Tags

, ,

Unfaithful bukan sekadar judul film, tapi hal ini sudah menjadi fenomena yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Karena sering ditemui lantaskah kita berpikir unfaithfulness sebagai hal yang wajar sehingga pantas dimaklumi? Mungkin ada yang berpendapat unfaithful itu wajar-wajar saja karena perasaan suka kepada orang lain selain pasangan kita bisa datang kapan saja. Bukankah rasa suka dan bahkan cinta bisa datang kapan saja tanpa mengenal masa dan segala beda yang melekat.

Kesenangan sesaat dipelihara oleh seseorang dengan pasangan selingkuhannya. Ya, kesenangan sesaat, karena mereka yakin hubungan tersebut tidak akan last forever lantaran ada kondisi tertentu yang tidak bisa ditabrak dan diseberangi. “Sekarang ya sekarang, nanti ya nanti,” begitulah yang dipikirkan. Hmm sepertinya saya mengerti sekali apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang-orang yang terlibat dalam unfaithfulness ya.

Tiba-tiba saya ingin menulis blog tentang unfaithfulness karena baru saja terlibat pembicaraan via telepon selama 4 jam dengan sahabat yang pasangannya unfaithful. Sahabat saya menangis dan histeris. Rasa sakit karena dikhianati membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Terus terang, saya bingung sekali harus berkata apa. Saya tidak pernah berada di posisi seperti sahabat saya itu, tapi saya tahu sakitnya. Unfaithful itu kan sama saja dengan bohong. Beberapa kali saya pernah dibohongi orang, dan rasanya sakit sekali. Apalagi dibohongi pasangan sendiri, pasti jauh lebih sakit.

Tiba-tiba saya teringat pada masa lalu. Beberapa kali saya dekat dengan orang yang sudah berpasangan. Saya tahu mereka punya pasangan, tapi saya mengijinkan mereka masuk dalam hidup saya sehingga menjadi bagian dari hari-hari saya. Saya sadar benar bahwa tidak akan pernah ada masa depan dari hubungan tersebut. Hubungan itu hanya akan berumur pendek dan karenanya saya hanya akan buang-buang waktu. Tapi saat itu yang saya pikirkan adalah bagaimana senangnya menjadi bagian dari dirinya.

Saya tidak pernah berpikir bagaimana perasaan orang yang dikhianati. Bagi saya saat itu yang terpenting adalah adanya simbiosis mutualisme yang saya bangun dengan orang yang unfaithful itu. Saya senang membunuh waktu bersamanya, dan dia pun merasakan hal yang sama. Cukup. Toh kami berdua tidak berupaya untuk melanggengkan hubungan kami dengan harus mengorbankan hubungan lainnya.

Seandainya pasangan dari orang yang unfaithful itu tahu tentang kami (meski kami tidak pernah mendeklarasikan komitmen tingkat tinggi), pasti dia juga akan sakit hati seperti yang dirasakan sahabat saya. Pasti dia ingin menghancurkan saya, ingin menyakiti saya secara fisik dan psikis seperti yang ingin dilakukan sahabat saya.

Untunglah hal itu tidak terjadi. Tuhan memberikan jalannya. Meskipun saya sakit karena membiarkan orang itu pergi dari hidup saya, tapi saya sadar akan semua konsekuensinya sejak awal. Dunia tempat hidup saya itu luas sekaligus sempit. Luas karena bisa melihat berbagai sektor kehidupan tetapi juga sempit karena sering bertemu dan intens berhubungan dengan orang yang itu-itu saja, karenanya cinta lokasi sangat mungkin terjadi.

Tidak mudah memang menghilangkan semua kenangan dan membunuh bayangan orang yang sangat dekat dengan saya, yang selalu hadir dalam hembusan nafas saya, juga yang melengkapi hari-hari saya. Tapi hubungan itu sangat tidak sehat, sakit kronis, dan memang tinggal menunggu ajal. Semua manusia tidak akan pernah siap dengan yang namanya kehilangan. Meski berucap ikhlas, namun dalam hati belum tentu demikian. Begitu pula saya. Tapi bagaimanapun, saya bersyukur semua sudah berlalu. Saya tidak akan mengulangi kebodohan yang beberapa kali saya lakukan itu, saya tidak mau lagi terjebak dalam kesenangan sesaat.