“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Pramudya Ananta Toer)

Aku hanya menyusun abjad

Mengeja kata

Dalam ruang kering

Di antara belenggu kabut

Tanganku menari

Bukan karena kau

atau dia

Aku hanya  ingin menguliti serpihan waktu

mencari makna

atas apa