Tags

By : Cuwie Cuwie Cuwie
(gambar: http://a35.ac-images.myspacecdn.com/images01/100/m_0d1e42e9dd8e841a25bb1caac3b24e0a.jpg)

Jodoh adalah problema serius. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan- pertanyaan “kreatif” tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?

Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal.
Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.

Di sini orang berlomba mengajukan “standardisasi” calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan. Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, “Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa, kan?” Memang, ada juga jawaban lain, “Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja.” Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serba unggul), namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini. Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita.

Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga. Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan.

Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang- ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun. Bagaimana mungkin Allah akan memberi jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu?

“Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya” Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada. Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku? (Dikirim teman via email).

Setelah membaca tulisan itu, langsung teringat pertanyaan-pertanyaan seputar menikah. “Kapan nikah?” “Setelah lulus nikah nih?” “Calonnya orang mana?” Pertanyaan-pertanyaan itu memberondongiku setiap kali pulang kampung.

“Jangan keasyikan kuliah, terus lupa nikah.” “Jangan terlalu mengejar karir, nanti gak nikah-nikah lho.” “Kalau mengejar karir, nggak ada habisnya. Menikah itu enak lho.” Serentetan nasihat atau apalah itu namanya juga menghujaniku setiap kali pulang kampung.

Aku menengok ke kiri dan ke kanan. Beberapa temanku memang sudah menikah, dan bahkan sudah punya anak. Beberapa temanku yang lain belum menikah, mereka ada yang kuliah lagi, sibuk keliling dunia, atau sangat menikmati pekerjaannya.

Kenapa mereka menikah? Ada yang karena hamil duluan, tapi ada juga yang karena merasa sudah siap untuk berkomitmen dan terikat seumur hidup dengan seseorang.

Buat aku, menikah itu penting. Saking pentingnya aku berpikir berulang-ulang ketika ada yang mengajakku menikah. Aku berpikir panjang sebelum memutuskan mengatakan “I will marry you.” Menikah itu kan bukan karena hanya mengejar status ‘married’. Menikah juga bukan sekadar ‘aku mencintainya, that is it’. Bukannya mau berpikir rumit, tapi bukankah segala hal yang sudah well planned insya Allah akan lebih lancar.

Buat aku, ketika aku memutuskan menikah dengan seseorang artinya aku siap menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku ingin mereka mendapat pendidikan serta sarana dan prasarana yang memadai. Artinya apa? Duit itu penting kan, meski duit memang bukan segala-galanya. Artinya, mapan secara ekonomi penting ketika dua manusia akan menikah. Jangan cuma asal cinta langsung hajar bleh tanpa pikir panjang nanti anaknya dikasih makan apa, dll.

Trus karena cuma berbekal asal cinta langsung hajar bleh, jadi ngerepotin orang lain deh. Ngerepotin orangtua, ngerepotin temen, tetangga, sodara, dll demi dapur tetep ngepul. Yang nikah siapa yang repot siapa…. Dari hal itu, aku ingin kalau dikasih kesempatan untuk menikah suatu saat nanti, minimal buat hidup sehari-hari tidak merepotkan siapapun (secara finansial).

Dan… ya ya ya, kalau jodoh nggak ke mana….🙂 (Gara-gara dapat tulisan jodoh ini, aku jadi menghianati niatku buat off nulis blog deh he he).