Tags

, ,

Saya tiba di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, 2 jam sebelum jadwal keberangkatan ke Ho Chi Minh City (HCMC). Setelah check in, mengurus bebas fiskal, dan menunggu beberapa saat, akhirnya saya dan adik saya dibawa terbang oleh AirAsia menuju Negeri Paman Ho bersama 114 penumpang lainnya.

Alhamdulillah cuaca cerah saat kami berangkat. Kurang dari 3 jam, pesawat mendarat di Tan Son Nhat International Airport. Saat itu sekitar pukul 19.20 waktu setempat, yang juga sama dengan WIB karena tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta.

Setelah cek paspor, kami menukar dollar yang dibawa menjadi Vietnam Dong di money changer bandara. US$ 1 dihargai VND 18.367 sedangkan S$ 1 dihargai VND 12.224. Saat itu kami hanya menukar US$ 10 dan S$ 10. Kami lantas keluar dari terminal internasional dan mengambil jalan ke kanan menuju terminal domestik dan mengambil taksi dari sana. Ada beberapa sopir taksi yang memanggil-manggil kami dan menawarkan jasanya. Akhirnya kami naik taksi Vinasun. Saat masuk ke taksi, kami pastikan pembayaran berdasarkan argo.

Argo meter awal menunjukkan 9.00. Sopir taksinya ramah, dia banyak bercerita meski kami tidak tahu apa yang dia omongin. Maklum dia berbicara menggunakan bahasa Vietnam. Walaupun kami sama-sama bingung tapi muka kami tampak bahagia ha ha ha.

Nama sopir taksi itu Hai. Di dalam taksi dia meletakkan 3 gelang dari roncean melati. “Is it jasmine?” tanya saya. “Viet Viet xyz xyz,” dia memaparkan dalam bahasa Vietnam.

“Ugh I don’t know,” kata saya sambil menggelengkan kepala putus asa.

Akhirnya dia memberikan dua gelang melati untuk saya dan adik saya. “Com on (terimakasih),” ucap kami berdua.

(Gelang melati dari Hai)

Di jalan, taksi kami sempat kena cegat polisi. “Pulet, pulet (mungkin maksudnya polisi, polisi),” kata Hai. Dia kena tilang karena mengambil jalan di lajur kanan. Kalau nggak salah, dia kena tilang VND 100 deh.

Dalam perjalanan, Hai menulis serentetan nomor yang biasa dilihat di beberapa taksi di vietnam. Nomornya adalah: 54.27.27.27 sambil mengatakan “No”. Lalu dia mengambil kertas bekas parkir dan menuliskan: 38.27.27.27 sambil berkata, “Yes.” Maksudnya kami kalau pakai taksi sebisa mungkin menghindari yang bernomor awal 54 itu. Wah nggak tahu juga ada apa sama taksi itu. Soalnya waktu kami tanya “Why?” Hai lagi-lagi menjawab dengan serentetan kata yang membuat kami makin pusing. Oh ya, Vinasun punya dua jenis mobil yakni Innova dan Corolla. Saat itu yang kami naiki adalah Corolla.

Kami diturunkan di Bu Vien, Distrik I. Ongkos taksinya sekitar VND 90.000. Wah mau menginap di mana ya. Kami berjalan keluar masuk gang dan menemukan nama hotel yang cukup familiar lantaran kami pernah menemukannya di internet. Hotel Blue River di Pham Ngu Lao. Harga kamar semalam US$ 25 dengan fasilitas AC, kamar yang cukup besar dengan tempat tidur besar, private bath room dengan air hangat, wifi, dan sarapan pagi. Resepsionis-nya ramah dan bisa berbahasa Inggris. Ketika kami datang, dia langsung bisa menebak kami dari Indonesia. Hmm bagus sih hotelnya, tapi terlalu mahal untuk kami.

Di Pham Ngu Lao dan Bu Vien memang banyak room for rent, karena ini merupakan kawasan backpacker. Harganya bervariasi, ada yang US$ 5, US$ 8, US$ 10, US$ 12, dan yang US$ 30 juga ada. Semua tergantung fasilitas dan lokasinya (kalau yang di gang-gang sempit biasanya lebih murah).

Setelah muter-muter ke sana ke mari, sampailah kami ke gust house bernama My Home di Jalan Pham Ngu Lao juga, tepatnya Pham Ngu Lao St 241/43. Pemiliknya mematok harga US$ 15 per kamar. Begitu melihat kamarnya, kami langsung suka. Love at the first sight deh he he. Kamarnya cukup besar dengan 2 tempat tidur, 1 besar dan 1 lagi lebih kecil. Di dalam kamar ada lemari, televisi, dan meja kecil. Kamar mandinya pun bersih dengan fasilitas air hangat. Kamar itu memiliki balkon kecil. Kipas angin menjadi fasilitas lain yang diberikan. Kalau mau pake AC, kami harus menambah US$ 5 lagi.

(Kamar kami di My Home)

Pemilik guest house itu berjualan beras dan makanan olahan dari rumput laut. Si ibu guest house kurang bisa berbahasa Inggris, tapi anaknya jago-jago. Mereka semua ramah. Kami senang tinggal di sana.

Namun malam berikutnya kami memutuskan untuk mencari penginapan lain yang lebih murah. Di Bu Vien, kami melihat papan bertulis harga kamar US$ 5-10 yang dipasang di tour agent. Sayang kamarnya penuh. Kami pun memutuskan masuk-masuk ke gang kecil di Pham Ngu Lao, hingga menemukan kamar seharga US$ 10. Kamarnya lumayan. Ada dua tempat tidur kecil, meja sekaligus lemari kecil, 2 kipas angin, televisi, private bath room, dan balkon. Kami ambil kamar itu. Selain kami ada juga bule cowok dari Jerman yang tinggal di sana. Pemiliknya bisa berbahasa Inggris (meski hanya terbatas untuk menyebut angka dan fasilitas kamar). Si pemilik juga buka toko kelontong di lantai dasar. Sedangkan kamar kami ada di lantai 3.

Ini adalah pertama kalinya kami pergi ke HCMC. Tidak ada teman dan saudara di sana. Pengetahuan kami hanya berdasar artikel di internet dan blog-blog para backpacker. Bila turis-turis di sana memegang buku tentang Vietnam, kami berdua hanya memegang hasil print artikel dan tulisan dari blog. He he, betapa kerenya. Tapi untunglah kami bertemu dengan orang yang baik-baik, dan kami tidak kesulitan untuk menemukan tempat tinggal. Alhamdulillah.

Untuk peta, kami mengambilnya di tour agent yang kami datangi. Bukan peta yang lengkap sih, tapi lumayan bisa memandu kami.

Oh ya, ketika di Vietnam, saya tidak bisa menggunakan IM3, dan adik saya tidak bisa menggunakan Mentari-nya. XL bisa digunakan di sana karena ada kerja sama dengan provider setempat Viettel. Sayangnya, waktu itu pulsa XL saya hanya cukup untuk mengirim sms dua kali ke ibu saya di Tanah Air.