Tags

, , ,

Sebelum pergi ke Ho Chi Minh City (HCMC) pada pekan pertama Februari 2010 ini, saya dan adik saya sudah membuat daftar tempat-tempat yang akan dikunjungi, salah satunya Mekong Delta. Malam pertama di HCMC, setelah mendapatkan tempat menginap, kami langsung mendangi tour agent. Menurut blog-blog yang kami baca, The Sinh Tourist adalah tour agent yang banyak direkomendasikan. Kami pun mencari tempat itu.

Sangat mudah menemukan The Sinh Tourist karena memang dekat dengan tempat tinggal kami. Lokasinya berada di De Tham St, Distrik I. Di sana kami mengambil buku berisi paket-paket tour. The Sinh menyediakan buku tersebut dalam berbagai bahasa seperti Perancis, Inggris, Jepang, dan Vietnam. Tour bisa dibayar dengan US$, tetapi kami memilih menggunakan VND.

Karena VND di dompet tidak cukup, kami pergi sebentar ke money changer yang letaknya tidak jauh dari The Sinh. Angka tukarnya lebih baik dari pada di bandara. US$ 1 dihargai VND 19.000. Tapi kalau uang US$-nya pecahan kecil seperti punya saya (lembaran US$ 20), hanya dihargai VND 18.500. Tidak apa-apalah. Tapi saya sarankan, kalau menukar ke dalam VND lakukan saja di hotel tempat menginap karena akan dihargai tinggi meskipun US$-nya recehan. Backpacker lainnya menukar US$ 3 di tempat dia menginap, dan total mendapat VND 57.000.

Ketika kami kembali ke The Sinh, ternyata sudah tutup.  Saat itu jam tangan saya menunjuk angka 23.45 waktu setempat. Rupanya The Sinh buka sejak 6.30 hingga 22.30. Akhirnya saya dan adik memilih menggunakan AP Travel yang terletak di ujung Jalan De Tham. Di sekitar situ memang ada banyak sekali tour agent.

AP Travel mematok harga US$ 9 untuk tour sehari ke Mekong Delta. Kami memilih membayar menggunakan VND. Harga tour-nya berbeda-beda tergantung rute yang diambil. Selain tour sehari, ditawarkan juga tour 2 dan 3 hari.

Peserta tour dijadwalkan berangkat menggnakan bus AC pukul 08.00 pagi. Saya dan adik saya datang 15 menit lebih awal. Sambil menunggu bus, kami mengobrol dengan karyawan AP Travel dan mengambil foto di sekitar situ. Pria Vietnam berbaju kotak-kotak oranye menjemput dan mengantar kami ke bus. Akhirnya tour berangkat pukul 08.15.

Tidak lama bus berjalan, seorang perempuan berkewarganegaraan Inggris yang juga peserta tour minta diturunkan di jalan karena harus mengambil sesuatu di hotel. Kami pun menunggu dia. Kalau dilihat-lihat, perempuan itu kok mirip sama Gareth Barry ya, pesepakbola Manchester City yang sempat lama bermain untuk Aston Villa. Ha ha saya ini ada-ada saja.

Selama perjalanan menuju Kota My Tho, kota terdekat, seorang pemandu wisata menjelaskan keadaan HCMC dengan menggunakan Bahasa Inggris. Sudah menjadi kebiasaan, saya dan adik saya hampir selalu memperhatikan orang yang sedang berbicara, maka kami pun menatap lekat-lekat si pemandu itu. Merasa diperhatikan si pemandu juga menatap kami lekat-lekat. Akhirnya kami pun bertatap-tatapan sepanjang jalan dengan diiringi lagu Vietnam yang mendayu-dayu. Ha ha jangan percaya kalimat saya yang terakhir ini.

Nama pemandu kami Ngok (atau Ngop ya, lupa he he, mirip-mirip begitu deh). Karena kami tidak ada yang bisa melafalkan nama dia dengan baik, dia pun meminta kami memanggilnya Number One. Dia bercerita, lalu lintas HCMC memang didominasi sepeda motor.

“Do you know what is the best?” tanya dia ke saya.

“Mmm, Honda,” jawab saya.

“Yes.”

Sepanjang jalan memang ada banyak sepeda motor Honda yang lalu lalang. Tapi namanya beda dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia dikenal Honda Grand, untuk sepeda motor serupa namanya Dream. Selain itu banyak juga yang memakai sepeda motor seperti Astrea 80.

Setelah sekitar dua jam di dalam bus, kami tiba di My Tho. Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki motor boat ke Unicorn Island. Sungai Mekong itu airnya coklat tapi tidak bau dan bersih dari sampah. Di pulau itu kami mengunjungi kebun buah. Ada pohon rambutan, pepaya, kelengkeng, pisang, buah-buahan tropis seperti di Indonesia. Ada pula pedagang baju khas Vietnam, souvenir, dan makanan oleh-oleh seperti permen kelapa dan sale pisang. Saya tidak membeli apapun.

(Number One and honey bees. Maaf Number One, kepalamu gak kufoto ;p)

Kami juga diperlihatkan peternakan lebah. Saya ikut mencoba mencicipi langsung madunya, hmm manis. Lalu kami diajak duduk sambil menikmati cemilan. Saya dan adik saya satu meja dengan bule dari Australia dan dua orang Vietnam. Mau tahu cemilannya? Permen jahe, permen water melon,  permen kelapa, keripik pisang coklat tua, serta permen campuran gula kelapa dan kacang (saya biasa menyebutnya enting-enting). Minumnya adalah teh dengan perasan jeruk dan tetesan madu. Di situ dijual pula wine dari apanya ular gitu, juga banana wine. Tidak ada satupun yang saya beli. Ada juga sesi foto dengan ular besar, tapi saya tidak ikut karena takut gatal.

Kami lalu berjalan di antara pepohonan dan sampailah di tempat peristirahatan yang lain. Di sana kami dijamu dengan buah-buahan tropis. Ada pisang, kelengkeng, pepaya, jeruk bali, dan nanas. Sebagai pelengkap disajikan campuran garam dan bubuk cabe seperti yang biasa ditemui di Indonesia. Minumnya lagi-lagi teh di gelas yang sangat kecil. “Pada bae ya kambi nggone dewek (sama saja ya sama punya kita)” ujar saya ke adik saya. Yang agak beda adalah kelengkengnya. Lebih besar tapi lebih juicy dan kulit buah lebih tipis. Menurut saya masih lebih enak kelengkeng di Indonesia.

Sambil menikmati buah-buahan itu, kami dihibur dengan lagu-lagu berbahasa Vietnam. Dari tempat peristirahatan yang lain saya dengar lagu yang iramanya sama persis dengan lagu Indonesia yang liriknya begini “Kalau kau suka hati tepuk tangan….” Penyanyinya adalah mbak-mbak berbaju Ao Dai (baju khas Vietnam). Saya dan adik duduk satu meja dengan orang Australia dan 3 orang Inggris.

Perjalanan  dilanjutkan dengan menaiki kano yang hanya mampu mengangkut 4 penumpang plus 2 pendayungnya yang berada di depan dan di belakang. Sebagian besar pendayung adalah kaum perempuan. Seperti halnya para pengayuh itu, para penumpang juga dipersilakan memakai topi khas Vietnam yang mirip caping. Saat itu saya dan adik ber-kano bersama suami istri dari AS yang punya darah Vietnam.

Kadang saya ikut mendayung juga. Kebetulan disediakan dua dayung untuk penumpang. Ya ampun berat juga ya. Hanya beberapa kali dayungan saja, keringat saya sudah mengucur deras (saat itu terik juga sih). Wah perempuan-perempuan pendayung itu perkasa sekali. Karena kasihan sama si pendayung, biarpun capek, saya paksakan juga untuk tetap ikut mendayung.

Kami akhirnya sampai di sungai yang lebih besar, dan pindah ke perahu kayu yang lebih besar.  Kami menuju ke suatu tempat untuk makan siang. Sebelum makan, kami dibolehkan bersepeda keliling lokasi. Awalnya saya malas, ngapain coba siang-siang sepedaan, kurang kerjaan. Tapi karena gak mau kalah dengan bule-bule itu, saya pun ikut menggoes.

Saatnya makaaaaan. “No pork,” kata saya dan adik ketika ditanya soal menu oleh pria Vietnam berbaju kotak-kotak oranye. Orang kotak-kotak itu cuma nanya sama kami berdua loh. Iiih dia nih perhatian banget sih ;p Ha ha bukan apa-apa, mungkin karena kami berkerudung jadi dia memastikan apa yang tidak kami makan.

Kami pun disuguhi menu vegetarian. Sebelum menu utama datang, dihidangkan semangkok kecil soup. Soup apa sih itu aneh banget rasanya. Lalu menu utamanya nasi putih, 2 spring roll, dan sayur selada hijau campur tahu, nanas, dan sayur lainnya. Makanan itu sudah bagian dari tour, jadi kalau mau ada tambahan lauk ikan goreng dsb harus bayar sendiri. Juga kalau mau minum soft drink, harus mengeluarkan dollar. Saya dan adik satu meja dengan 3 orang Italia dan seorang Australia.

Selanjutnya kami berperahu lagi menuju pabrik pembuatan permen kelapa. Dalam perjalanan banyak dijumpai pohon nipah. Di pabrik, bule-bule itu sibuk memotret kelapa dan kelapa parut. Mereka juga terkagum-kagum dengan wangi pandan. Seorang Kanada or AS (lupa) menyodorkan pandan pada saya dan adik, kami bilang di Indonesia yang begituan juga banyak.

Selain memproduksi, di sana dijual juga permen kelapa yang harga per bungkus-nya VND 25.000. Ada pula berbagai souvenir. Menurut saya mahal, 1 key chain dihargai US$ 1. Bule-bule itu ada juga yang jajan air kelapa, mereka tampak amazed. Di situ saya tidak beli apa-apa.

Kami berperahu lagi menuju boat station. Kejutan… Kami dibagi-bagi kelapa. Bule-bule yang jajan air kelapa tadi tampak menyesal. “Kalau tahu ada kelapa gratisan, tadi gak usah beli aja,” mungkin begitu pikir mereka, he he. Lagi-lagi si pria Vietnam kotak-kotak oranye dengan semangat langsung ngambilin kelapa buat saya dan adik sebelum membagikan kepada yang lain. Hiks terharu, dia baik banget. Semoga amal kebaikannya diterima Tuhan. Amin.

Lalu tibalah kami di boat station, untuk selanjutnya naik bus kembali ke HCMC. Oh ya, sekitar 10 peserta diturunkan di tempat transfer untuk dijemput bus yang lain pulang ke Saigon. Sebab peserta yang lain akan menggunakan bus itu untuk tour 2 dan 3 hari.  Kami tiba di HCMC 30 menit lebih cepat dari jadwal seharusnya, yakni pukul 17.30.

Dalam tour itu, selain bareng bule yang mirip Gareth Barry, kami bareng juga sama bule yang mirip kiper Juventus Gianluigi Buffon ;p