Tags

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

(Aku Ingin – Sapardi Djoko Damono)

Puisi itu tertulis di status FB dosenku beberapa hari lalu. Aku memberinya jempol, karena aku memang suka sama puisi ini. Puisi yang kubaca pertama kali langsung mengingatkan aku pada Tuhan. Hmm, belakangan aku banyak menemukan orang yang puitis.

Beberapa hari yang lalu, status YM salah satu temanku juga puitis. Kayaknya sih dia bikin sendiri kata-kata itu. Aku tadi kirim-kiriman puisi sama teman FB. Kemarin aku dapat e-mail berisi puisi-puisi Chairil Anwar. Tadi sore dengar MP3 Nicolas Saputra yang lagi baca puisi. Sore tadi ceting di YM sama temen juga pakai kata-kata yang puitis sampai aku dihina dina habis-habisan, karena kata dia aku jadi aneh. Ha ha aku jadi puitis gara-gara kebanyakan baca puisi.

Puisi sering kali diidentikkan dengan orang yang sedang kasmaran. Padahal belum tentu begitu. Banyak para pujangga yang menyampaikan perjuangan (memperoleh kemerdekaan, memperoleh kebebasan dari tiran, dsb) melalui bait-bait puisi. Aku juga kadang menulis puisi (biarpun puisinya nggak jelas he he) kalau lagi suntuk, marah, sebal.

Hari berjelaga

Dia diam

Semua bisu

Hanya aku yang berkata

Meski dengan bibir bungkam.