Tags

,


Bloknote bertebaran di lantai kamar

Kemarin kamar saya berantakan sekali. Bloknote bertebaran di lantai. Saya sedang sibuk mencari nomor kontak beberapa orang yang akan saya jadikan narasumber untuk tesis saya. Tidak hanya itu, puluhan kartu nama turut ‘meramaikan’ lantai kamar saya. Pfuh, tidak juga saya temukan nomor kontak orang yang saya cari.

Saya lalu menghubungi teman-teman di detikcom. Dari mereka saya mendapatkan beberapa nomor yang saya butuhkan. Tidak hanya itu, saya juga mendapatkan nomor kontak dari seorang teman di okezone. Sebelumnya saya juga menjalin kontak dengan seorang teman di Warta Kesra, lagi-lagi untuk menanyakan no kontak narasumber. Beberapa menit yang lalu nada sms handphone saya berbunyi. Seorang teman yang dulu di Elshinta dan kini menjadi reporter di tv One meng-sms nomor kontak orang yang akan menjadi nara sumber saya juga.

Sore tadi, saya sempat berkirim-kirim pesan via Facebook dengan seorang teman yang dulu saya kenal saat dia masih menjadi jurnalis di Media Indonesia, lalu dia pindah ke tv One, dan baru-baru ini gabung dengan Tempo. Kemarin malam saya juga bertelepon dengan teman yang pernah menjadi wartawan di Media Indonesia. Ya, belakangan ini saya kembali berhubungan intens dengan teman-teman jurnalis.

Wah saya jadi kangen. Kangen sekali liputan. Aktivitas yang sudah saya tinggalkan 1,5 tahun ini. Dulu saya biasa ngepos di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Awalnya saya tidak suka disuruh liputan hukum. Maklum, sejak dulu saya memang tidak suka dengan bidang hukum. Ribet. Tapi rasa sebel itu berubah menjadi cinta. Saya mencintai liputan hukum. Bahkan ketika mendapat giliran menjadi penulis di kantor, saya kerap diminta menerima laporan teman-teman yang liputan hukum.

Begitu seringnya saya mangkal di PN Pusat hingga beberapa teman menjuluki saya Ratu PN Pusat. Tidak heran banyak yang menelpon saya untuk menanyakan agenda sidang dan juga background kasus hukum yang sedang berlangsung di pengadilan yang berlokasi di Jalan Gadjah Mada Jakarta itu.

Selain hukum, saya juga sering mendapat tugas liputan humaniora. Kerap kali saya liputan di Kementerian Kesra (saat itu menterinya Alwi Syihab, lalu digantikan Aburizal Bakrie), Kementerian Pemberdayaan Perempuan, dan juga Depdiknas. Saya pun sering liputan kesehatan, serta beberapa kali liputan kriminal, juga di Deplu dan Kedubes AS. Saya juga mendapat kesempatan liputan di Istana Presiden dan Wakil Presiden setelah mendapat id pers Istana.

Dua tahun 9 bulan belum bisa dibilang senior untuk seorang wartawan, namun cukup lama untuk mengenal beberapa orang dan menjalin relasi. Hingga kini saya masih sering mendapat pantulan acara, dan pernah beberapa kali mendapat telepon dari narasumber. Kepada mereka saya tidak pernah sengan gamblang mengatakan sudah resign. “Saya sedang di luar kota, Bapak telepon kantor saja ya,” begitu selalu ucap saya.

Saya sempat berpikir akan membuang semua bloknote saya yang sudah satu tas plastik itu setelah semua nomor kontak saya salin ke tempat yang aman. Tapi niat itu mendadak saya urungkan setelah ngobrol dengan teman seperjuangan saya dulu. “Itu bagian dari sejarah kita Vit. Kita pernah mencatat detil omongan seseorang, detil peristiwanya. Banyak kenangannya,” kata teman saya itu. Hmm benar juga, pikir saya. Apalagi kalau nantinya saya tidak pernah melangkah lagi di dunia jurnalis.

beberapa bloknote yang masih disimpan

Semua profesi pasti ada enak dan tidaknya, termasuk wartawan. Karena profesi saya itu, saya bisa bertemu banyak orang dari berbagai kalangan, dari rakyat biasa hingga presiden. Saya bisa keluar masuk tempat-tempat yang tidak mengizinkan semua orang bisa masuk ke sana. Saya membuat paspor gratis (karena kantor yang bayar) juga bisa periksa mata dan dapat kacamata gratis (lagi-lagi karena kantor yang bayar). Saya bisa pergi ke beberapa daerah di Indonesia dan juga ke luar negeri yang belum tentu bisa saya lakukan kalau saya bukan wartawan.

Dulu, saya harus menjalani piket malam reporter dari pukul 19.00-11.00 WIB. Setelah menjadi penulis, saya harus piket sejak pukul 17.00-09.00 WIB. Tapi saya sering menambah sendiri jam saya di kantor antara 1-4 jam. Meski kadang saya mengeluh lelah, hidup tidak normal, dsb tapi rupanya saya senang berada dalam keadaan seperti itu. Saya sulit tidur di malam hari, jadi piket malam sebenarnya cocok sekali buat saya.

Jalan saya di dunia itu tidak selalu mulus. Akibat laporan saya, beberapa orang dari perusahaan tahu pernah marah-marah ke kantor. Saya pernah juga kena semprot beberapa menteri. Pernah pula kebobolan, terlambat laporan dari media lainnya, pos sepi sehingga harus mengais-ngais berita (mencari-cari sendiri realitas untuk dikonstruksikan tanpa order dari kantor), harus floating ke banyak tempat dalam satu hari, atau tidak bisa menghubungi narasumber padahal berita harus segera diturunkan, dsb. Ketika ada yang menyenangkan pasti ada yang tidak menyenangkan. Sesuatu menjadi bagus karena ada yang jelek. Selalu ada hal-hal yang saling bertentangan sebagai keseimbangan.

Sekarang saya sedang melangkah di chapter lain dalam hidup saya. Di chapter ini saya harus menjalani peran sebagai mahasiswi dengan finansial yang pas-pasan. Karena harus mengencangkan ikat pinggang, saya kehilangan berat badan 3-4 kilo. Alhasil sekarang banyak pakaian saya yang terasa longgar. Wah kalau sedang begini langsung ingat slip gaji terakhir. Di situ tertera angka yang bisa membuat saya hidup sejahtera.

slip gaji terakhir

Saya kangen liputan. Saya kangen piket malam. Saya kangen teman-teman liputan saya. Ah, tapi yang terpenting sekarang adalah saya harus segera menyelesaikan tesis.