Tags

,

Kemarin aku olahraga di Sabuga bareng beberapa temanku. Tiba-tiba seorang cowok membawa bola basket melintas. Aku terpana. Astaga cowok mirip sekali sama kamu. Rambutnya lurus, kulitnya putih, dan punya sinar mata teduh. Waktu seperti kembali ke bertahun lalu. Saat kita ada di kota yang sama. Saat kamu masih di dekatku.

Aku nggak pernah nyangka kalau kamu akan masuk dalam hidupku. Pendidikan politik itu mempertemukan kita. Kamu yang kritis, gemar bertanya, dan juga mendebat dengan cara yang sopan tidak menggebu dan merasa paling benar seperti kebanyakan orang dalam kegiatan itu. Mau gak mau aku jadi sering perhatiin kamu.

Teman kamu mengenalkan kamu padaku. He he sejak itu di mana ada aku, di dekatku pasti ada kamu. Trus kita berpisah, tanpa bertukar nomor telepon or e-mail. Makanya aku kaget ketika suatu kali kamu menelponku. Hal itu jadi rutinitas tak terbantahkan.

Waktu itu aku sibuk dengan seabrek kegiatan di kampus. Aku meminggirkanmu. Hingga kamu memutuskan mengakhiri semua. Bahkan kamu menyesal dengan pertemuan dan semua yang sudah kita jalani. Kamu mundur dari hidupku tanpa peduli teriakan-teriakanku. Kamu marah. Akhirnya aku pun ikut marah dan menyesali semua. Aku hapus jejak-jejakmu. E-mailku yang dengan sangat baik mencatat ‘kita’ kemudian mati.

Menyesal rasanya tanpa sengaja meminggirkanmu, tak mempedulikan orang seganteng, sepinter, dan sebaik kamu. Tapi sudahlah, kamu hanya salah satu warna dalam hidupku di masa lalu yang tidak perlu dicari lagi, meskipun kini bayanganmu memonopoli benakku. Satu kata yang tidak pernah mampu aku ucapkan padamu: Maaf! Ya, meski terlambat kuucapkan dan bahkan kamu tidak tahu aku telah meminta maaf….

(forecame.wordpress.com)