Tags

Beberapa hari ini kamar saya bau melati. Ketika sedang asik mengetik, bau itu rajin datang menyapa hidung saya. Bau melati yang segar.

Akhir Desember 2009, saya sempat membeli kamper  wangi melati di Pasar Beringharjo Jogja. Saya mendapatkan 4 plastik kecil kamper dengan harga total Rp 5.000.

Akhir Desember 2009 itu juga saya mendapatkan roncean melati dari sepupu saya yang baru saja menikah. “Biar cepat menyusul,” kata sepupu saya. Saya sih tidak percaya sama mitos itu, tapi demi menghargai sepupu saya, ya saya bawa saja ronce melati yang nantinya akan segera layu dan agak-agak berjamur karena cukup lama menginap di kantong plastik.

Kamper dan ronce melati itu segera menghuni kamar saya ketika saya kembali ke kostan di Bandung. Ronce melati digantung di dinding, sedangkan kamper saya masukkan ke lemari baju. Sayang, kamper itu tidak tahan lama wanginya.

Beberapa hari lalu, saya membeli kamper lagi, kali ini kamper bermerk yang dijual di toko-toko. Saya langsung memilih yang beraroma melati. Dan hasilnya, wangi melati kerap tercium di kamar saya meskipun kamper itu disimpan di lemari. Mengapa? Karena pintu lemari saya rusak, hasil perbuatan saya beberapa waktu lalu.