Tags

Aku inget banget, waktu itu aku tengah terpuruk. Merasa dunia memusuhiku. Merasa semua yang kulakukan salah. Merasa semua di sekelilingku salah. Tapi ada tangan-tangan gaib yang kemudian memindahkanku ke tempat yang lebih baik. Tempat di mana aku tersenyum lagi. Tempat yang membuatku merasa lebih nyaman dan merasa lebih baik.

Waktu itu aku menangis. Putus asa. Tiba-tiba dikirimkannya seseorang yang pernah menjadi pemegang tahta tertinggi di hatiku. Aku kembali tersenyum. Ada optimisme yang merayap naik. Tidak lama dikirimkan juga seseorang yang memberiku tongkat untuk membantuku bangkit. Air mata itu benar-benar menguap, berganti dengan senyum lebar.

Lalu secara bertubi-tubi, dimudahkannya usahaku menemui serombongan orang baru. Orang-orang yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya bakal menjadi potongan mozaik dalam hidupku. Siapa sangka, bomber di Bali pada 2002 lalu menjadi salah satu potongan mozaik yang melengkapi potongan-potongan lainnya dalam hidupku. Seorang pengarang buku, bagiku hanya sekadar pengarang buku bila aku tidak menulis tesis tentang analisis framing. Seorang kadensus bagiku juga hanya akan jadi seorang kadensus yang tidak ada keterkaitan apa-apa denganku hingga aku menulis tesis tentang analisis framing isu terorisme.

Terlalu banyak keajaiban yang diberikan Tuhan padaku. Padahal aku belum jadi umat yang baik. Sekeluarnya dari tahanan beberapa hari lalu, aku ingin beribadah dengan lebih baik: solat yang khusyuk, puasa, dan beramal. Aku juga ingin belajar lebih rajin. Bukankah Tuhan menyukai orang-orang yang rajin menuntut ilmu.

Terkadang aku merasa waktuku 1,5 tahun belakangan ini terbuang begitu saja. Tapi bukankah tidak ada sesuatu yang terjadi dengan kebetulan saja. Aku belajar banyak hal di sini, meski ada banyak hal yang mengecewakan. Dan… beberapa hari lalu tawaran menggiurkan untuk masa depanku datang. Lagi-lagi Tuhan memberikan miracle buatku. Alhamdulillah. Setelah air mata, ada tawa. Aku juga harus bersiap jika setelah tawa ada air mata lagi. Semoga Tuhan selalu memberiku kekuatan. Amin.