Tags

(Gambar: http://www.chinaguide.me/img/forbidden_love1.jpg)

Cinta, cinta, dan cinta. Ribuan kali cinta menjadi topik pembicaraan di antara saya dan sahabat-sahabat saya. Begitu populernya si cinta ini, hingga dia kerap menghuni ‘headline’ dalam ‘surat kabar’ kami. Ada first love, second love, cinlok, dll. Yang terbaru adalah forbidden love.

“Aku mencintainya,” katanya malam itu. Saya tidak terkejut. Saya sudah menduganya sejak lama.

“Dia yang paling tahu bagaimana menghadapiku,” ujarnya lagi.

“Dia pernah bilang aku egois. Ingin selalu diperhatikan,” tambahnya. Hmm ya, mirip dengan saya. Timbangan ingin selalu diperhatikan selalu lebih berat daripada memperhatikan. Jomplangnya pun bukan main😦

“Tapi aku mencintainya,” ucapnya dengan suara bergetar. Pelan-pelan dia menangis.

Cinta membuatnya menangis. Hatiku ikut tercabik-cabik melihat kerapuhannya hari itu. Tidak salah memang mencintai orang lain. Tapi jika mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain seperti yang tengah dialami sahabat saya itu, salahkah?

Di mata dunia, forbidden love adalah hal yang salah. Sebab forbidden love berpotensi menghancurkan hubungan dan komitmen seseorang dengan pasangannya. Tapi apakah perasaan cinta bisa dikontrol? Bukankah cinta datang tanpa permisi. Bukankah cinta kerap kali tidak melihat segala beda yang ada.

Sejak awal, sebenarnya saya sudah takut sahabat saya ini akan terlibat dengan forbidden love. Seseorang yang sudah dimiliki perempuan lain itu selalu menghujaninya dengan perhatian, mereka menjalin komunikasi yang intens, dan lama-lama satu sama lain saling tergantung. Mereka punya kebutuhan untuk bercerita, berdiskusi, dan berbagi perhatian dengan caranya masing-masing. Ketergantungan. Ya, saya rasa situasi ini yang menyemai bibit-bibit forbidden love di antara keduanya. Dalam banyak kasus, seorang perempuan dewasa yang memiliki ketergantungan dengan seorang pria memang ujung-ujungnya cinta.

Bukan perkara gampang memang menemukan seseorang yang klik dengan kita. Dan ketika kita merasa sudah menemukannya, ternyata dia telah menjadi milik orang lain. Hmm tentunya sangat heartbreaking. Ketika ada yang terlibat forbidden love, ada yang memilih untuk segera mengakhirinya dan memulai hubungan dengan orang baru. Namun ada juga yang membiarkan hal itu terus berjalan, meski memang akhirnya tetap ada sakit luar biasa karena tidak ada harapan sama sekali akan masa depan hubungan itu.

Apapun dan bagaimanapun, forbidden love pasti akan menyakitkan.  Sepertinya sudah banyak orang yang menjadi korban forbidden love. Ini bukan situasi yang mudah untuk dihindari dan dihentikan, tapi saya rasa harus segera dihentikan bila seseorang sudah merasa masuk dalam situasi semacam ini. Memang sih, bila berani jatuh cinta maka harus berani pula untuk merasa sakit. Tapi menurut saya akan lebih baik bila membangun dan menyemai cinta yang sehat, yang memiliki masa depan cerah, yang kemungkinan sakit hatinya kecil. Meski, sekali lagi, tidak gampang.

“Aku menyerah. Aku mau pergi dari hidupnya.” Itulah keputusan sahabat saya. Saya mengangguk mengamini. Menurut saya itulah jalan dan keputusan terbaik. Ya, terkadang kita memang harus menemukan orang yang salah sebelum menemukan orang yang tepat.