Tags

,

(Gambar: http://www.tesionline.com/intl/img/focus/money-laundering.jpg)

Pendahuluan

“Money is the oxygen of terrorism. Without the means to raise and move money around the world, terrorists cannot function,” ujar mantan Menlu AS Colin Powell.

Pernyataan Powell tersebut berbeda dengan mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher yang menyebut oksigen bagi teroris adalah publisitas.  Namun apa yang disampaikan Powell tidaklah berlebihan. Sebab tanpa uang tidak akan ada penabrakan pesawat yang meluluhlantakkan menara kembar WTC di New York, AS, pada 11 September 2001. Tanpa dana yang cukup tidak akan terjadi pengeboman di Bali pada Oktober 2002 yang menewaskan tidak kurang dari 200 orang. Sekali lagi, tanpa uang yang memadai teroris tidak mungkin mampu meledakkan Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Jakarta pada Juli 2009 lalu.

Dalam merancang dan melakukan terror, komplotan teroris membutuhkan uang yang tidak sedikit. Untuk meruntuhkan Gedung WTC di New York, diperkirakan teroris menghabiskan uang sekitar US$ 400.000 hingga US$ 500.000.[1] Sedangkan untuk melakukan pengeboman di Bali pada 2002, teroris harus mengeluarkan uang sekitar Rp 160 juta.[2] Angka ini memang tidak sefantastis yang digelontorkan komplotan teroris pada peristiwa 9/11 namun tetap saja membuktikan teroris butuh uang untuk melakukan eksekusi.

Uang memang bukan segalanya, namun uang  tetap memegang peranan penting dalam mendukung kelangsungan hidup manusia, organisasi, maupun suatu kegiatan, terorisme sekalipun. Lantas apakah uang hanya digunakan teroris untuk mengebom tempat-tempat yang menjadi targetnya saja? Tulisan ini mengambil judul Sumber Uang Teroris: Dari Perusahaan Legal Hingga Tindak Kriminal dan akan memaparkan apakah terorisme itu, mengapa terorisme membutuhkan dana, serta bagaimana terorisme mendapatkan dan menyalurkan dana.

B. Apakah Terorisme Itu?

Terorisme hampir sama tuanya dengan manusia. Cara yang digunakan maupun pengertian terorisme pun berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Kekerasan politik dan kegiatan pembunuhan (asasinasi) ditengarai sebagai akar kuno terorisme. Istilah teror pertama kali digunakan saat revolusi Perancis 1793-1795. Regime de le terreur dipakai untuk menyebut pemerintah hasil Revolusi Perancis yang menggunakan kekerasan secara brutal  kepada orang-orang anti-pemerintah. RR Palmer menyebut, tujuan rezim ini adalah untuk membentuk masyarakat baru yang lebih baik sebagai ganti monarki Perancis yang aristokratis, tidak demokratis dan tidak representasional. Dengan demikian pada masa itu terorisme berkonotasi positif.

Tom Maley dari Cranfield University, Inggris, mengatakan, mendefinisikan terorisme bukanlah pekerjaan mudah. Alasan utamanya adalah karena penggunaan dan arti terorisme berubah dari waktu ke waktu. Kesulitan lainnya adalah karena terorisme memiliki berbagai bentuk dan manifestasi. Selain itu organisasi teroris merupakan organisasi yang tersembunyi (meski kadang disebut pula semi-klandestin) sehingga adanya kerahasiaan yang melingkupinya memunculkan kesulitan dalam menganalisanya secara objektif.[3]

Maley berpendapat, gagasan terorisme secara fundamental dan dilihat dari sifatnya adalah politik, beroperasi di arena politik baik dalam skala domestik maupun internasional, serta berupaya mendapatkan tujuan politik. Terorisme diartikan sebagai penggunaan atau ancaman penggunaan kekerasan yang tujuannya adalah untuk perubahan politik.[4] Kebanyakan kalangan berpandangan perlunya pendefinisian terorisme dengan alasan tidak mungkin memerangi terorisme tanpa ada batasan jelas apakah terorisme itu. Karena itulah muncul banyak definisi terorisme.

Thomas R Mockaitis memiliki analogi menarik tentang terorisme. Disampaikan dia, seorang pemburu yang sedang mengejar seekor hewan berbahaya tidak perlu tahu genus, spesies, maupun phylum dari hewan buruannya. Namun pemburu harus memiliki kemampuan dalam mengenal kebuasan dan memiliki pengetahuan tentang tingkah laku dan vulnerabilitas dari buruannya.[5] Karena itu, pengetahuan akademis yang minim tentang terorisme bukanlah persoalan utama karena yang lebih penting adalah kemampuan untuk mengenali tindakan.

Merujuk pada pendapat Mockaitis, sebelum melihat terorisme ada baiknya melihat teror terlebih dahulu. Sebab teror, menurutnya, adalah senjata yang dapat digunakan oleh berbagai aktor. Namun tidak seperti kebanyakan senjata, teror digunakan bukan untuk menghancurkan pejuang musuh melainkan untuk menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat. Dalam aksinya, teroris (pelakun teror) memilih bangunan atau tempat yang merepresentasikan kekuatan, kebanggaan atapun kekuatan ekonomi musuhnya. Senjata yang digunakan pun bervariasi seperti peledak konvensional, senjata biologis, nuklir dan kimia.[6] Jatuhnya korban akibat teror yang dilakukan tidak ubahnya pesan kepada pihak musuh. Pesan bahwa kelompok yang melakukan teror memiliki kekuatan untuk menyerang tidak peduli di manapun dan kapanpun.

Mockaitis mengidentifikasi dua unsur teror yakni enforcement terror dan agitational terror.  Enforcement terror dimaksudkan untuk menjaga pengikutnya atau masyarakat tetap berada di pihaknya. Sedangkan agitational terror merupakan penyerangan kepada pihak yang secara nyata dideklarasikan sebagai musuh.[7] Suatu teror kerap dilakukan dengan memuat dua unsur tersebut secara bersamaan.

Dari berbagai pendapat tentang terorisme, dapat disimpulkan bahwa terrorisme merupakan upaya penciptaan ketakutan secara massal melalui penggunaan atau ancaman penggunaan kekerasan demi tujuan politik. Untuk menyebarluaskan ketakutan, teroris mengeksploitasi media massa.[8]

C. Teroris Berbelanja

Sebelum melakukan pengeboman, teroris perlu berbelanja. Mereka membutuhkan bahan-bahan untuk membuat bom. Teroris butuh tempat untuk merakit dan menyimpan logistik. Mereka juga butuh kendaraan untuk memfasilitasi pergerakan logistik dan anggotanya. Untuk memperlancar kegiatan itu, teroris membutuhkan uang yang tidak sedikit.

Diperkirakan teroris mengeluarkan uang US$ 400.000 hingga US$ 500.000, khusus untuk ‘menciptakan’ tragedi 9/11. Angka tersebut akan jauh lebih besar jika memasukkan anggaran training, perjalanan, tempat tinggal, biaya hidup sehari-hari, visa dan paspor, serta kendaraan. Dana operatif para teroris di AS sebelum penyerangan diperkirakan US$ 270.000.[9] Jumlah ini akan semakin menggelembung jika dana pelatihan teroris di Afghanistan turut ditambahkan. CIA memperkirakan Al Qaeda menganggarkan US$ 30 juta untuk kelangsungan semua kegiatannya sebelum peristiwa 9/11.

Serupa dengan yang dilakukan teroris di peristiwa 9/11, Imam Samudra cs yang bertanggungjawab atas bom Bali I juga harus berkali-kali membuka dompet demi kelancaran kegiatannya. Amrozi, salah satu terpidana teroris bom Bali I, membeli mobil Mitsubishi L-300 tahun 1984 seharga Rp 30 juta.[10] Uang tersebut didapatnya dari Imam Samudra sekitar dua bulan sebelum pengeboman. Mobil tersebut digunakan sebagai alat mobilitas dan kemudian menjadi bom mobil yang diledakkan di depan Sari Club.

Komplotan teroris itu kemudian membeli satu ton pupuk (istilah pupuk digunakan dalam buku Ali Imron Sang Pengebom untuk menyamarkan berbagai bahan kimia) yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan bom. Selanjutnya mereka juga harus mengeluarkan uang untuk tempat tinggal di Bali (penginapan dan kos). Menurut Ali Imron, mereka lagi-lagi harus mengeluarkan uang untuk membeli sepeda motor bekas seharga Rp 7.500.000. Sepeda motor digunakan untuk melakukan survei target pengeboman. Pengeluaran selanjutnya adalah untuk menyewa rumah di Denpasar. Mereka membutuhkan rumah yang memiliki garasi mobil sehingga memungkinkan untuk merakit bom. Rp 10 juta harus dikeluarkan untuk membayar sewa selama setahun. Selain itu uang juga diperlukan untuk biaya pengiriman paket pupuk dan bahan pembuatan bom lainnya dari Surabaya ke Denpasar.

Maley menyimpulkan, selain untuk membiayai operasi, teroris juga membutuhkan dana untuk pelatihan dan perjalanan, membangun dan membiayai rumah, menyiapkan upah atau pekerjaan harian, serta untuk membantu keluarga terpidana (biaya kemanusiaan/ shahids). Teroris juga membutuhkan dana untuk memelihara infrastruktur dan membuat dokumen palsu.[11] Walter Laqueur dalam buku The New Terrorism: Fanatism & The Arms of Mass Destruction mengatakan, selain untuk bertahan hidup, mendapatkan rumah, mendapat dokumen palsu, serta biaya perjalanan, uang juga digunakan teroris untuk mendapatkan senjata dan menyuap informan. Dokumen palsu penting bagi teroris sebagai bagian dari penyamaran. Seorang teroris biasa memiliki banyak nama atau alias agar tidak mudah terlacak petugas. Dokumen palsu dalam bentuk paspor maupun KTP akan memudahkan teroris saat tinggal di tengah masyarakat ataupun saat  melakukan perjalanan ke luar negeri. Dokumen palsu muncul karena dibuat dengan melahirkan identitas baru atau mencuri identitas orang lain.

Beberapa kasus terorisme menunjukan operasi bukanlah pengeluaran teroris yang paling besar. Suatu teror di tengah masyarakat bisa dilakukan teroris dengan biaya murah. Catatan Monitoring Group PBB, saat meledakkan bom mobil di Kedubes AS di Kenya dan Tanzania pada Agustus 2008 teroris diperkirakan mengeluarkan uang kurang dari US$ 50 ribu. Pengeboman Hotel JW Marriott di Jakarta pada 2003 diperkirakan sekitar US$ 30 ribu, dan serangan teroris di Madrid pada Maret 2004 diestimasikan menelan biaya US$ 10 ribu.[12] Meskipun pada kenyataannya, investigasi pemerintah Spanyol mengungkapan biaya bom Madrid 5 kali lebih besar dari perkiraan PBB. Namun angka itu masih dalam kategori murah bila dibandingkan dengan dampak yang ditimbulkan. Pengeluaran besar teroris justru lebih kepada hal-hal yang sifatnya (cenderung) rutin seperti pembiayaan infrastruktur dan logistik serta biaya kemanusiaan.

D. Cara Teroris Mendapatkan Dana

Maley menjelaskan, dalam kegiatan mengumpulkan dana, teroris menggunakan jalan legal (atau separuh ilegal) dan ilegal. Cara legal untuk mengumpulkan dana adalah melalui website dan publikasi (buku, video, DVD) serta melalui permintaan donasi secara langsung. Dana juga diperoleh melalui dana amal masyarakat dan dari NGO. Zakat, dana amal negara pendukung, donasi individual, bisnis legal, dan investasi di pasar finansial merupakan sumber dana lainnya bagi teroris.[13]

1. Bisnis Legal

    Dalam siaran pers Kedubes AS di Jakarta tertanggal 8 November 2001[14] yang berisi lembar fakta Gedung Putih soal penghentian aliran aana untuk teroris, disebutkan dua perusahaan yang diduga kuat berperan sebagai ‘mesin uang’ bagi teroris. Perusahaan tersebut adalah Al Barakaat (disebut pula Al Barakat) dan Al Taqwa. Al Barakaat merupakan konglomerasi keuangan dan telekomunikasi yang beroperasi di 40 negara di seluruh dunia. Perusahaan ini didirikan di Somalia pada 1989 dan awalnya didirikan untuk memfasilitasi pengiriman remitan oleh para imigran Somalia untuk keluarganya. Dalam perkembangannya Al Barakaat membawahi sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi, jasa transfer via telepon, pelayanan Internet, konstruksi dan valuta asing.

    Al Barakaat didirikan oleh Shaykh Ahme Nur Jimale, yang menurut AS memiliki keterkaitan erat dengan Osama bin Laden. Al Barakaat dituding memiliki hubungan dekat atau bahkan mungkin dikontrol oleh kelompok Al-Itihaad Al-Islamiya (AIAI) yang diindikasikan sebagai pemberi uang kepada bin Laden. Pada 2002 New York Times memberitakan pemerintah AS memiliki bukti bahwa Al Barakaat menyediakan US$ 25 juta untuk bin Laden untuk keperluan membeli senjata, kepemilikan uang tunai, dan mendukung kegiatan lainnya. Jimale ditengarai memanfaatkan 60 kantor Al Barakaat yang berada di Somalia dan 127 kantornya di luar negeri untuk mengirimkan dana, informasi intelijen dan perintah ke sel-sel teroris.

    Sedangkan Al Taqwa adalah jaringan dari berbagai perusahaan di Swiss, Liechtenstein, Keulauan Bahama, dan Milan. Jaringan tersebut dikendalikan oleh Youssef Nada, seorang warga Italia melalui naturalisasi. Al Taqwa, menurut Gedung Putih, menyediakan konsultasi investasi dan mekanisme transfer tunai bagi Al-Qaeda dan kelompok-kelompok Islam radikal lain. Peran Al Taqwa lebih sebagai institusi penyalur dana bagi Al Qaeda dan jaringannya.

    2. Lembaga Amal

      Dana amal merepresentasikan kebaikan manusia karena tujuannya adalah untuk menolong sesama manusia yang membutuhkan. Dana amal juga bisa menjadi perekat di antara manusia. Namun esensi dana amal bagi teroris justru menyimpang jauh. Sebab dana amal justru menjadi kedok pengumpulan uang sebanyak-banyaknya untuk mendukung kegiatan mereka.

      Demi mendapatkan dana amal, teroris membuat berbagai organisasi penggalangan dana. Dengan label organisasi amal, teroris dapat leluasa mengumpulkan uang tanpa dicurigai pihak musuh. Misalnya saja Qatar Charitable Society (QCS) yang dalam websitenya mencantumkan misinya sebagai berikut: QCS bertujuan untuk memberikan pertolongan dan bantuan untuk yatim piatu, korban perang dan bencana kepada anak-anak hingga usia 18 tahun melalui bantuan finansial, sosial dan kultural. QCS membantu para janda untuk mendapatkan uang hidup, utamanya yang kehilangan teman dan sanak saudara.[15]

      Namun kenyataannya organisasi ini disebut terlibat dalam pengeboman Kedubes AS di Kenya dan Tanzania pada 1998 dan memiliki hubungan dengan Al Qaeda. Organisasi amal lainnya yang digunakan sebagai kedok oleh teroris antara lain Wafa Humanitarian Organization, International Islamic Relief Organization (IIRO), dan Mercy International.[16]

      3. Zakat

        Zakat merupakan salah satu kewajiban umat muslim yang mampu. Zakat yang seharusnya ditujukan untuk orang miskin malah disalahgunakan oleh teroris yang kehilangan sumber dana tradisionalnya akibat ditutup dan dibekukannya lalu lintas keuangan jaringan teroris di lembaga-lembaga keuangan resmi. Peneliti dari Pusat Riset Teorisme dan Kekerasan Politik Singapura John Harrison menyebut, kelompok-kelompok teroris membentuk badan amil zakat sendiri atau bahkan menyusup ke badan amil zakat.[17] Dengan cara demikian mereka bisa menyalahgunakan zakat untuk dijadikan sumber pemasukan.

        Harrison berpendapat, zakat menjadi prioritas utama pendanaan teroris karena uang dari zakat cukup mudah dikumpulkan, disimpan, dialihkan, dan digunakan. Apalagi pengelola zakat berhak mendapat sebagian pendapatan dari zakat yang bisa dikumpulkan untuk kegiatan di masa mendatang. Besarnya dana yang masuk ke badan zakat mengakibatkan operasi penggalangan dana melalui jenis ini sulit ditindak. Apalagi teroris menyusup sedemikian rupa sehingga keberadaan mereka di badan tersebut sulit dideteksi. Lebih dari itu zakat sudah menjadi bagian kehidupan umat Muslim sehingga pemerintah tidak bisa terlalu jauh ikut campur mengatur dan mengurusnya.

        Sedangkan cara-cara ilegal yang ditempuh teroris untuk mengumpulkan uang, sebagaimana dikemukakan Maley, antara lain melalui perampokan bersenjata, penyanderaan, tebusan, penipuan dan e-crime, penyelundupan (orang dan senjata), narkotika dan perdagangan narkotika, pemalsuan barang dan pembajakan, serta eksploitasi pasar finansial.[18]

        1. Bisnis Narkotika dan Obat Terlarang

          Bagi teroris, perdagangan obat terlarang adalah bisnis yang sangat menggiurkan. Alasannya, modal bisnis ini tidak besar namun sanggup mendatangkan untung berlimpah. Apalagi pasar bagi bisnis ilegal ini cukup besar karena tersebar di berbagai tempat.

          Berdasar perkiraan Departemen Urusan Narkotika Internasional AS, untuk memproduksi 1 kilo kokain dibutuhkan biaya sekitar US$ 3.000. Ketika siap konsumsi, harga jualnya melambung hingga hampir 7 kali lipat, yakni sekitar US$ 20.000. Sedangkan untuk heroin, biaya produksi 1 kilonya berkisar US$ 4.000-5.000 dan harga jualnya per kilo US$ 250.000 hingga US$ 300.000. Pengiriman hanya akan dilakukan jika si pembeli telah melunasi seluruh pembayaran di muka.[19] Organisasi teroris seperti FARC dan ELN di Colombia serta PKK di Turki menjalankan bisnis perdagangan narkoba untuk mendapatkan dana. Al Qaeda pun mempelajari dan mempraktekkan bisnis ini dengan memfokuskan kegiatannya pada perdagangan opium. Dalam melakukan bisnis narkoba para teroris banyak berhubungan dengan berbagai kelompok mafia yang memiliki banyak pengalaman.

          2. Merampok

            Kegiatan-kegiatan kriminal telah lama dikaitkan dengan terorisme. Kegiatan tersebut ditengarai sebagai salah satu cara teroris untuk memenuhi ‘kantong uangnya’. Laqueur pernah menyebut teroris Rusia di awal 1900-an melakukan perampokan bank. Sedangkan teroris Irlandia pada abad ke-19 pernah memalsukan uang kertas. Tindak kriminal itu bukan dimaksudkan untuk memperkaya teroris sehingga mereka hidup lebih sejahtera, namun hanya untuk bertahan hidup.[20]

            Mencuri ataupun merampok tidak diperkenankan dalam ajaran agama manapun. Namun menurut keyakinan teroris, pengambilan harta benda secara halus maupun kasar (fa’i) terhadap dmilik orang kafir untuk kepentingan perjuangan jihad hukumnya boleh. Seperti yang dilakukan Imam Samudra dan kawan-kawannya, sebelum melakukan pengeboman di Bali pada 2002, Imam mereka merampok toko emas di Serang, Banten. Sekitar 3,5 kg emas dalam berbagai bentuk perhiasan diangkut komplotan tersebut untuk selanjutnya dilebur menjadi emas batangan. Uang tunai beberapa juta rupiah pun digasak kawanan teroris itu.

            Perampokan tersebut menjadi tidak jelas tujuannya karena untuk kegiatan pengeboman, teroris itu telah mendapat US$ 30 ribu dari Wan Min yang diduga bendahara Jemaah Islamiah untuk Asia Tenggara. Apalagi Bom Bali I hanya memakan dana sekitar Rp 160 juta. Dalam buku Ali Imron Sang Pengebom, Ali Imron bahkan mengaku tidak tahu pasti tentang keberadaan emas hasil rampokan Imam Samudra cs.

            3. Penyelundupan

              Smuggling atau penyelundupan baik manusia maupun barang merupakan aktivitas kejahatan transnasional yang juga digunakan sebagai sumber pembiayaan bagi teroris. Barang yang diselundupkan antara lain sigaret. Penyelundup setidaknya bisa mendapat US$ 2 juta dari satu muatan truk sigaret yang berisi 800 kotak atau 48.000 karton.[21] Keuntungan yang besar menjadikan bisnis ini menarik bagi teroris.

              Aparat hukum di Ney York memperkirakan, jaringan penyelundup sigaret dapat menghasilkan uang US$ 200.000 – 300.000 setiap minggunya. Uang tersebut lantas dikirim ke Timur Tengah sehingga secara langsung maupun tidak bisa digunakan organisasi teroris seperti Al Qaeda.[22] Keuntungan yang besar dari bisnis ilegal tersebut memang sering dikaitkan dengan terorisme. Apalagi dalam laporan untuk Presiden Dewan Keamanan PBB pada 19 Desember 2002 disebutkan, keuntungan dari penyelundupan 1.500 karton sigaret cukup untuk mendanai 10 operasi pengeboman USS Cole[23] (kapal perusak milik Angkatan Laut AS yang diserang di Yaman pada Oktober 2000 oleh Al Qaeda).

              IRA/RIRA/CIRA di Irlandia adalah kelompok teroris yang tercatat menggunakan penyelundupan sigaret untuk menghasilkan uang. Di kalangan teroris, penyelundupan berlian, minyak, senjata, dan manusia adalah bisnis yang sama menariknya.

              E. Menyalurkan Uang Melalui Sistem Hawala

              Sistem hawala adalah mekanisme transfer yang digunakan teroris, yakni berupa pencairan uang tanpa melalui bank atau transaksi elektronik antarnegara. Sistem yang juga dikenal dengan nama Hundi ini mulai digunakan pada 1960-1970-an untuk merespons kompleksnya mekanisme pengiriman uang melalui sistem bank formal. Hawala dilakukan dengan berdasar pada kepercayaan karena secara literal Hawala berarti menyerahkan dengan kepercayaan dan umumnya dijalankan di Timur Tengah, Afrika Utara dan Timur Laut, serta Asia Tenggara.

              Menurut Maley, sistem kerja Hawala diilustrasikan sebagai berikut: Seorang India di London akan mengirim uang poundsterling untuk rekannya di New Delhi. Untuk itu dia mengontak seorang hawaladar di London dan memberikan uang tersebut. Selanjutnya hawaladar di London mengontak hawaladar di New Delhi dan berkomunikasi menggunakan sejumlah kode agar tidak mudah terlacak. Kemudian hawaladar di New Delhi memberikan uang kepada rekan orang India tersebut dalam bentuk mata uang lokal.[24]

              Teroris menyukai Sistem Hawala karena memberikan berbagai keuntungan antara lain bisa menghindarkan mereka dari sistem perbankan konvensional yang semakin mendapat perhatian berbagai pihak, tidak perlu membuka rekening bank, melayani hingga lokasi terpencil di Asia, serta aman dan dapat dipercaya (bukti pembayaran biasanya tanpa nama).[25] Kegiatan ini tidak akan mudah terdeteksi karena uang dikirim tanpa melalui pencatatan formal dan mengusung sistem cash and carry. Cara seperti ini ditengarai dilakukan pula oleh teroris di luar negeri untuk mengirimkan dana kepada jaringannya di Indonesia.

              Penutup

              Di Indonesia, para teroris bergantung pada kiriman uang dari jaringannya di luar negeri untuk melakukan aksinya. Dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, teroris bekerja sebagaimana anggota masyarakat lainnya antara lain dengan berdagang, tukang bekam, ataupun pekerja pabrik. Dengan demikian kiriman dana adalah tabung oksigen besar bagi teroris di Indonesia yang telah melakukan sejumlah teror seperti bom Bali I pada 2002, pengeboman Hotel JW Marriott di Jakarta pada 2003, pengeboman di depan Kedubes Australia pada 2004, bom Bali II pada 2005, serta pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton pada pertengahan 2009. Perampokan ditengarai pula sebagai tabung oksigen teroris di Indonesia lantaran Imam Samudra terbukti merampok sebelum meledakkan bom di Bali pada 2002. Namun terpidana seumur hidup Bom Bali I Ali Imron menyatakan uang hasil rampokan tidak digunakan sama sekali.

              Bila uang adalah oksigen bagi terorisme, maka untuk membunuhnya adalah dengan mendesak ruang gerak teroris sehingga tidak mampu menghasilkan uang untuk ‘bernafas’. Mempersempit kegiatan teroris dalam mencari uang memang bukan persoalan gampang. Ketika mereka menggunakan sumber keuangan legal, pemerintah sulit mendeteksinya. Pun dengan cara-cara ilegal yang dilakukan teroris. Namun bukan berarti hal seperti ini dibiarkan begitu saja.

              Untuk mengendus teroris dengan segala kegiatannya, peran intelijen perlu lebih dikedepankan. Untuk Indonesia, intelijen yang antara lain tergabung dalam Badan Intelijen Negara (BIN), Unit Intelijen Densus 88, Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keungan ((PPATK) yang nama intenasionalnya adalah Financial Intelligence Unit (FIU)) perlu meningkatkan kerjasamanya dalam menganalisis dan merontokkan adanya indikasi sumber dana dan kegiatan terorisme di Tanah Air. Selain itu penting juga untuk mengajak masyarakat agar lebih waspada terhadap teroris yang sedang melakukan kamuflase di tengah-tengah mereka.

              Sistem cash and carry dalam pengiriman uang dari luar negeri yang memanfaatkan Sistem Hawala memerlukan kewaspadaan dan kesigapan sejumlah aparat keamanan mulai dari polisi, bea cukai, angkatan laut, hingga pihak pelabuhan di wilayah perbatasan. Sedangkan kasus-kasus bisnis ilegal yang digeluti teroris terkait dengan korupsi dan penyuapan. Bila dua tindakan terakhir ini benar-benar dapat dihilangkan melalui penegakan hukum yang tanpa memandang bulu, maka kegiatan ilegal pun dapat dihentikan.

              Bahan Bacaan:

              Ali Imron, Ali Imron Sang Pengebom, Jakarta: Penerbit Republika, 2007.

              A.M. Hendropriyono, Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2009.

              Bambang Abimanyu, Teror Bom Azahari – Noordin, Jakarta: Penerbit Republika, 2006.

              Jeanne K. Giraldo dan Harold A. Trinkunas, Terrorism Financing and State Responses: A Comparative Perspective, California: Stanford University Press, 2007.

              Thomas R. Mockaitis, The New Terrorism: Myths and Reality, California: Praeger Security International, 2001.

              Tom Maley, Modul Perkuliahan The Strategic Environment for Defence untuk Studi Pertahanan ITB Tahun Ajaran 2008/2009.

              Walter Laqueur, The New Terrorism: Fanaticism & the Arms of Mass Destruction, New York: Oxford University Press, 1999.

              Laporan final Komisi Nasional 9/11

              Ehrenfeld, Rachel, Funding Terrorism: Sources and Method, http://www.apgml.org/frameworks/docs/7/Financing%20of%20Terrorism_Sources,%20Methods%20and%20Channels.pdf

              Emerson, Steven, Fund-Raising Methods and Procedures for International Terrorist Organizations, http://www.au.af.mil/au/awc/awcgate/congress/021202se.pdf

              Dana Noordin Dari Osama, http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=32763

              Kasus Bom Bali, Polri Kirim Tim ke Malaysia http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=23033

              Zakat, Sumber Dana Utama Teroris, http://www.dw-world.de/dw/article/0,,3472769,00.html

              ——————

              [1] Baca selengkapnya di laporan final Komisi Nasional 9/11, dapat diakses melalui http://govinfo.library.unt.edu/911/report/911Report_Exec.htm. Komisi ini dibentuk sesaat setelah Tragedi 9/11 dan ditutup pada 21 Agustus 2004.

              [2] Dana Noordin Dari Osama, http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=32763, diakses pada 29 November 2009.

              [3] Maley, Tom, Modul Perkuliahan The Strategic Environment for Defence untuk Studi Pertahanan ITB Tahun Ajaran 2008/2009.

              [4] Jenkins, Brian dalam A.M. Hendropriyono, Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2009, hal 26.

              [5] Mockaitis, Thomas R., The New Terrorism: Myths and Reality, California: Praeger Security International, 2001, hal 2-3.

              [6] Op cit, hal 4.

              [7] Ibid.

              [8] Hendropriyono menyebut, media massa cenderung lebih tertarik memberitakan terorisme yang terjadi di negara tertentu dan di kota besar. Karena itulah teroris sering mengubah taktiknya demi mendapatkan perhatian, peliputan dan pemberitaan yang maksimal.

              [9] Laporan Final Komisi Nasional 9/11.

              [10] Seperti dituturkan terpidana teroris bom Bali I Ali Imron dalam Ali Imron Sang Pengebom, Jakarta: Penerbit Republika, 2007, hal 80.

              [11] Maley, Tom, op cit.

              [12] William, Phill, Warning Indicators and Terrorist Finances, dalam Jeanne K. Giraldo dan Harold A. Trinkunas, Terrorism Financing and State Responses: A Comparative Perspective, California: Stanford University Press, 2007 hal 78.

              [13] Maley, Tom, op cit.

              [14] Dapat diakses di http://www.usembassyjakarta.org/press_rel/gd_putih.html

              [15] Baca selengkapnya di http://www.qcharity.org/qenglish/index.html

              [16] Emerson, Steven, Fund-Raising Methods and Procedures for International Terrorist Organizations, http://www.au.af.mil/au/awc/awcgate/congress/021202se.pdf diakses pada 29 November 2009.

              [17] Zakat, Sumber Dana Utama Teroris, http://www.dw-world.de/dw/article/0,,3472769,00.html diakses pada 27 November 2009.

              [18] Maley, Tom, op cit.

              [19] Ehrenfeld, Rachel, Funding Terrorism: Sources and Method, http://www.apgml.org/frameworks/docs/7/Financing%20of%20Terrorism_Sources,%20Methods%20and%20Channels.pdf diakses pada 27 November 2009.

              [20] Baca selengkapnya di Walter Laqueur, The New Terrorism: Fanaticism & the Arms of Mass Destruction, New York: Oxford University Press, 1999.

              [21] Cigarette Smuggling Linked to Terrorism. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A23384-2004Jun7.html diakses pada 29 November 2009.

              [22] King, Peter T, Tobaco and Terror: How Cigaret Smuggling is Funding our Enemies Abroad, http://chs-republicans.house.gov/list/press/homeland_rep/morenews/cigarettesmuggling.pdf hal 4, diakses pada 29 November 2009.

              [23] Brisar, Jean-Charleds dalamPeter T. King, op cit hal 14.

              [24] Maley, Tom, op cip.

              [25] Ibid.