Tags

Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur lahir di Jombang Jawa Timur, 4 Agustus 1940. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos menjadi ciri khas pria yang menjadi presiden ke-4 RI ini. Ketika memimpin Negeri ini, Gus Dur menunjukkan sikapnya yang sangat menghargai perbedaan. Di masanya, Tahun Baru Imlek diakui perayaannya secara nasional.

Karenanya ketika Gus Dur menghembuskan nafasnya yang terakir pada 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB, Bangsa ini bersedih. Bapak Pluralisme itu meninggal di RSCM Jakarta dalam usia 68 tahun. Sebelum meninggal, sosok yang juga dikenal sebagai agamawan ini dirawat karenabeberapa penyakit yaitu jantung, ginjal dan juga penyakit pembuluh darah.

Gus Dur meninggalkan seorang istri dan 4 putri. Beberapa saat setelah alumnus Universitas Baghdad, Irak, ini  meninggal berhembus kabar bahwa meninggalnya Gus Dur adalah karena dibunuh. Namun kabar ini ditampik pihak keluarga. “Berita seperti itu di saat sekarang ini buat kami sebagai pihak keluarga semakin sedih ya, tapi kami percaya tim dokter sudah lakukan yang terbaik, sehingga kita engga percaya sms itu,” kata anak bungsu Gus Dur Innayah seperti dikutip tayangan Halo Selebriti di SCTV, Rabu (6/1).

Semasa hidupnya, Gus Dur senang mendengarkan dan menyaksikan pagelaran wayang kulit. Dia juga gemar mendengarkan musik, terutama lagu-lagu karya Beethoven berjudul Symphony No. 9 th, Mozart dalam 20 th piano concerto, Umm Khulsum dari Mesir, Janis Joplin dan penyanyi balada Ebiet G. Ade. Mantan Ketua Umum Dewan Kesenian Jakarta ini juga senang mengamati pertandingan sepak bola, terutama liga Amerika Latin dan liga Eropa. Hobinya yang lain adalah mendengarkan audio book, terutama mengenai sejarah dan biografi.

Ketika masih menjadi wartawati, beberapa kali saya meliput Gus Dur, baik ketika dia menjadi pembicara dalam suatu diskusi, konferensi pers, saat dia sakit, atau isu seputar dirinya. Ketika menulis Gus Dur, akan ada banyak hal yang bisa ditulis karena dia adalah politisi yang juga agamawan, intelektual, budayawan, dan juga negarawan. Bahkan kini ketika Guru Bangsa ini pergi, bagi sebagian orang, menulis Gus Dur mungkin suatu proses yang belum selesai.

Beberapa tulisan di bawah ini adalah laporan saya ketika meliput Gus Dur. Gus, ini untuk mengenangmu. Selamat jalan, semoga Gus Dur tenang dan damai di sisi-Nya. Amin.

Gus Dur: Cawapres Saya Rahasia Perusahaan
Nurvita Indarini – detikcom

Jakarta – PKB mencalonkan Gus Dur jadi capres dalam Pemilu 2009. Namun, Gus Dur masih merahasiakan capresnya.

“Itu rahasia perusahaan. Setengah tahun sebelum pemilu akan saya buka,” kata Ketua Umum Dewan Syuro PKB ini di Gedung PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (31/10/2007).

Gus Dur juga membenarkan pencalonan dirinya sebagai capres didukung kelompok akar rumput PKB. “Oh iya, semua. PKB dalam putusan rapat, seluruh wilayah sudah mendukung,” ujarnya.

Mengenai adanya hambatan usia yang bisa menjegal langkah Gus Dur menjadi capres, Gus Dur hanya menilai itu hanyalah tantangan yang diberikan angkatan muda.

“Itu kan tantangan dari angkatan muda. Kita lihat saja, kenyataannya tidak begitu. 70 Tahun saja Soeharto jadi presiden diabaikan,” celetuknya.

Mengenai manuver-manuver antara SBY-JK?

“Itu kan akibat dari pertentangan antara SBY dan JK. Kalau SBY ngomong A, Kalla ngomong B. Seperti orang balapan saja,” sindir Gus Dur. (nwk/nrl)


Resep Jitu Gus Dur Tangkal Diskriminasi
Nurvita Indarini – detikcom

Jakarta – Mengapa diskriminasi ada dalam kehidupan ini dan sulit dienyahkan dari lubuk hati manusia? Gus Dur punya resep jitu untuk menangkalnya. Apa itu?

“Bila manusia memiliki rasa kasih sayang, tentunya diskriminasi tidak akan terjadi,” kata Gus Dur.

Hal ini disampaikan mantan presiden yang kini menjabat Ketua Dewan Syuro PKB ini dalam acara ‘Kongkow Bareng Gus Dur’ di Kedai Tempo, Jl Utan Kayu, Jakarta, Sabtu (7/7/2007).

Pesan Gus Dur terkait RUU Anti Diskriminasi Ras dan Etnis. RUU itu dinilai memiliki sudut pandang sempit. Sebab 6 hal lainnya tidak masuk dalam RUU tersebut.

Keenam hal itu adalah agama atau kepercayaan, gender, keyakinan politik, usia, kemampuan, dan status sosial ekonomi. ( sss / ana )

Gus Dur: Saya Pernah Jadi Korban Diskriminasi
Nurvita Indarini – detikNews

Jakarta – Diskriminasi bukan hanya menimpa rakyat jelata. Tokoh bangsa pun pernah mengalaminya. Tak terkecuali mantan Presiden Gus Dur.

“Saya korban diskriminasi KPU. Saya sempat dilarang jadi presiden pada 2004,” kata Gus Dur dalam acara ‘Kongkow Bareng Gus Dur’ di Kedai Tempo Jl Utan Kayu, Jakarta Timur, Sabtu (7/7/2007).

Gus Dur yang juga Ketua Dewan Syuro PKB itu mengungkapkan, dirinya dilarang menjadi presiden karena buta. Padahal, seseorang yang tidak bisa melihat bukan berarti sakit.

“Mereka (KPU) tidak mau tahu. Mungkin mereka pikir kalau ada saya jadi geger,” ujar Gus Dur.

Terkait Pilpres 2009 yang menyisakan 1,5 tahun lagi, Gus Dur menyatakan, kalau ada peritah dari orang-orang tua untuk menjadi presiden, maka dia akan menjalaninya. “Dulu saya jadi presiden karena diperintahkan orang-orang tua, dan saya maju jadi capres tanpa timses (tim sukses). Kalau diperintah lagi, ya akan saja jalani,” tukasnya. (irw/sss)


26/09/2005 15:51 WIB
Gus Dur: Kalau Masyarakat Marah, Pemerintahan Bisa Jatuh
Nurvita Indarini – detikcom

Jakarta – Bukan Gus Dur namanya kalau tidak ceplas-ceplos. Mantan Presiden RI yang bernama panjang Abdurrahman Wahid ini memperingatkan pemerintah akan konsekuensi menaikkan harga BBM. Konsekuensi itu tak main-main, yaitu pemerintahan bisa jatuh.

“Dengan kenaikan harga BBM, banyak masyarakat yang marah. Kalau masyarakat sangat marah, maka pemerintahan bisa saja jatuh,” begitu kata Gus Dur di sela-sela acara peringatan ulang tahun Wahid Insititute di kantornya, Jalan Taman Amir Hamsyah 8, Pegangsaan, Menteng, Senin (26/9/2005).

Acara peringatan Wahid Institute ini dihadiri Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar dan para politisi PKB lainnya. Juga hadir antara lain calon walikota terpilih Depok dari PKS yang kemenangannya dianulir Pengadilan Tinggi Jawa Barat, Nur Mahmudi Ismail, serta pemilik harian Kompas Jacob Oetama.

Gus Dur juga menasihati pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan menyatakan, menaikkan harga BBM itu soal mudah. Yang sulit dilakukan adalah bagaimana menyiapkan masyarakat agar kenaikan harga BBM tidak membuat hidup rakyat makin sudah dan menimbulkan gejolak.

Sementara soal rencana pemerintah menyalurkan subsidi langsung tunai atau cash transfer, Gus Dur menganggapnya sebagai janji kosong. “Cash transfer yang Rp 100 ribu per bulan itu hanya omong kosong. Kompensasi yang dulu saja tidak jalan, apalagi ini,” tandas Gus Dur. ( gtp )


Gus Dur: Pemerintah Jangan Turut Campur Masalah Pesantren
Nurvita Indarini – detikNews

Jakarta – Kritik terhadap pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla agar melakukan pengawasan terhadap beberapa pesantren terus berdatangan. Kini, kritik itu datang dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang meminta pemerintah tidak turut campur dalam masalah penanganan pesantren.

“Biarkan pesantren mengatur dirinya sendiri. Untuk urusan pengawasan pesantren hendaknya pemerintah menyerahkan kepada masyarakat,” kata Gus Dur usai menerima rombongan biro antar bangsa majelis tertinggi Partai UMNO Malaysia, Di Kantor DPP PKB Jl Kalibata Timur I, Jakarta, Sabtu (22/10/2005).

Ketua Dewan Syuro PKB ini juga menjelaskan, bahwa pesantren memiliki arti yang penting bagi masyarakat terutama umat Islam. “Dulu pada masa Orba kita direpresi oleh pemerintah. Tapi pesantren bisa menjadi penahan atas represi tersebut. Bahkan, kalau rakyat mau belajar tentang kejujuran dia bisa tinggal di pesantren,” tuturnya.

Namun, Gus Dur mempersilakan pemerintah jika ingin menganggap kalau pesantren sebagai organisasi yang ekstrim. “Itu terserah pemerintah. Tapi kalau soal pengawasan ya jangan, soalnya itu sudah menjadi urusan masyarakat.Kalau masyarakat menganggap pesantren itu jelek tentu tidak akan masuk ke pesantren itu,” tandasnya. (ahm/)


Gus Dur: Ada Krisis Besar Kok Malah Ngarang Lagu
Nurvita Indarini – detikNews

Jakarta – Peluncuran album “Rinduku Padamu” oleh Presiden SBY bukan lantas membuat Gus Dur ikut bersenandung ria. Ketua Umum Dewan Syuro PKB ini malah ngedumel.

“Ada krisis begitu besar kok malah ngarang. Padahal kenyataannya, SBY kurang perhatian terhadap masalah kemiskinan, kebodohan. Eh, malah ngarang lagu,” ketus Gus Dur di Gedung PBNU Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (31/10/2007).

Mengarang lagu itu, lanjut dia, dinilai hanya sebagai pelampiasan SBY yang melihat banyak krisis di Indonesia. “Mungkin krisisnya sudah terlalu besar bagi dia, sehingga dia berpikir untuk ngarang lagu saja,” ujar Gus Dur.

Mantan Presiden ini pun menasihati SBY, jadi pemimpin memang harus melewati dan menghadapi serangan. “Beberapa orang menggunakan sihir pada saya. Padahal hidup dan mati kan di tangan Tuhan,” kata Gus Dur yang mengenakan batik coklat.

Album “Rinduku Padamu” diluncurkan SBY pada 28 Oktober 2007. Album rekaman bersampul biru itu berisi 10 lagu ciptaan SBY. Namun SBY tidak menyanyikan lagu-lagu ciptaannya, melainkan sejumlah artis seperti Ebiet G Ade, Widhi AB Three, Dea Mirela, dan Band Kerispatih. (nwk/sss)


Gus Dur Minta MUI & FPI Tidak Cawe-cawe Soal Al Qiyadah
Nurvita Indarini – detikNews

Jakarta – Gus Dur menyentil aksi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Front Pembela Islam (FPI) dinilainya campur tangan mengurusi aliran Al Qiyadah Al Islamiyah. Bagi Gus Dur, penyelesaian aliran pimpinan ‘Rasul’ Ahmad Moshaddeq sebaiknya diserahkan ke Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem).

“Saya lihat MUI dan FPI sudah turut campur dalam masalah ini. Padahal kan ada Pakem. MUI dan FPI nggak usahlah ikut-ikutan, serahkan saja pada yang mengurusi,” kata Gus Dur.

Hal ini disampaikan Gus Dur di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (31/10/2007). Gus Dur mengatakan yang tergabung dalam Pakem itu adalah Depdagri, Depag, dan Kejagung. Gus Dur kembali menyatakan, aliran Al Qiyadah tidak sesat, tetapi salah.

Salahnya apa, Gus? “Ya itu, kalau menurut umat Islam rasul terakhir Nabi Muhammad. Nah itu mereka pemimpinnya malah ngaku rasul,” terang Gus Dur yang terbalut batik warna coklat ini.

Namun demikian, Gus Dur menilai Al Qiyadah harus ditindak sesuai aturan yang berlaku. “Mereka didik agar kembali ke jalan yang benar,” ujarnya diplomatis. (aan/nrl)


Kamis, 22/12/2005 01:12 WIB
Kasus Munir, Gus Dur Imbau SBY Bentuk Tim Kepresidenan
Nurvita Indarini – detikNews

Jakarta – Desakan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengambil kebijakan untuk menuntas kasus pembunuhan Munir kembali datang. SBY diimbau membentuk Tim Kepresidenan dengan mandat yang kuat, jelas dan rinci untuk meneruskan temuan TPF Munir.

Imbauan ini disampaikan mantan Presiden Abdurrahman Wahid dalam jumpa pers di kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (22/12/2005).

Dalam pernyataan sikap itu Nugroho, salah satu orang dekatnya, Gus Dur menyatakan hingga kini belum ada proses peradilan yang serius menyeret dan mengadili pelaku mulai dari pelaku lapangan hingga dalangnya. Ini menunjukkan adanya impunity yang masih berakar di Indonesia.

Menurut Gus Dur, Pollycarpus hanyalah pelaku lapangan yang tidak akan melakukan tindakan jika tidak ada otak di belakangnya. Gus Dur juga mengingatkan SBY bahwa kasus Munir masih jauh dari selesai dan jauh dari keadilan. SBY tidak boleh membiarkan kasus Munir ditangani secara setengah-setengah.

Oleh karena itu Gus Dur mengimbau Presiden SBY membentuk Tim Kepresidenan dengan mandat yang kuat, jelas dan rinci untuk meneruskan temuan TPF Munir khususnya untuk mengaudit kinerja kepolisian dan melakukan penyelidikan di tubuh BIN. Gus Dur juga mengharapkan agar hal yang sama juga harus diberlakukan pada kasus lainnya, seperti kasus di Poso (Sulteng).

Ketika ditanya wartawan apakah akan menyampaikan usulannya dengan menghadap SBY, Gus Dur mengatakan ia menunggu di nunggu dipanggil. “Kalau saya bilang saya akan menemui SBY, itu kan tidak selalu berarti fisik, bisa saja surat. Tapi memang lebih bagus kalau bertemu langsung.”

Dalam kesempatan itu Gus Dur juga menyinggung soal lemahnya penegakan kedaulatan hukum. “Penegakan kedaulatan hukum belum ada karena peraturan dan perundangan masih banyak yang belum dijalankan,” ujar Gus Dur dalam jumpa pers yang dihadiri Koordinator Kontras Usman Hamid, dan istri Munir, Suciwati. (gtp/)


Gus Dur Ngedumelin Presiden SBY
Nurvita Indarini – detikNews

Jakarta – Meski PKB santai-santai saja tidak punya jagoan dalam Pilkada DKI Jakarta, bukan berarti merasa plong. Gus Dur pun masih ngedumel terhadap Presiden SBY.

“Tadinya saya punya calon di Pilkada DKI, yaitu Agum Gumelar, tapi Presiden ikut-ikutan, jadi ya saya lepas,” gerutu Gus Dur. Hal ini disampaikan mantan presiden yang kini menjabat Ketua Dewan Syuro PKB ini dalam acara ‘Kongkow Bareng Gus Dur’ di Kedai Tempo, Jl Utan Kayu, Jakarta, Sabtu (7/7/2007).

“PKB tidak punya calon, kalau Presiden ikut-ikutan pemilihan lokal, ya susah,” cetus Gus Dur. Ikut-ikutannya Presiden yang seperti bagaimana? “Ya tanya saja SBY, kan dia yang ikut-ikutan,” ketusnya. (sss/ana)

Minggu, 12/03/2006 17:25 WIB
Presiden Bentuk Tim Dokter Tangani Kesehatan Gus Dur
Nurvita Indarini – detikNews

Jakarta – Labilnya kondisi kesehatan Gus Dur membuat Presiden SBY prihatin. Presiden pun membentuk tim dokter kepresidenan guna membantu pemantauan kondisi Gus Dur.

“Beliau beri instruksi kepada dokter kepresidenan untuk memonitor semuanya,” ujar putri Gus Dur, Yenny Wahid, kepada wartawan di Paviliun Supardjo Rustam, Instalasi Pelayanan Khusus Stroke, RSCM, Jakarta, Minggu (12/3/2006) petang.

Pemilik nama Zannuba Arifah Chafsoh Rahman Wahid ini mengaku sudah dikontak Presiden SBY. “Presiden memberi perhatian besar dan besok saya akan lapor ke beliau,” ungkap dia.

Tim dokter bentukan Presiden akan dipimpin oleh dr Joko. Tim ini nantinya akan membantu kelancaran pemeriksaan kondisi Gus Dur. “Intinya, kala ada alat yang tidak bisa disediakan RSCM, nantinya akan dibantu,” kata staf khusus SBY ini.

Yenny sendiri belum bisa memastikan kapan tim tersebut akan bekerja. Namun, sejauh ini kontak antara tim dokter Gus Dur dengan kepresidenan sudah dilakukan. “Yang jelas Rabu nanti mereka akan rapat untuk membahas langkah yang akan diambil,” tuturnya.

Kondisi Gus Dur kini, menurut Yenny, sudah stabil. “Kadar gula dan tekanan darahnya memang sempat naik. Tapi selama di sini, dietnya terjaga,” tandasnya. (ton/)