Tags

, ,

(Gambar: http://images.paraorkut.com)

Cinta dengan segala romantismenya selalu menarik perhatian manusia. Kisah cinta selalu menjadi topik menarik dalam obrolan, artikel majalah, maupun buku. Karena itu, sebagian kalangan menantikan kehadiran 14 Februari, saat Hari Valentine.

Ketika Hari Valentine datang, banyak yang menjadikannya sebagai ajang untuk mengungkapkan cinta dan kasih sayang. Cara untuk mengungkapkan biasanya melalui pemberian hadiah.  Salah satu hadiah Valentine yang populer adalah cokelat. Karena itu, menjelang Hari Valentine, aneka macam coklat semakin padat memenuhi rak-rak pusat belanja. Bahkan di sekolah-sekolah, banyak siswa-siswi yang kreatif membuat dan menjual cokelat untuk hadiah saat Hari Valentine. Wah cokelat di mana-mana!

Menurut Prof. DR. Made Astawan dalam artikel yang dipublikasikan di http://kesehatan.kompas.com pada 14 Februari 2009, konsumsi cokelat dapat memicu pelepasan hormon serotonin di otak. Hormon ini lah yang mampu memberikan perasaan senang dan mood yang baik.

Made Astawan menjelaskan, produk olahan cokelat mengandung stimulan feniletilamin yang memiliki efek antidepresan. Zat itu mengandung komponen farmakologi n-asetiletanolamin, yang terkait dengan cannabis atau marijuana, yang mampu memicu keluarnya anandamid, suatu opiat endogen yang berkhasiat menimbulkan eforia.  Itulah makanya coklat dapat memperbaiki suasana hati orang yang mengonsumsinya.

Tidak heran bila kemudian cokelat populer digunakan sebagai kado cinta. Hal ini disadari benar oleh produsen cokelat sehingga mereka berlomba-lomba menarik konsumen dengan tampilan cokelat menarik, iklan, serta harga kompetitif.

Serba-serbi Valentine

Asal-usul Hari Valentine sendiri ada berbagai versi. Pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, masyarakat setempat mempercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Ketika itu, sudah lazim bagi para pencinta untuk tukar menukar catatan dan memanggil pasangannya dengan sebutan “my Valentine”. Nama Valentine merujuk pada nama seorang pria Roma, St Valentino.

Hmm, sebutan “my Valentine” mengingatkan pada lagu Valentine yang dinyanyikan Jim Bricman dan juga Martina McBride. “… And even if the sun refused to shine. Even if romance ran out of rhyme. You would still have my heart until the end of time. You’re all I need, my love, my Valentine …”

Menurut kepercayaan Romawi, 14 Februari merupakan hari untuk menghormati Juno yang merupakan ratu para dewa dewi Romawi. Ia dikenal pula sebagai dewi pernikahan. Sehari setelahnya, yakni pada 15 Februari dimulailah perayaan ‘Feast of Lupercalia’ yaitu tradisi untuk memuja para dewa di mana para pria dibolehkan memilih gadis untuk pasangan selama sehari.

Di malam menjelang festival Lupercalia, nama-nama para gadis ditulis di selembar kertas dan dimasukkan ke gelas kaca. Seorang gadis akan menjadi teman kencan pria yang dapat mengambil kertas bertulis namanya. Meski awalnya hanya untuk kencan sehari, namun banyak pula pasangan yang melanjutkan hubungan itu hingga pernikahan.

Di Turin, Italia, ada tradisi di mana pasangan yang bertunangan mengumumkan pertunangannya di Hari Valentine. Di Jepang, saat Valentine biasanya para gadis memberikan coklat kepada para pria. Mereka bisa memberikan coklat persahabatan ataupun coklat spesial untuk seseorang yang disukai. Sebagai balasannya, cowok-cowok ini akan memberikan coklat pada White Day yang jatuh pada 14 Maret.

Saat Valentine, para pemuda di Wales akan menghadiahkan sendok kayu pada kekasihnya. Di atas sendok itu diukir sesuatu, dan ukiran yang paling favorit adalah bentuk hati dan kunci. Di jaman Romawi kuno, para gadis memasukkan kertas bertuliskan namanya ke dalam botol. Kemudia para pria mengambil salah satu kertas dari botol untuk melihat siapakan yang akan menjadi pasangan mereka. Selain itu, para pria akan menggunakan momen Valentine untuk mengirimkan hadiah pakaian kepada para gadis. Jika gadis tersebut menerima hadiah itu, artinya dia bersedia dinikahi oleh pemberinya.

Untuk have fun, ada mitos jodoh yang dihubungkan dengan apel. Ambilah sebuah apel bertangkai, lalu pikirkan lima atau enam nama lawan jenis yang ingin dinikahi. Putarlah tangkai apel itu sambil menyebut nama mereka satu per satu. Bila tangkai lepas dari apel saat menyebut salah satu nama itu, maka dialah yang akan menjadi jodoh.

Sedangkan untuk mengetahui jumlah anak setelah menikah, potonglah buah apel, tepat di tengahnya. Perhatikan dan hitung bijinya. Itulah jumlah anak yang kemungkinan akan diperoleh.

Di salah satu negara Asia, ada mitos bulan purnama. Ketika bulan sedang purnama, perhatikan baik-baik dari jendela kamar sembari memikirkan siapa-siapa saja yang mungkin atau ingin dinikahi, lalu pergilah tidur. Yang akan dinikahi adalah orang yang dimimpikan malam itu.

Namanya juga mitos, kebenarannya diragukan sebab tidak ada dasar ilmiahnya. Karena itu tidak ada alasan untuk mempercayainya. Just for fun🙂 Dan untuk berkasih sayang ada baiknya untuk melakukannya setiap hari🙂

Sumber:

http://valentinecoklat.yolasite.com

http://www.resep.web.id

http://www.kapanlagi.com