Tags

,

Hari Sabtu ini saya sesiangan di kosan, mengerjakan tulisan tentang terorisme yang sudah mendekati deadlinenya. Saya makan normal juga. Dan Sabtu malam, ketika saya ke luar, di tengah banyak orang saya tiba-tiba pusing, lalu kepala terasa ringan, di saat yang sama saya merasa mual. Saya kaget sekali karena kejadian ini begitu tiba-tiba. Keringat dingin pun keluar.

Saya lalu merasa seperti melayang, hampir tidak sadar dengan apa yang saya lakukan dan di mana saya saat itu. Tiba-tiba saya ingin muntah. Ooh tidak…. Dengan mengumpulkan tenaga dan kesadaran yang saya miliki saya masuk ke resto cepat saji, bukan mau pesan makan atau mau ngadem, tapi saya butuh ke belakang. Saya muntah. Mulut saya terasa sangat pahit dan perut saya seperti diaduk-aduk.

Beberapa saat saya duduk di kloset. Ketika menoleh ke arah cermin, astaga wajah  saya pucat sekali dan tangan pun gemetaran. Saya berdoa semoga tidak pingsan atau ambruk di jalan. Pintu toilet digedor dari luar. Rupanya ada yang mengantre di luar. Huff Alhamdulillah badan saya enakan meski rasanya ada aliran darah yang terhenti atau melambat.

Saya keluar dan membasuh tangan di wastafel. Tidak lama saya meninggalkan resto itu dan melangkah pulang. Sesampai di kos, saya merasa sangat baik dan sehat. Untunglah…. Tapi tadi itu saya kenapa ya…

Untuk menghilangkan penasaran, saya pun meng-google-ing. Yang saya alami sering disebut sebagai pre-syncope. Umumnya orang yang dalam kondisi pre-syncope akan merasa lightheaded (kepala terasa ringan), mual, berkeringat, atau lemah. Mungkin ada perasaan dizziness (kepeningan) atau vertigo (dengan kamar yang berputar), penglihatan mungkin memudar atau kabur, dan mungkin ada pendengaran yang meredam dan sensasi-sensasi kesemutan dalam tubuh. Orang yang demikian akan syncope apabila kehilangan kesadaran sesungguhnya.

Untuk mencegah agar jangan sampai pingsan, sewaktu gejalanya terasa masih ringan misalnya baru terasa berdebar-debar, ada baiknya sedikit menggerak-gerakkan tungkai atau kaki, sambil sekali-kali batuk kecil. Adakalanya cara tersebut dapat dibantu lagi dengan mengalihkan perhatian sesaat, misalnya dengan mengingat-ingat kejadian yang menyenangkan, film yang kita suka, atau mendendangkan lagu favorit. Tapi bila tidak berhasil, langsung jongkok, duduk, atau mundur mencari tempat berbaring agar tungkai dapat dinaikkan lebih tinggi dari kepala. Biasanya dalam waktu singkat akan terasa lebih nyaman dan pulih kembali. Apalagi kalau ditambah dengan minuman segar.

Mengapa bisa pingsan? Sebagian besar kasus pingsan yang bukan karena kelainan jantung (sinkop non-kardik) menurut para ahli, lebih disebabkan karena terkena hipersensitivitas vagus. Vagus adalah saraf otak kesepuluh yang mensarafi organ bagian dalam tubuh dan sangat berpengaruh terhadap frekuensi detak jantung.

Salah satu pencerminan hipersensitivitas vagus dikenal sebagai sinkop vasovagal (berkaitan dengan pembuluh darah dan nervus vagus) dan vasodepresif. Ini terjadi karena timbulnya ketidakseimbangan refleks saraf otonom dalam bereaksi terhadap posisi berdiri yang berkepanjangan. Berawal dari kecenderungan terkumpulnya sebagian darah dalam pembuluh vena bawah akibat gravitasi bumi, hal ini menyebabkan jumlah darah yang kembali ke jantung berkurang sehingga curah ke jantung serta tekanan darah sistoliknya menurun. Guna mengatasi penurunan tersebut, otomatis timbul refleks kompensasi normal, berupa bertambahnya frekuensi dan kekuatan kontraksi jantung, dengan tujuan mengembalikan curah ke jantung ke tingkat semula.
Pada seseorang yang hipersensitif, bertambahnya kekuatan kontraksi ini justru mengaktifkan reseptor mekanik yang ada pada dinding bilik jantung kiri sehingga timbul refleks yang dinamakan refleks Bezold-Jarisch (sesuai nama penemunya). Efeknya, frekuensi detak jantung berbalik menjadi lambat, pembuluh darah tepi melebar, dan kemudian terjadi tekanan darah rendah (hipotensi) sehingga aliran darah ke susunan saraf terganggu. Di sinilah sinkop terjadi.

Jadi ingat kemarin saat salat ied, teman saya tiba-tiba pingsan. Untuk menolong orang pingsan, kepala jangan ditinggikan dan posisinya agak dimiringkan dengan hati-hati. Jangan pernah memasukkan sesuatu ke mulut orang yang pingsan. Bila mungkin percikkan air ke kening atau leher untuk mempercepat pulihnya kesadaran.

Untuk saya, pengalaman hampir pingsan bukan kali ini saja terjadi. Saat kelas 1 SMU, di tengah upacara Pramuka saya merasa hampir pingsan. Ketika itu saya langsung mundur dari barisan dan duduk sejenak. Saat kuliah juga pernah, hjal itu terjadi waktu saya sedang mengobrol dengan teman. Sebelum ambruk saya buru-buru duduk. Lalu saat saya naik KRL pun pernah merasa hampir pingsan.  Waktu itu saya juga buru-buru duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan penumpang lain. Saya bersandar di kursi dan saya tidak sadar apakah saat itu saya tidur atau pingsan. Saat bangun, saya merasa kesemutan, gemetaran, dan keluar keringat dingin. Begitu keluar dari kereta saya duduk lagi. Aah untung saya bawa permen. Setelah makan permen, saya merasa sedikit enakan.

Informasi kesehatan yang terkandung dalam tulisan ini saya cuplik dari: http://har-memo.blogspot.com/2005/02/health-penyebab-terjadinya-pingsan.html dan http://www.totalkesehatananda.com/pingsan6.html