Tags

, ,

Selama 3 hari 2 malam di Ho Chi Minh City (HCMC) Vietnam, aku susah mendapatkan makanan. Sebenarnya di sana ada banyak sekali makanan. Di sepanjang jalan Bu Vien ataupun De Tham berjajar para penjaja makanan. Tapi kebanyakan adalah pork, so aku nggak bisa makan dong.

Makanan Vietnam yang paling ingin aku coba  adalah pho bo. Pho bo itu mie putih berkuah yang biasanya dilengkapi daging (ada sapi atau pork), lalu kita bisa juga menambahkan tauge, irisan cabe merah, dan sayur-sayuran lalapan. Waktu itu saya makan di pho bo 94. Saya memesan pho bo tanpa daging dan segelas es teh tawar. Rasanya lumayan. Tapi cukup sekali ajalah makan pho bo. VND 17.000 untuk semangkok pho bo dan segelas es teh tawar.

Saya juga sempat mencicipi ketan warna-warni yang dijual di pinggir jalan. Untuk sebungkus kecil ketan campur-campur itu saya harus meneluarkan VND 20.000. Mahal. Seharusnya saya menawar dulu jadi bisa lebih murah.

Saat jalan-jalan usai nonton water pupet, saya beli es krim di pinggir jalan. Harganya VND 5.000. Di dekat penjual es krim ada yang jual kerupuk besar. Tampaknya enak, sebungkus isi 3 harganya juga VND 5.000. Tapi setelah mencicipi saya nggak jadi beli soalnya nggak enak. He he maaf ya Bu…

Di pinggir jalan melihat ada abang tukang sate. Wah sepertinya enak. Pengeeenn. Tapi saya mendadak sedih karena satenya adalah sate pork. Abang itu juga jual spring roll sih, tapi karena diletakkan sebelah-sebelahan sama pork, saya nggak bisa makan.

Oh ya, seusai one day tour ke Mekong Delta, saya ngobrol sama orang AS yang berdarah Vietnam. Saat itu ada abang-abang naik sepeda sambil jualan makanan mirip lepet. Saya tanya sama dia itu apa, soalnya di Indonesia juga ada. Namanya ban… ban apa gitu, lupa saya, he he. Ternyata saudara-saudara, orang AS itu memborong lepet dan memberikan 10 biji pada saya.

“Hope you like it,” ujarnya sebelum kami berpisah. Mata saya berkaca-kaca, lalu dia mengulurkan tisue. Bunga-bunga pun bertaburan kayak di film Laskar Pelangi itu ha ha ha, saya kok suka mendramatisir ya. Sepertinya berbakat jadi penulis naskah sinetron nih hi hi..

Iiih dia baik banget sih. Padahal saya sebenernya nggak suka lepet. Tapi ya sudahlah, rejeki kan nggak boleh ditolak. Ada adat Vietnam, kalau diberi makanan harus dimakan biarpun sedikit.

Ternyata lepet Vietnam itu warnanya kemerahan, dan didalamnya berisi pisang. Hmm ya, lumayan. Kalau ada lontong isi, saya lebih milih lontong isi atau bacang🙂

Yang paling menyedihkan adalah hari terakhir di HCMC. Usai keliling-keliling nyari oleh-oleh di Ben Thanh Market, rasanya lapar sekali. Udah celingak-celinguk kok nggak nemu KFC atau Loteria. Ya sudah kami menyusuri jalanan yang memang dipenuhi tukang jual makanan.

“What is it?” tanya saya dan adik kepada ibu-ibu Viet yang lagi asyik melayani pembeli.

“Viet viet.. gfahv,” jelasnya pakai bahasa Vietnam.

“Pork?”

Dia mengangguk.  Dan terus begitu hingga kurang lebih 5 pedagang.

Sampai akhirnya kami menemukan ibu yang sedang menggoreng sesuatu. Di sebelahnya ada telur-telur ayam. Wah sepertinya boleh nih kami makan. Waktu kami tanya apa itu, si ibu menjelaskan bapai bahasa Vietnam sambil nunjuk-nunjuk telor ayam.

Ketika kami tanya apakah ada pork-nya, dia nggak menggeleng atau mengangguk, tapi terus saja berbicara pakai bahasa Vietnam. Haduuuh makin pusing saya. Lalu ada bapak-bapak yang mengambil minyak untuk menggoreng sambil bilang, “Oil, pork, oil, pork.” Owh pake minyak babi toh. Yo wis kami pergi dari situ.

Menurut blog yang kami baca, ada makanan bernama nom yaitu seperti asinan yang dicampur potongan daging sapi. Ada pula bun dhau phu yaitu tahu digoreng yang dimakan bersama bihun dan kuah terasi. Makanan lainnya adalah xoi trung yakni ketan plus telur semut. Selain itu ada juga bubur nasi yang diberi parutan jahe bernama che ba cot. Makanan-makanan itu kok nggak kita temukan ya. Mungkin karena udah kepanasan, pusing, dan lapar jadi kami nggak konsentrasi baca nama-nama makanan.

Ditambah lagi kami harus buru-buru ke bandara, jadi kami ilfeel harus nyari-nyari makanan lagi. Akhirnya apa? Kami beli kue apem dan pisang rebus di terminal. 2 Kue apem dan 12 pisang rebus kecil-kecil harganya VND 10.000. Tadinya mau kami tawar, tapi sudahlah itung-itung menghabiskan sisa VND yang kami punya. “Jauh-jauh ke Vietnam, jajannya godogan,” komentar adik saya.

Oh iya, Vietnam terkenal dengan kopinya. Kami sempat mencicipi kopi yang dijual di pinggir Jalan De Tham. Penjualnya seorang nenek berambut pendek. VND 10.000 untuk 2 gelas kopi ber-es batu. Kalau nggak salah waktu itu si nenek bilang gini “Miu, miu (mirip-mirip gitu deh)?” Hah apa itu? Mungkin maksudnya mau manis enggak. Kami cuma minta sesendok kecil gula. Hmm enak….