Tags

,

Beberapa kali bajuku basah lantaran kehujanan. Berkali-kali aku terserang flu karena hujan. Tapi aku selalu menyukai hujan.

Dulu, dulu sekali, sering kali ketika hujan turun di siang atau sore hari, seorang bocah laki-laki mengajakku bermain bersama. Kami berlarian di halaman dalam guyuran hujan. Kami pun senang berjalan-jalan di tengah hujan memakai satu payung untuk berdua. Di saat yang lain kami berdiri di bawah cucuran atap.

“Kayak di air terjun ya,” kata bocah laki-laki itu kegirangan.

“Iya, iya air terjun,” sahutku tak kalah girang.

Meski hujan kerap membuatku masuk angin, aku tetap suka hujan. Sebab ketika hujan turun aku sering menghabiskan waktu bersama bocah lelaki bernama Arya itu. Sosok yang membuat aku merasakan bagaimana cinta monyet yang juga menjadi cinta pertamaku.

“Hachim.” Aku dan Arya bersin berbarengan di dalam kelas.

“Pilek juga ya Ki? Gara-gara kita hujan-hujan kemarin ya?” tanya Arya sambil menyedot ingusnya.

“Kayaknya gitu deh. Kemarin aku juga dimarahi lagi sama Ibu.”

“Aku juga. Tapi aku nggak kapok, soalnya aku kan cowok hujan.”

“Aku juga putri hujan. Kita kan reinkarnasi dari pangeran dan putri hujan, makanya kita suka banget sama hujan,” celotehku.

“Iya, benar,” timpal Arya dengan wajah serius.

Ketika aku dan Arya sudah agak besar, aku masih saja menyukai hujan. Meskipun memang aku dan Arya tak lagi bermain hujan-hujanan.

Bress. Hujan turun dengan lebat siang itu, begitu bel pulang sekolah berbunyi. Aku mengeluarkan payung dari tasku.

“Hei Ki, bawa payung ya? Nebeng dong,” Arya menepuk punggungku. Meski kami satu sekolah dan masih bertetangga, sekarang kami tidak sesering dulu bermain bersama. Entah apa yang membuat jarak tak terlihat membentang di antara kami.

“Boleh, yuk,” kataku sambil tersenyum.

“Sini biar aku aja yang bawa payungnya,” Arya mengambil gagang payung dari tanganku. Tanpa sengaja jari-jari kami bersentuhan selama beberapa detik.

Tangan bersentuhan dengan Arya, berdekat-dekatan, dan bergandengan tangan, sebenarnya bukan hal asing bagiku. Tapi kini hal itu memicu debaran hebat di jantungku. Debaran itu makin hebat ketika Arya merengkuh lenganku.

“Mepet sini dong, Ki, nanti kamu basah,” ujarnya.

Suatu hari Arya main ke rumahku. Dia mau pinjam beberapa buku dan DVD. Setelah sekitar satu jam memilih-milih, Arya membawa setumpuk buku, majalah, dan DVD.

“Aku ambilin kantong plastik dulu ya Ar,” kataku sambil beranjak ke belakang.

Begitu aku balik ke ruang tamu, hujan deras tiba-tiba turun. “Wah hujan ya, kalau gitu nanti aja pulangnya, Ar. Ibu juga lagi goreng pisang lho, kita makan pisang sambil ngobrol yuk,” ujarku penuh harap.

“Wah kayaknya enak tuh. Ya udah kita ngobrol di teras aja sambil lihat hujan.”

Aku hampir aja bersorak kegirangan. Jujur, aku kangen saat-saat bareng Arya yang kini sudah semakin jarang.

“Udah lama ya Ki, aku nggak main lama di rumah kamu. Kita juga jarang ngobrol kayak dulu.” Arya buka suara sambil menggigit pisang goreng yang masih hangat.

“Iya. Padahal dulu kita ke mana-mana bareng. Sekarang kita masih satu sekolah, rumah masih dekat, tapi nggak bisa kayak dulu,” keluhku.

“Ya gimana ya Ki, kita kan bukan anak kecil lagi yang bisa bebas mau main apa saja dan melakukan apapun yang disukai. Kita sekarang juga punya kesibukan sendiri-sendiri.”

Kata-kata yang keluar dari mulut Arya itu membuatku merasa semakin jauh darinya. Ketika banyak hal berubah, mengapa hanya aku yang nggak bisa mengubah perasaanku pada Arya.

“Putri hujan,” celetuk Arya tiba-tiba.

Aku mendongak ke arahnya. Sudah hampir tiga tahun aku nggak pernah menyebut dan mendengar ‘putri hujan’. Setelah sekian banyak hal terjadi, masihkah Arya mengingat kekonyolan kami saat masih kecil.

“Kenapa Ki? Itu kamu kan, putri hujan?” kata Arya seolah ingin mengingatkan aku.

“Iya, dan kamu cowok hujan,” balasku.

“Kita adalah reinkarnasi pangeran dan putri hujan,” kataku dan Arya berbarengan. Kami pun tertawa.

“Ha ha, lucu juga kalau ingat yang dulu-dulu. Imajinasi kita kelewat tinggi ya Ki,” ucap Arya.

“Tapi sampai sekarang aku masih suka hujan,” kataku cepat.

“Iya soalnya enak buat tidur,” timpal Arya.

Bukan Ar, karena hingga kini hujan masih kerap membuatmu berada di sampingku. Meski memang, tak sesering dulu.

Meski seragam sekolah sudah berganti menjadi putih abu-abu tetapi aku dan Arya masih jadi teman satu sekolah. Terkadang kami pulang dan berangkat sekolah bersama. Hasilnya apa? Banyak cewek di sekolah yang memandang iri ke arahku. Maklum, Arya kan cakep dan pinter, jadi wajar aja kalau dia populer.

“Hai Ki, jajan apaan?” sapa Arya yang tiba-tiba berdiri di sampingku.

“Eh kamu Ar, nih cuma beli gorengan kok. Kamu mau sekalian aku beliin?”

“Bener nih? Asyik. Aku beli ini aja ya Ki. Makasih ya,” kata Arya sambil mencomot pisang goreng dan tahu isi.

“Bener nih cuma itu, mumpung aku lagi baik lho.”

“Oh lagi baik ya, kalau gitu aku mau nasi kuning, es teh, sama kue sus ya.”

“Wah langsung ngeborong gitu. Emang kamu tadi nggak sarapan Ar?”

“Nggak. Soalnya ibu sama ayah tadi malam ke Semarang, kakekku sakit.”

“Ya ampun, kasihan banget sih. Emang nggak ada stok makanan?”

“Kebeneran banget semua lagi abis. Ibu belum sempat belanja, soalnya kakek tiba-tiba aja sakit.”

“Kalau gitu nanti sore aku anterin makan malam buat kamu ya. Atau kamu mau makan bareng di rumahku?”

“Wah aku bakal ngerepotin nih. Aku makan di luar nggak apa-apa kok.”

“Ar, rezeki tuh nggak boleh ditolak. Dari pada jajan, kan mending makan makanan rumahan.”

“Ya udah deh nanti habis maghrib aku ke rumahmu.”

“Oke, kutunggu ya.”

Saat itu aku senang sekaligus sedih. Aku senang karena berhasil membuat Arya memberikan waktunya lagi buatku. Tapi aku juga sedih sama diriku sendiri yang bisa bergembira saat keluarga Arya bersedih.

Arya makan malam bersama keluargaku. Ini pertama kali kami makan bareng lagi sejak hampir 6 tahun.

Berbagai topik obrolan berhambur di meja makan, mulai soal kakeknya yang sakit, sekolah, kenangan masa lalu, hingga pacar.

“Arya belum punya pacar kok, Oom, kan belum 17 tahun,” ujar dia ketika ditanya ayah soal siapa pacarnya. Meski aku tahu Arya belum punya pacar, tapi mendengar kalimatnya itu aku lega.

“Kiara juga belum oom dan tante izinkan pacaran karena belum 17 tahun juga. Tapi nanti kalau sudah 17 tahun dia siap-siap ujian, jadi apa ya kepikiran buat pacaran,” kata ayah sambil melirik ke arahku.

“Kalau Kiara sih di sekolah yang naksir banyak, Oom. Jadi Kiara tinggal pilih aja.” Arya menggodaku.

“Lho kamu kan yang kebanjiran fans. Kalau aku berangkat sekolah bareng kamu aja udah dipelototin ama cewek-cewek satu sekolah,” balasku.

“Ih lebay deh kamu, Ki. Nggak ada yang begituan. Ada-ada aja kamu.”

“Ya kamu aja yang nggak tahu. Kamu kan emang nggak peka.”

“Kalau soal kayak gitu sih emang nggak seharusnya diperhatiin berlebihan. Kamu juga kan sama aja, nggak ngerasa kalau banyak fansnya.”

“Udah udah, nanti malah berantem kalian,” ibu menengahi.

Usai makan Arya membantuku mencuci piring dan membereskan meja. “Ar kamu sekarang rajin ya. Dulu kan kamu mana mau beresin piring bekas makan kamu.”

“Ini karena aku numpang makan. He he nggaklah. Kasian ibu kan kalau semua dikerjakan sendiri.”

“Wah ternyata kamu anak baik ya.”

“Nggak juga. Aku sebenarnya mau cuci piring karena aku mau kamu temenin aku belanja ke supermarket sekarang.”

“Wah salah alamat deh pujiannya. Eh tapi kok belanja, kamu makan di sini aja terus. Kalau kamu mau, tinggal di sini aja dulu sampai ayah ibu kamu pulang.”

“Apa? Kita tinggal serumah dong. Wah nanti aku nggak laku lagi di pasaran,” canda Arya.

“Ar, apaan sih. Aku serius.”

“Ki, nggak bisa begini terus dong. Aku nggak boleh bergantung terus sama orang lain.”

“Tapi aku kan bukan orang lain. Keluargaku nggak keberatan kok.”

Arya terdiam mendengar perkataanku. Dia mengelapkan tangan yang basah ke bajunya, lantas memegang kedua lenganku.

“Ki, aku tahu kamu pasti nggak tega sama aku. Kamu pasti akan selalu perhatian sama aku. Kamu emang sahabat terbaikku sampai kapanpun, tapi aku nggak mau manja. Kamu ngerti, kan?”

Apa? Aku hanya akan menjadi sahabat dia selamanya? Apakah hubungan kami akan tetap dan selalu seperti ini?

Aku menemani Arya belanja malam itu. Orang-orang yang melihat menyangka kami seperti apa ya? Kakak-adik atau pasangan muda yang sedang belanja.

Ya ampun, aku mikirin apa sih. Tanpa sadar aku menggeleng-gelengkan kepala.

“Ki, kamu kenapa sih geleng-geleng kepala gitu?” tanya Arya tiba-tiba.

“Eh anu agak pusing, tapi nggak apa-apa kok,” bohongku.

“Beneran? Mau duduk dulu? Yuk ke kursi yang dekat jual makanan,” ajaknya.

“Nggak apa-apa Ar. Beneran kok. Aku kadang emang suka rada pusing tiba-tiba. Tapi nggak kenapa-kenapa kok.”

“Ya udah, kalau masih pusing bilang ya.”

Ya ampun Arya baik banget, padahal kan aku tadi cuma bohong aja sama dia. Aku jadi nggak enak sendiri.

Waktu kami berdua mau keluar supermarket, tiba-tiba hujan turun. Karena nggak bawa payung, kami sepakat untuk minum kopi dulu sambil menunggu hujan reda. Lagi-lagi hujan membuat aku bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Arya.

“Wah tadi kenapa nggak kepikir bawa payung ya Ki.”

“Iya ya. Kalau hujannya lama kita pulang naik becak atau mau beli payung?”

“Becak aja ya. Emm nih kamu pakai jaketku,” kata Arya sambil mengulurkan jaket parasut hitamnya.

“Aku nggak dingin kok, Ar.”

“Tadi kan kamu pusing, kalau kena angin nanti bisa sakit. Ayo pakai.”

“Makasih ya. Kamu baik banget Ar, jadi terharu.”

“Ih kamu kok sekarang lebay banget sih. Mmm maaf ya, sekalinya ngajak kamu keluar malam malah kehujanan.”

Ya ampun Ar, asal sama kamu, mau basah kuyup, diterjang badai atau apa juga nggak masalah. “Santai aja lagi Ar kayak di pantai. Lagian besok kan hari Minggu, jadi makin santai aja lah.”

Arya tersenyum mendengar perkataanku. Setelah 30 menit nongkrong, kami pun pulang naik becak. Malam Minggu itu aku masih menyukai hujan.

Minggu pagi setelah selesai menyapu dan menjemur pakaian, aku bantu ibu di dapur. Tiba-tiba Arya menelpon.

“Ki, bantu aku masak dong. Kamu bisa masak kan?” tanya Arya.

“Kalau masak yang biasa-biasa aja, aku sih bisa. Kamu mau masak apa?”

“Sop, tempe cabe ijo, sama ayam kecap. Nanti siang ayah dan ibu pulang, dan kakek ikut ke sini.”

“Oh kakek udah sehat? Syukur deh. Oke nanti kubantu. 15 Menit lagi aku sampai ya.”

Aku pun bergegas ke rumah Arya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku. Acara masak bersama segera dilakukan begitu aku memasuki rumahnya. Wah sudah lumayan lama juga aku nggak menginjakkan kaki ke rumah Arya.

“Aku juga nggak jago sih Ar, soalnya kalau bantu ibu masak aku cuma kebagian cuci sayuran ama nyicip.”

“Nggak apa-apa yang penting kamu punya sedikit pengalaman di dapur. Ayo kita berusaha,” kata Arya dengan mimik lucu. Aku pun tergelak.

Selama dua jam lebih kami berdua berjibaku di dapur. Kadang-kadang terdengar suara cekikikan kami karena tidak bisa membedakan bumbu atau karena sedikit-sedikit mencicipi masakan kami.

“Wah enak juga ya masakan kita. Nanti kita buka warung aja Ar pasti laris manis.”

“Wah yang ada malah habis sama kita sendiri, orang dikit-dikit dicicipi.”

Saat kami salat dhuhur berjamaah, hujan turun. Kami duduk di teras sambil ngobrol. Menurutku ngobrol dengan orang yang disukai dengan iringan suara hujan sangat romantis. Makanya aku suka sekali hujan.

Hujan selalu mengukir banyak kisah tentang Arya buatku. Sebab kebersamaan kami sejak duduk di bangku SD hingga SMA banyak dironai dengan cerita hujan. Tapi tidak ada satupun cerita cinta dalam pita film hubungan kami.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat tanpa menoleh. Peristiwa memasak bersama aku dan Arya juga sudah menjadi bagian kenangan dua tahun lalu. Setelah kejadian itu, kami bukannya semakin sering bersama tapi jarak justru semakin membentang. Tidak ada lagi obrolan panjang di antara kami. Sapaan ‘hi’ bila bertemu menggantikan obrolon, curhat, atau basa-basi tidak penting.

Sering aku berusaha diam-diam agar bisa pulang atau berangkat bareng Arya. Tapi sulit sekali sebab Arya kerap nebeng temannya. Apalagi aku mendengar gosip Arya sedang dekat dengan Cheryl sang mayoret. Mereka berdua juga sering digoda oleh teman-teman. Wajah Arya yang memerah ketika digoda tidak bisa kutemukan terjemahannya.

Hingga suatu sore sepulang les di sekolah, hujan deras turun. Karena tengah musim kemarau, aku pun tidak membawa payung. Aku melirik ke depan kelas 12 IPA 1, kelas Arya. Kulihat Arya sedang memperhatikan langit. Ups dia menengok ke arahku sehingga kami beradu pandang. Aku salah tingkah seketika dan segera membuang pandangan ke arah lain.

“Ki, pulang bareng yuk. Kita hujan-hujanan aja,” ajak Arya sambil tersenyum jahil. Senyum yang tak pernah berubah.

“Mmm kamu naik angkot? Nggak nebeng Ardi?”

“Ardi hari ini nggak masuk, jadi aku nggak punya tebengan. Mau ya?”

“Oke,” sambutku kegirangan.

Seketika kami pun menerobos hujan. Lukisan senyum menyertai langkah-langkah kami. Aku seperti kembali ke masa kecilku dulu. Di belakang, riuh suara teman-teman menyoraki kami.

Hari ini hujan turun dengan deras. Suara petir menyeruak langit. Hari ini tepat 7 tahun setelah aku dan Arya hujan-hujanan sepulang sekolah.

Di atas pangkuanku tergeletak undangan pernikahan. Undangan itu atas nama Arya Ridho Pradipta dan Kiara Tungga Dewi. Ya, itu adalah surat undangan pernikahanku dan Arya yang baru selesai dicetak.

Tiba-tiba ponselku berdering. Rupanya Arya yang menelponku.

“Hallo Ar, di mana?”

“Ini baru mau pulang. Undangannya udah jadi ya?”

“Iya, udah. Bagus deh. Nanti kamu langsung mampir ke rumah ya buat ngeliat undangannya.”

“Oke. Ya udah, aku jalan ya. Dagh. Love you.”

“Love you too. Dagh.”

Tidak semua cinta pertama menjadi seperti yang aku alami. Makanya aku sangat bersyukur bisa mendapatkan cinta pertamaku. Arya, laki-laki di luar keluargaku yang selalu ada dalam hidupku.

Aku jadi ingat saat dia melamarku. Itu 7 tahun lalu saat kami berada di dalam angkot setelah berhujan-hujanan sepulang sekolah.

“Ki, will you marry me?” tanya Arya kala itu dengan tiba-tiba.

“Apa?” Aku kaget.

“I love you, Ki, sedari kita kecil sampai sekarang. Dan itu nggak akan pernah berubah sampai kapanpun, I promise you,” kata dia sambil berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

“Tapi… Kok married? Kita kan belum lulus SMA Ar.”

“Ya emang nggak married sekarang. Setelah lulus aku mau kuliah di Australia. Aku minta kamu mau tunggu aku. Kita menikah setelah kita kerja. Kamu mau kan?”

“Iya. Aku akan tunggu kamu sampai kapanpun,” janjiku saat itu.

Janji itu tetap terjaga meski aku dan Arya berada di benua yang berbeda dan terpisah bentangan Samudra Pasifik. Ikatan pernikahan yang suci akan menautkan cintaku dan Arya yang muncul saat kami masih kecil dan terus berkembang hingga kini. Akhirnya si cowok hujan dan putri hujan mengakhiri kisah dengan tajuk happy ending.