam makanan keluargaku sehari-hari yang jarang sekali tersentuh protein hewani dan tidak pernah ada hidangan 4 sehat 5 sempurna. Wajah kemiskinan jelas terlihat dari pakaian-pakaian kami yang warnanya mulai pudar dan beberapa di antaranya malah sudah sobek. Ah wajah-wajah kami pun sudah menggambarkan begitu kuatnya kemiskinan menancapkan akarnya.

Setiap pulang sekolah, aku kerap membantu ibu berjualan kopi di sekitar stasiun atau terminal. Aku membawa termos berisi air panas, sedangkan ibuku membawa keranjang berisi kopi kemasan dan mie instan dalam kemasan gelas plastik. Terkadang melihat orang yang berlalu lalang menjadi keasyikan tersendiri bagiku. Aku suka sekali melihat perempuan-perempuan sebayaku yang wangi dan memakai pakaian bagus. Aku sering menghayal menjadi mereka.

Senangnya bisa masuk ke mall manapun dan keluar dengan membawa barang belanjaan di kedua tangan. Atau pergi ke salon untuk merawat kulit dan rambut, dan melakukan apa itu…, menicure pedicure. Di hari yang lain pergi ke toko buku dan membeli majalah terbaru, juga buku-buku tebal dan mahal. Lalu di saat yang lain nonton film bersama teman-teman, setelah itu ngobrol di coffee shop yang harga secangkir kopinya bisa sepuluh kali lebih mahal dari kopi yang kujual ini. Senangnya bisa menikmati hidup tanpa mengkhawatirkan apapun.

***

Suatu kali aku menemani ibu menjajakan kopi di dekat halte bus, tak jauh dari stasiun tempat biasa kami mangkal. Kami berdua berusaha tampil mempesona agar orang-orang tidak jijik memesan dan meminum kopi buatan kami. Tapi tampil mempesona ala kami tentu saja berbeda dengan mempesona yang dibayangkan banyak orang. Ibu memakai kemeja merah dengan rok hijaunya. Itulah salah satu dari sedikit setelan pakaian dengan warna tabrak lari tak bertanggungjawab paling layak yang dimiliki ibu. Rambut ibu yang panjang dicepol. Bedak murahan ditaburkan di wajah perempuan berusia pertengahan 40 tahun itu. Ibuku juga memakai wewangian. Wewangian dengan wangi menyengat yang dibeli di warung Mak Salma, tidak jauh dari rumah kami.

Bagaimana penampilan mempesonaku? Aku mengenakan baju andalanku. Celana panjang hitam agak-agak putih, yang pada saat dibeli beberapa tahun lalu berwarna hitam pekat. Kaos oblong abu-abu pemberian temanku membalut tubuhku yang kurus seperti kucing kurang makan. Aku dan ibuku kompak memakai flip flop, sandal jepit murahan yang bila diperhatikan baik-baik, salah satu tali sandal sebelah kananku diikat tali rafia.

“Git, buat kopi buat bapak itu,” suara ibuku membuyarkan lamunanku. Aku pun segera mengambil sebungkus kopi instan, merobek salah satu ujung pembungkusnya, menuangkan serbuk kopi ke dalam gelas plastik, menyiramnya dengan air panas dari termos, lalu mengaduknya dengan sendok.

“Silakan, Pak,” ujarku sambil mengulurkan gelas plastik itu kepada seorang lelaki paruh baya yang rambutnya sudah mulai memutih.

Di sebelah lelaki itu duduk seorang perempuan sebayaku. Dia mengenakan celana jeans dan kaos oblong, serta bersandal jepit. Meski pakaiannya biasa saja, tapi dia terlihat cantik. Sangat berbeda denganku. Perempuan itu mengenakan kacamata. Dia asyik membaca buku. Sedangkan tangannya yang lain memegang tas plastik putih bertulis nama toko buku besar terkenal. Ada kabel berwarna putih menjuntai dari salah satu telinganya. Aku tahu, dia sedang mendengarkan musik melalui sebuah alat bernama MP3 player. Aku tersenyum senang mengetahui nama alat elektronik yang disimpan di salah satu kantong celana gadis itu. Bang Yoyok, teman tetanggaku, sering mendengarkan musik dengan MP3 player, jadi aku tahu benar nama alat elektronik itu.

Aku masih saja mengamati gerak-gerik gadis seusiaku itu. Tiba-tiba mobil berwarna merah mulus berhenti dan membunyikan klakson. “Va, maaf terlambat,” ujar seorang laki-laki yang usianya kira-kira tiga atau empat tahun di atasku dari dalam mobil, sesaat setelah kaca jendela terbuka. Laki-laki itu ganteng sekali. Mirip dengan artis-artis yang fotonya terpampang di papan iklan besar di pinggir-pinggir jalan.

“Wah, hampir berlumut lho aku menunggu kamu di sini,” canda gadis yang dipanggil Va itu, sambil masuk ke dalam mobil. Mobil itu pun berlalu.

Diam-diam aku bercermin di kaca etalase toko. Tanpa perlu pergi ke salon, rambutku sudah keriting. Malah tanpa perlu dicat, rambutku sudah berwarna merah. Sayangnya, warna merah itu hanya ada di ujung rambut lantaran rambutku pecah-pecah. Kulitku hitam terpanggang matahari Ibukota. Menurutku, aku sama sekali tidak cantik. Tetangga-tetanggaku yang miskin juga tidak ada yang terlihat cantik ataupun ganteng. Mungkin miskin itu suka menghinggapi orang-orang yang tidak cantik dan ganteng.

* * *

Asap kendaraan. Aku benci sekali dengan asap kendaraan. Bau parfum menyengat ibuku seringkali cepat berganti dengan bau asap kendaraan saat kami berjalan di pinggir jalan. Malahan, bau ibuku kerap jadi tambah tidak enak. Aku tahu kini, parfum menyengat ditambah asap kendaraan adalah  sesuatu yang ampuh untuk membuat seseorang pusing. Huh, keluarga kami tidak punya mobil apalagi sepeda motor, tapi badan kami lebih sering bau asap daripada orang-orang yang mondar-mandir di jalanan dengan kendaraannya itu. Ah lagi-lagi ketidakadilan hobi sekali menciumi orang miskin.

Seperti biasanya, matahari Jakarta masih saja menyengat dengan membabi buta di musim kemarau ini. Kulitku sepertinya juga bertambah hitam saja. Bila suatu kali di sebuah gang kampung yang sempit dan gelap ada penampakan gigi terbang, janganlah takut. Kemungkinan besar si pemilik gigi terbang itu aku. Saking kulitku sama gelapnya dengan pekat malam, tidak mustahil hanya gigiku yang terlihat, bukan? Apalagi jika di saat yang sama tercium kuat bau asap kendaraan, 99 persen akulah yang ada di gang kampung itu.

Hari itu aku melihat seorang perempuan keluar dari pusat perbelanjaan. Dia menjinjing dua kantong plastik yang sarat dengan buah-buahan dan makanan kemasan. Selembar kertas melayang dari tangan perempuan itu, dan secara kebetulan kertas itu mendarat dengan sempurna di depan kakiku. Buru-buru kupungut kertas tersebut. Rupanya kertas itu adalah bukti transaksi jual beli yang pastinya mencatat barang apa saja yang telah dibeli perempuan itu.

Mataku terbelalak melihat angka yang tertera di bagian bawah kertas kecil itu: Rp 875.850. Astaga, banyak sekali uang yang dibelanjakan perempuan itu. Dari kertas itu aku tahu, dia membeli banyak makanan. Aku juga tahu dia membeli 3 BH dengan harga total Rp 210.000, itupun sudah didiskon 50 persen. Apa? Rp 70.000 untuk sepotong BH? Tanpa sadar aku memilin tali BH-ku yang sudah mulai kriwil karena kehilangan elastisitasnya. BH yang kubeli tahun lalu dengan memberikan selembar uang Rp 10.000, dan pedagangnya pun masih memberi kembalian beberapa ribu.

Pelan tapi pasti ada air yang meluncur tajam dari sudut mataku. Air itu tanpa ampun masuk ke mulutku. Asin. Aku menangis. Apa yang kutangisi? BH kriwilku? Atau karena melihat orang begitu mudahnya membelanjakan uang dalam jumlah banyak, padahal uang sebanyak itu pasti bisa membiayai hidup keluargaku selama sebulan dan bahkan lebih. Atau aku menangisi kemiskinan yang secara turun temurun sudah memeluk keluargaku, seakan keluargaku adalah saudara kandungnya, hingga tak bisa dipisahkan? Entahlah, yang jelas ketika aku menghapus air mataku, di depan aku duduk ada beberapa lembar uang. Mungkin orang-orang mengira aku adalah pengemis yang kelaparan sehingga hanya mampu menangis di dekat jembatan penyeberangan, sehingga dengan penuh iba mereka meninggalkan buliran rupiah.

Wah ada untungnya juga punya tubuh kurus kering kerontang seperti ini. Itulah pertama kalinya aku tidak iri dengan tubuh langsing dan semampai model-model perempuan yang fotonya terpampang di papan iklan pinggir-pinggir jalan. Orangtuaku tidak pernah mengajariku menjadi pengemis, mereka bahkan akan sangat marah bila tahu aku mengemis. Tapi bukankah aku tidak mengemis? Aku tidak minta dikasihani. Aku juga tidak meminta orang-orang untuk melemparkan rupiahnya padaku. Aku hanya tidak sengaja menangis, dan dengan tiba-tiba uang itu mengumpul sendiri.

Diam-diam kupungut uang di hadapanku itu. Aku mulai menata uang dan menghitung. Rp 12.000 terkumpul saat aku menangis selama sekitar 5 menit. Jadi rata-rata tiap air mataku yang tumpah ruah selama satu menit menghasilkan Rp 2.400. Buru-buru kumasukkan uang itu ke kantong celanaku. Aku ingin membeli sepeda motor untuk ayahku. Menjadi tukang ojek sepertinya jauh lebih menyenangkan daripada menjadi kuli panggul di pasar. Tapi uangku masih kurang banyak. Rp 12.000 hanya cukup untuk biaya transportasi ke toko sepeda motor bekas. Hmm, yang penting aku sudah mengantongi uang transportasi ke toko sepeda motor. Ini adalah tahap berharga untuk membeli sepeda motor.

***

Adik bungsuku tidur dengan memeluk guling lusuh yang umurnya kira-kira sama dengan umur ayahku. Aku dan kedua adikku harus tidur bersempit-sempit di rumah yang sempit dan pengap ini. Rumah yang udaranya mencekik kakekku hingga kehabisan nafas pada pertengahan tahun lalu. Rumah yang panas, yang membuat seisi rumah tidur sambil menggerakkan tangan berganti-gantian, mengipaskan lembaran koran bekas untuk menghadirkan udara segar. Alih-alih mendapat kesejukan, kami malah semakin kegerahan.

Karena kami miskin, kami harus menanggung penderitaan ini. Huh sulit sekali mengusir kemiskinan dari rumah ini. Mungkin satu-satunya cara adalah dengan pindah rumah. Tapi pindah ke mana? Rumah kecil nan pengap ini adalah harta kami yang berharga. Bila pindah ke kawasan yang tidak kumuh, tentu membutuhkan uang banyak.

Ayahku adalah pekerja keras. Dia giat bekerja di pasar dengan memanggul barang-barang. Setiap kali pulang ke rumah, ayah bau keringat yang bercampur dengan bau pasar. Bau pasar itu adalah campuran bau sayuran segar dan busuk, tanah, keranjang, karung, serta genangan air limbah. Bau ayahku mungkin dibenci siapapun yang menciumnya, tapi semakin keras baunya, bagiku itu membuktikan betapa keras ayahku bekerja. Ibuku juga bekerja tidak kalah keras. Dia rela menjadi tukang cuci dan penjaja kopi sepanjang hari. Tapi dua pekerja keras itu sama sekali tidak berdaya mengusir kemiskinan.

Kalau kerja keras saja tidak mampu mengusir kemiskinan, lalu senjata apa yang bisa membuat kemiskinan lari kocar-kacir menjauhi keluargaku? Ayah dan ibuku tengah bereksperimen dengan pendidikan. Mereka meyakini, pendidikan tinggi akan meningkatkan pendapatan seseorang. Jadi sekuat tenaga mereka berniat menyekolahkan ketiga anaknya hingga S3: SD, SMP dan SMA. Karena aku sekarang sudah duduk di bangku SMK, artinya ini akan menjadi lembaga sekolah formal terakhir yang mampu dipersembahkan orangtuaku.

Aku adalah eksperimen pertama keluargaku. Dua tahun lagi aku akan menyelesaikan sekolahku. Aku akan bekerja dengan berbekal ijazah pendidikan yang jauh lebih tinggi dibanding ayah dan ibuku. Mereka hanya tamatan SD. Dengan pendidikan tinggi versi keluargaku, apakah nantinya aku bisa menjadi komandan pengusir kemiskinan ini? Kami berharap-harap cemas menunggu saat itu datang. Tapi aku pun selalu bertanya-tanya, apakah pendidikanku cukup tinggi untuk membuat kemiskinan berubah jadi membenci keluargaku? Entahlah, tapi aku berniat untuk menjawab pasti: ya!

Malam itu, sebelum tertidur, mataku masih saja nanar menatap guling kumal yang dipeluk adikku. Hingga sebesar ini, aku dan kedua adikku belum pernah merasakan bagaimana hangatnya bulu lembut boneka beruang seperti yang kulihat di etalase toko dalam perjalanan dari rumah ke stasiun. Selama ini kami harus puas memeluk guling butut yang pernah diompoli ayahku ketika dia kecil. Bahkan aku dan kedua adikku juga pernah menyumbangkan ‘pulau’ di guling itu.

***

Semakin hari rasa benciku pada kemiskinan semakin memuncak. Bagaimana tidak, Aisah, tetangga sekaligus temanku sejak kecil, harus meninggal tanpa pengobatan maksimal terhadap kanker paru-paru yang diidapnya. Huh, miskin telah membuat pagar pembatas bagi orang-orang yang mau tidak mau menyandang status itu. Sepertinya orang miskin itu tidak boleh sakit, karena untuk mengusir sakit butuh uang yang tidak sedikit. Aisah ingin sehat, aku ingin sekolah setinggi-tingginya, adikku ingin boneka beruang yang besar, ayahku ingin makan 4 sehat 5 sempurna setiap hari, tapi keinginan itu tidak pernah menjadi nyata. Kami tidak bisa mewujudkannya, karena kami miskin.

Aku tahu di dunia ini, bukan aku dan keluargaku serta tetangga-tetanggaku saja yang miskin. Di Negeri ini saja mungkin ada ribuan orang berstatus sosial ekonomi sama dengan kami. Orang-orang yang harus puas dengan segala keterbatasan yang dibuat semena-mena oleh kemiskinan itu. Meski kami, setidaknya keluargaku, sudah sekuat tenaga bekerja keras memperbaiki kondisi sosial ekonomi yang selama ini telah kuat melekat dan erat mendekap, namun kemiskinan tidak juga mati. Kemiskinan tidak juga lenyap dari hidup kami.

Ayahku selalu mengajari aku dan kedua adikku untuk selalu bersyukur. “Biarpun rumah ini pengap, kondisi kita jauh lebih baik lho dibanding orang-orang yang menempati gubuk liar atau harus tidur di pinggir toko dan kolong jembatan,” kata ayah suatu kali.

“Kita harus bersyukur hari ini bisa makan dengan sambal dan krupuk. Tadi ayah melihat lagi pemulung yang mengambil roti dari tempat sampah. Setidaknya makanan kita cukup bersih. Jadi kalian jangan makan sambil cemberut begitu. Nasi, cabai untuk sambal dan kerupuk ini dibeli dengan uang halal,” lanjut ayah.

“Ayah, aku benci miskin. Aku bosan miskin,” keluhku pada ayah kala itu.

“Ayah juga. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mau terlahir miskin. Tapi kalau kita sibuk mengumpati kondisi kita, maka jalan kita hanya maju mundur saja. Bukankah lebih baik kalau energi untuk mengumpat dan mengeluh itu digunakan untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Apapun kondisi kita, kita harus pandai bersyukur. Apakah kita pantas menuntut Tuhan memenuhi semua keinginan kita kalau waktu kita untuk Tuhan saja masih sangat sedikit,” nasihat ayah panjang lebar.

Menurutku, kata-kata ayah terdengar sangat bijak dan sangat pintar. Aku bangga sekali mendengar rentetan kata-kata itu dari mulut ayahku. Aku yakin, belum tentu kata-kata seperti itu mampu dilontarkan dan bahkan dilakukan oleh orang-orang pintar, yang pendidikannya jauh lebih tinggi daripada ayah.

***

Siang itu matahari Ibukota masih sama teriknya dengan hari-hari sebelumnya. Aku masih membenci kemiskinan seperti hari-hari kemarin. Aku masih belajar bersyukur menerima semua yang diberikan Tuhan. Aku pun masih berusaha mengusir kemiskinan dari hidup keluargaku. Intinya, bagiku hari ini masih sama seperti hari-hari biasanya.

Hanya saja, hari ini adik bungsuku berulangtahun. Dalam sejarah di keluargaku, tidak pernah ada nasi kuning atau kue ulang tahun pada hari jadi seseorang. Tidak ada seorang pun dari kami yang pernah merasakan bagaimana rasanya ulang tahun dirayakan. Kami pun tidak pernah memberi atau menerima kado. Tapi hari ini aku ingin sekali membelikan adikku nasi rendang sebagai kado ulang tahunnya. Adikku adalah penggemar rendang yang harus puas makan makanan itu hanya pada saat keluargaku mendapat pembagian jatah daging kurban setiap Idul Adha.

Karena ingin sekali-kali memberi kado untuk adikku, aku terpaksa mengambil uang Rp 12.000 yang kudapat gara-gara aku dikira pengemis beberapa waktu lalu. Uang itu sedianya kukumpulkan untuk membeli sepeda motor, tapi aku berubah pikiran di hari ulang tahun adikku ini. Sebagai gantinya, aku bertekad mencari pekerjaan paruh waktu.

Tidak lama, sebungkus nasi rendang sudah kudapat. Di kantong bajuku masih ada sisa beberapa lembar ribuan rupiah. Aku tersenyum senang membayangkan wajah adikku yang sumringah menerima kadoku ini.

“Bruk!!” Sepeda motor berkecepatan tinggi tiba-tiba menabrakku ketika aku sedang menyeberang jalan. Badanku yang hitam dan kurus terpental, lantas mendarat dengan suara berdebam di atas aspal. Seketika orang-orang mengerumuniku sambil meneriakkan kata-kata yang tidak mampu kudengar jelas. Yang pasti ada cairan hangat yang mengalir dari kepala menuju kening dan hidungku. Ada sesuatu yang menyesakkan seperti mencekik leherku hingga aku sulit bernafas. Aku merasa sakit tak terperi.

Di bawah matahari Ibukota yang garang ini aku terlahir miskin. Belasan tahun aku hidup dengan memendam kebencian pada kemiskinan. 16 Tahun bukanlah waktu yang singkat merasakan kegarangan Sang Bagaskara. Di hari yang kurasa tidak berbeda jauh dengan hari-hari kemarin, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku pergi. Aku pergi meninggalkan keluargaku, meninggalkan garangnya bagaskara Jakarta, dan meninggalkan kemiskinan. Sampai kapanpun, namaku akan tetap dilekati embel-embel orang miskin, tapi inilah pertama kalinya aku mampu melepaskan diriku dari dekapan kemiskinan.

Ayahku menangis dengan wajah tersenyum. Ibuku menangis seperti hari ini adalah satu-satunya hari di mana manusia dibolehkan menangis. Adik pertamaku juga menangis sambil sesekali menelan cairan asin yang turut turun dari hidungnya. Sedangkan adik bungsuku asyik makan nasi rendang yang dengan ajaib masih utuh dan masih kupegang erat meski diriku berlumuran darah. Dia masih terlalu kecil untuk menyadari ada perpisahan permanen dalam hidup ini. Aku pergi, namun matahari masih menyengat dan menyinari wajah-wajah kemiskinan Ibukota seperti biasanya.