Tags

, ,

Hari terakhir di Ho Chi Minh City (HCMC) saya gunakan untuk mengikuti wisata militer setengah hari di Cu Chi Tunnel. Bersama adik saya mempercayakan perjalanan kepada The Sinh Tourist yang berkantor di De Tham St, Distrik I, HCMC. Masing-masing orang harus membayar VND 90.000 plus ongkos masuk ke lokasi VND 75.000. Cukup mahal.

(Stiker di lengan saya yang dipasang sebelum memasuki area wisata)

Perjalanan dijadwalkan mulai pukul 08.00 pagi. Tapi mereka ngaret hampir 30 menit. Setelah menempuh perjalanan sekitar 70 km,  tibalah kami di lokasi. Setelah ditempel stiker di lengan kiri, kami dipersilakan menonton video dokumenter perjuangan Vietkong. Dalam video terlihat kaum perempuan pun ikut memanggul senjata. Sebuah ruangan sederhana yang dilengkapi lampu minyak, kipas angin, dan kursi kayu panjang seadanya menjadi tempat para turis menonton video melalui sebuah televisi layar datar.

Setelah itu kami diajak menyusuri hutan yang digunakan sebagai tempat gerilya Vietkong puluhan tahun lalu melawan AS. Pertama kami melihat cara Vietkong ‘menghilang’ dari pandangan musuh melalui basement rahasia. Ukuran basement memang kecil sih jadi pas banget untuk para Vietkong jaman dulu. Sebenarnya pengen foto di situ tapi Soe, pemandu wisata kami, buru-buru mengajak kami melanjutkan perjalanan.

Kami melihat berbagai jebakan (trap) untuk musuh yang banyak dipasang di hutan. Karena mereka melakukan perang gerilya, sepertinya cara-cara menjebak musuhnya pun tidak berbeda jauh dengan yang dilakukan pejuang Indonesia. Ada jebakan pintu, dan banyak jebakan di tanah salah satunya adalah bila musuh menginjak jebakan itu maka dia akan terperosok ke lubang yang telah dipenuhi bambu runcing beracun.

(Ssst ada Vietkong sedang berkoordinasi. Ha ha bukan, itu patung pejuang Vietnam dan saya yang sedang pose)

Bekas bom pun dibiarkan begitu saja untuk memberi gambaran kepada para turis. Selain itu diperlihatkan dan dijual juga sandal sepatu yang digunakan para Vietkong. Ada pula tempat para pejuang Vietnam beristirahat. Saat itu mereka menggunakan hammock. Pengunjung juga dibawa ke tempat pembuatan senjata. Dipajang pula tank AS yang berhasil dihancurkan Vietkong. Hmm jadi ingat film Platoon yang mengisahkan perang Vietnam vs AS di tahun 70-an.

Pengunjung juga dibolehkan menyusuri terorongan bawah tanah. Terowongan sempit itu tersambung ke berbagai daerah yang memudahkan pergerakan Vietkong. “Lurus terus, jangan pernah berbelok,” pesan Soe ketika kami akan masuk ke terowongan.

Karena sempit, maka kami harus menunduk-nunduk dan bahkan harus merangkak saat berjalan. Untuk orang-orang Asia yang tidak terlalu tinggi dan besar, menyusuri terowongan tersebut tidaklah terlalu sulit. Berbeda dengan bule-bule Amerika atau Eropa yang berperawakan besar, mereka harus benar-benar ‘menyusutkan’ badannya.

“Vietnam crazy,” maki Ivanovic, bule asal Rusia yang berjalan di depan saya.

Terowongan itu cukup gelap, dan bahkan benar-benar gelap di beberapa bagian karena penerangannya benar-benar sangat minimal. Kami tidak hanya berjalan saja tetapi terkadang harus meloncat ke bawah ataupun ke atas. Maklum ada beberapa lantai dalam terowongan tersebut. Panjang terowongan sebenarnya adalah 200 km, namun kami tidak harus menyusuri sepanjang itu.

Diperlihatkan pula dapur yang digunakan para Vietkong selama perang. Agar keberadaan mereka tidak diketahui musuh, memasak makanan biasa dilakukan pukul 03.00 atau 04.00 dini hari. Sehingga asap yang ada akan bercampur dengan kabut. Selain itu asap dialirkan melalui bambu-bambu yang jauh dari dapur dan tersebar di banyak tempat. Cara lain untuk mengecoh musuh yang membawa anjing pemburu, Vietkong menyebar baju dan alat-alat yang mungkin mengancung bau mereka di berbagai tempat. Dengan demikian, anjing akan terbiasa dengan bau tersebut.

Dor… Dor… Dor… Dentuman mesiu terdengar selama kami berjalan di hutan sehingga menyuguhkan sensasi perang. Ya, di tempat wisata militer itu, para pengunjung dibolehkan menembak dengan berbagai jenis peluru. Tidak gratis. Biaya menembak berdasarkan peluru yang dipakai. Saya tidak mencobanya mengingat sudah pernah mencoba menembak ketika bersama-sama teman kuliah berkunjung ke PT Pindad.

(Ini dia daftar harga peluru)

Perjalanan berakhir di meja makan panjang. Kami disuguhi singkong rebus dan teh tawar dalam gelas yang amat kecil. Ada kacang tanah tumbuk tanpa rasa sebagai pelengkap menikmati singkong tersebut. Oh ya di tempat ini dijual berbagai cindera mata, ada pin seharga VND 15.000, vas bunga dan teko-tekoan mulai VND 20.000, miniatur tank dan oesawat dari kaleng bekas Coca-cola, kaos-kaos mulai VND 57.000, patung gadis Vietnam seharga VND 35.000, dan ada pula kalung berliontin peluru.