Vincentia Hanni Sulistyaningtyas. Aku dan teman-teman memanggilnya Mbak Vin. Pertama kali aku ketemu dia di KPK (saat gedungnya masih di dekat Depdagri). Itu sudah lebih dari 3 tahun yang lalu. Selanjutnya kami pernah liputan bareng di Pengadilan Tipikor dan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Aku memang kerap diminta liputan hukum, karena itulah aku mengenal sosok Mbak Vin. Meskipun memang kami jarang ketemu karena perbedaan tempat ‘ngepos’. Aku lebih sering di PN Jakpus, sedangkan Mbak Vin lebih sering di KPK.

Ketika dia liputan di PN Jakpus lantaran menggantikan temannya, kami pun terlibat pembicaraan. Bukan obrolan pribadi memang, tapi lebih kepada materi liputan. Mbak Vin orang yang baik. Ketika bolpenku mati, dia memberikan satu bolpennya buatku. “Pinjam ya, Mbak,” kataku kala itu. “Udah buat kamu saja,” timpalnya.

Tidak banyak memang kenangan di antara kami. Kami juga tidak cukup dekat. Tapi aku selalu mendapat berita tentangnya meski aku tidak lagi menekuni profesi yang sama dengan Mbak Vin. Kira-kira setahun lalu, aku mendapat kabar Mbak Vin terapi ke China untuk penyembuhan kanker paru-parunya. Ingin sekali menengoknya ketika dia pulang ke Indonesia, tapi niat itu belum juga terlaksana. Hingga Jumat 11 Desember lalu, temanku menelpon dan mengabarkan Mbak Vin sudah pergi. Bukan ke China atau tempat lain di muka bumi ini, tapi dia pergi untuk menghadap-Nya.

Kini, tidak ada lagi sosokmu di KPK, Mbak. Tidak ada lagi kode namamu dalam sejumlah berita di Kompas. Kami kehilangan, tapi kami ikhlaskanmu, Mbak. Selamat jalan Mbak Vin, semoga damai di sisi-Nya. Amin.