Tags

,

Disusun oleh: Ade Muhammad, Golmar Samosir, Merjames Pakpahan, Nurvita Indarini, Siti Diniyah Islami, Sujedi Faisal. Tugas mata kuliah Etika Profesi.

I. Pengertian

Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupa­kan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghin­dari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.

Istilah lain yang iden­tik dengan etika, yaitu:

  • Susila (Sanskerta), lebih menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su).
  • Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak.

Filsuf Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelas­kan tentang pembahasan Etika, sebagai berikut:

  • Terminius Techicus, Pengertian etika dalam hal ini adalah, etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
  • Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.

Pengertian dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya; antara lain:

  1. Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak (The principles of morality, including the science of good and the nature of the right)
  2. Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan manusia. (The rules of conduct, recognize in respect to a particular class of human actions)
  3. Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral seba­gai individual. (The science of human character in its ideal state, and moral principles as of an individual)
  4. Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban (The science of duty).

II. Macam-macam Etika

Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores). Manusia disebut etis, ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani dengan jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri dengan penciptanya. Termasuk di dalamnya membahas nilai­-nilai atau norma-norma yang dikaitkan dengan etika, terdapat dua macam etika (Keraf: 1991: 23), sebagai berikut:

  • Etika Deskriptif

Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Da-pat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertin­dak secara etis.

  • Etika Normatif

Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan norma-norma yang da­pat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan meng­hindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.

Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas dapat diklasifikasikan menjadi tiga (3) jenis definisi, yaitu sebagai berikut:

  • Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.
  • Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik buruknya perilaku manusia dalam kehi­dupan bersama. Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.
  • Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif, dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap perilaku manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.

III. Kontekstual Etika Profesi

Istilah etika sering kali didengung-dengungkan dalam berbagai aspek. Biasanya etika dikaitkan dengan hal-hal yang baik, sehingga perilaku yang tidak baik kerap dicap sebagai tindakan yang tidak beretika. O.P. Simorangkir  mendefinisikan etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. Sedangkan Burhanudin Salam menyebut etika sebagai cabang dari filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.

Etika menurut Aristoteles dibagi menjadi dua. Pertama, terminius technicus yang  berarti etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan, dan yang dipelajari adalah tentang perbuatan atau tindakan manusia. Kedua, manner dan custom, mempelajari etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan yang melekat dalam kodrat manusia yang terkait dengan pengertian baik dan buruknya perbuatan manusia.

Etika bisa dilekatkan dalam berbagai hal, termasuk profesi. Karena itulah muncul istilah etika profesi. Menurut Webster’s New Dictionary and Thesaurus, profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan khusus dan seringkali juga persiapan akademis yang intensif dan lama. Huntington menyebut, profesi bukan sekadar pekerjaan, melainkan karena memerlukan keahlian, tanggungjawab, dan kesejawatan. Sehingga etika profesi dapat diartikan sebagai seperangkat aturan yang mengatur tindakan dan moral dan mengikat suatu profesi.

III.1. Etika Profesi Jurnalis

Jurnalis adalah salah satu profesi yang ada di tengah masyarakat. Jurnalistik merupakan bidang yang menarik dengan privilege yang luas serta memiliki peran dan pengaruh yang besar. Jurnalistik bisa menjadi pengawas pemerintahan dan bahkan bisa masuk ke ranah yang sensitif. Realitas yang telah dikonstruksi jurnalis mampu memunculkan opini publik dan menggiring perspektif masyarakat.

Karena itulah etika menjadi perlu dan penting keberadaannya bagi profesi ini untuk menjaga standar kualitas dari para pekerja media. Selain itu etika diperlukan untuk melindungi masyarakat luas dari kemungkinan timbulnya dampak negatif dari kontruksi realitas para pekerja media. Etika jurnalistik seperti rambu-rambu yang memandu para pekerja media dalam menjalankan pekerjaannya agar tidak salah langkah dan tetap profesional.

Etika jurnalistik dituangkan dalam kode ektik jurnalistik yang disusun oleh organisasi profesi, yakni Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) maupun oleh institusi media itu sendiri.  Pada 12 Juli 1998, AJI menyusun kode etik jurnalistik yang berisi 18 butir panduan, yakni:

  1. Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
  2. Jurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar.
  3. Jurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya.
  4. Jurnalis hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya.
  5. Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting yang perlu diketahui masyarakat.
  6. Jurnalis menggunakan cara-cara yang etis untuk memperoleh berita, foto, dan dokumen.
  7. Jurnalis menghormati hak nara sumber untuk memberi informasi latar belakang, off the record, dan embargo.
  8. Jurnalis segera meralat setiap pemberitaan yang diketahuinya tidak akurat.
  9. Jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial, identitas korban kejahatan seksual, dan pelaku tindak pidana di bawah umur.
  10. Jurnalis menghindari kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras, bangsa, jenis kelamin, orientasi seksual, bahasa, agama, pandangan politik, cacat/sakit jasmani, cacat/sakit mental, atau latar belakang sosial lainnya.
  11. Jurnalis menghormati privasi seseorang, kecuali hal-hal itu bisa merugikan masyarakat.
  12. Jurnalis tidak menyajikan berita dengan mengumbar kecabulan, kekejaman, kekerasan fisik dan seksual.
  13. Jurnalis tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk mencari keuntungan pribadi.
  14. Jurnalis dilarang menerima sogokan.
  15. Jurnalis tidak dibenarkan menjiplak.
  16. Jurnalis menghindari fitnah dan pencemaran nama baik.
  17. Jurnalis menghindari setiap campur tangan pihak-pihak lain yang menghambat pelaksanaan prinsip-prinsip di atas.
  18. Kasus-kasus yang berhubungan dengan kode etik akan diselesaikan oleh Majelis Kode Etik.

III.2.  Etika Organisasi Mafia : “Omerta” Kode Etik Cosa Nostra

Cosa Nostra atau lebih dikenal dengan sebutan Mafia, tumbuh di Italia, tepatnya di daerah Sicilia sebagai bentuk dari awalnya adalah transisi dari kelompok masyarakat masa feodal 1812 ke masa kapitalisme 1860. berkembang karena ada beberapa industri di Sicilia yang rentan terhadap ketidakadilan sosial, sehingga menimbulkan efek pemerasan dan pencurian oleh kelompok masyarakat tertentu yang disebut oleh 1864, Niccolò Turrisi Colonna, kepala Palermo National Guard sebagai sekte pencuri. Yang eksis dan saling menghormati satu sama lain serta berbagi daerah kekuasaan.

Kode Etik Cosa Nostra [1]

Seperti juga organisasi sosial lainnya, selain tata nilai (Value) dan tata laksana (Virtue), diperlukan juga Kode Etik yang mengatur hubungan antar individu di organisasi dan individu ke organisasi.

Cosa Nostra mempunyai Kode Etik-nya sendiri, yang disebut “Omerta”. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kelangsungan hidup organisasi, sistem dan individu yang bekerja di dalamnya, yang dijunjung tinggi oleh tiap insan dalam lingkup Cosa Nostra. Hukuman mati adalah pasti untuk para pelanggar Omerta, yang disebut “Pentotti” alias pengkhianat.

1. Nessuno può presentarsi direttamente ad un altro dei nostri amici. Ci deve essere una terza persona per farlo. Tidak ada orang yang dapat mewakilkan dirinya langsung kepada sesama teman. Harus ada orang ketiga yang melakukannya.

2. Mai guardare le mogli degli amici. Jangan pernah melirik istri dari teman.

3. Mai visto con i poliziotti. Jangan pernah terlihat bersama Polisi.

4. Non andare al pub e club. Jangan pergi ke pub dan klub malam

5. Essere sempre disponibili per Cosa Nostra, anche se tua moglie sta per partorire. Selalu ada untuk Cosa Nostra, bahkan jika istrimu akan melahirkan.

6. Nomine devono essere rispettate. Janji harus dihormati.

7. Show romanizationMogli devono essere trattati con rispetto. Istri harus diperlakukan dengan rasa hormat.

8. Quando è stato chiesto per qualsiasi informazione, la risposta deve essere la verità. Ketika ditanya untuk informasi tertentu, jawabannya haruslah sebuah kebenaran.

9. Il denaro non può essere appropriato se si appartiene ad altri o ad altre famiglie. Uang tidak dipantaskan jika adalah kepunyaan orang atau keluarga yang lain.

10. Persone che non possono far parte di Cosa Nostra, sono tutti con un parente stretto nelle forze di polizia, con due tempi relativi alla famiglia, chi si comporta male e non tiene ai valori morali. Orang yang tidak merupakan bagian dari Cosa Nostra adalah semua yang dekat dengan Polisi, dengan dwi waktu dalam hal berhubungan keluarga, semua yang berkelakuan buruk dan tidak dapat mempertahankan nilai-nilai moral.

III.3.  Kode Etik Perwira TNI : “Budhi Bhakti Wira Utama”

TNI memiliki etika dan norma yang harus diikuti oleh setiap anggotanya. Etika dan norma itu harus dituruti dalam kegiatan apa pun. ”Etika tersebut misalnya, adalah melaporkan kegiatan yang dilakukan kepada atasannya. Belum tentu sesuatu yang maksudnya baik, dengan melanggar etika hasilnya akan baik,” kata Saiful Sulun (Suara Pembaruan, 14-10-2000)

BUDHI, Perwira TNI berbudi luhur bersendikan :

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Membela kebenaran dan keadilan
  3. Memiliki sifat-sifat kesederhanaan

BAKTI , Perwira TNI berbakti untuk :

  1. Mendukung cita-cita nasional
  2. Mencintai kemerdekaan dan kedaulatan negara RI
  3. Menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia
  4. Setiap saat bersedia membela kepentingan nusa dan bangsa guna mencapai kebahagiaan rakyat Indonesia

WIRA , Perwira TNI adalah ksatria :

  1. Memegang teguh kesetiaan dan ketaatan
  2. Pemimpin (sokoguru) dari bawahannya
  3. Berani bertanggung jawab atas tindakannya

UTAMA, Perwira TNI adalah :

  1. Penegak persaudaraan dan perikemanusiaan
  2. Menjunjung tinggi nama dan kehormatan korps Perwira TNI

Contoh Studi Kasus : Pelanggaran kode etik perwira yang dilakukan oleh dua Letjen TNI Agus Wirahadikusumah (Agus WK).

  • Tindakan Letjen TNI Agus WK mengirim anggota Kostrad ke Bengkulu dalam rangka bhakti sosial tanpa koordinasi dengan Mabes TNI AD.
  • Tindakan Letjen Agus yang membeberkan indikasi penyimpangan dana Yayasan Kostrad.

IV. Etika dan Feminisme

Bahasan ini menjelaskan bahwa etika dapat dipahami dari berbagai sisi, juga bisa diaplikasikan terhadap ragam ilmu atau studi, salah satunya adalah Feminisme. Pendefinisian etika menurut kaum feminis adalah sebagai sebuah upaya untuk merevisi pemikiran mengenai peran perempuan. Salah satu pakar feminis, Alison Jaggar, menyalahkan definisi etika secara tradisional karena membiarkan wanita kehilangan peran, setidaknya dalam lima hal:

  1. Kurangnya perhatian terhadap perempuan sebagai lawan dari laki-laki,
  2. Etika tradisional menilai bahwa isu-isu moral merupakan ranah privat dan menilai peran wanita dalam bidang-bidang tradisional pula,
  3. Adanya pemahaman umum bahwa wanita tidak memiliki tingkat kedewasaan layaknya laki-laki,
  4. Etika tradisional memberikan penilaian terhadap maskulinitas sebagai suatu konsep yang memiliki nilai kemandiran, namun memberikan penilaian terhadap feminis sebagai suatu konsep yang memiliki nilai ketergantungan dan lain sebagainya,
  5. hal-hal tersebut menciptakan kekuasaan bagi pihak laki-laki untuk memiliki wewenang menciptakan peraturan dan lain sebagainya.

Kaum feminis mengembangkan penjelasan etika menjadi lebih moderen. Beberapa dari para feminis tersebut memberikan penekanan terhadap isu-isu yang berkaitan dengan perilaku dan perlakuan terhadap kaum perempuan. Namun, beberapa feminis lainnya meberikan penekanan terhadap sebab-sebab dan dampak politis, legal, ekonomi dan atau ideologi perempuan yang dikenal sebagai “gender kedua”. Meskipun memiliki penekanan yang berbeda dalam menjelaskan etika, kaum feminis memiliki tujuan yang sama yakni menciptakan pemahaman etika berbasis gender yang dapat mengeliminir penganiayaan terhadap kaum perempuan oleh kelompok manapun.

Berbagai ragam upaya yang dilakukan oleh kaum feminis dalam menciptakan pengertian dan pemahaman baru mengenai etika yang memberikan persamaan nilai terhadap kaum laki-laki dan kaum perempuan. Persamaan nilai ini dapat berupa banyak hal, yakni persamaan status dalam bidang politik, hukum dan lain sebagainya.

Terdapatnya kerumitan mencari definisi yang tepat yang merupakan pembaharuan terhadap definisi etika yang lama, yang mengeyampingkan perempuan. Hal ini menyebabkan timbulnya perdebatan antara kaum feminis itu sendiri. Setiap kelompok mempunyai penekanan yang berbeda dan parameter yang berbeda pula  dalam menjelaskan etika sebagai sebuah konsep. Namun, secara umum memiliki nilai dan tujuan yang sama yakni memberikan penekanan terhadap peran perempuan.

Upaya para kaum feminis dalam mendefinisikan etika sendiri terus berkembang. Pada abad 18 dan 19, para feminis seperti Woolstonecraft, Mill, Beecher dan lainnya berupaya untuk membangun pendekatan yang lebih luas terhadap etika yang fokus pada persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan antara etika laki-laki dan maskulinitas serta perempuan dan feminisme. Untuk mencapai kata sepakat ragam diskusi dan debat mereka lakukan juga dengan mempertanyakan nilai-nilai moral yang membedakan kaum laki-laki dan kaum perempuan.

Para feminis lainnya, seperti Carol Gilligan dan Nel Noddings memberikan penekanan bahwa teori-teori, prinsip-prinsip, praktek-praktek dan kebijakan-kebijakan moral tradisional memiliki kekurangan dalam tingkat pengabaian, dan merendahkan nilai-nilai serta nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan kaum perempuan.

Dari semua upaya yang dilakukan oleh kaum  feminis dalam menjelaskan etika, setidaknya dapat diklasifikasikan terhadap dua kelompok, yakni “care-focused” dan “status-focused”. Meski begitu, kedua kelompok ini tetap memiliki pendekatan yang sama terhadap etika, yakni mengedepankan basis gender dalam mendefinisikan etika.

V. Penutup

Dari beberapa pengertian tentang etika, dapat ditarik kesimpulan bahwa etika adalah pedoman manusia dalam berperilaku karena di dalamnya memuat norma-norma yang berlaku di masyarakat dan menjadi parameter untuk menilai baik atau buruknya perilaku seseorang.

Fungsi dari sebuah Etika yang diterapkan pada sebuah profesi tertentu akan melanggengkan daya tahan (survivability) dan keliatan (resilience) dari kelompok atau organisasi yang menaunginya merupakan sebuah ilustrasi penggunaan etika dalam sebuah kelompok atau organisasi.
Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Etika

http://www.scribd.com/doc/8365104/PENGERTIAN-ETIKA

http://www.iep.utm.edu/ethics/

http://www.dailymail.co.uk/news/article-492449/Police-discover-Mafias-Ten-Commandments-arresting-Godfather.html

Sholeh, Muhammad, Pentingnya Etika Profesi, http://elista.akprind.ac.id/upload/files/1830_PENTINGNYA_ETIKA_PROFESI.pdf, diakses pada 15 November 2009.

Webster’s New Dictionary and Thesaurus dalam Satrio Arismunandar, Memahami Etika Jurnalistik, http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=857, diakses pada 11 Desember 2009.


[1] http://www.dailymail.co.uk/news/article-492449/Police-discover-Mafias-Ten-Commandments-arresting-Godfather.html