“Kapan pra tesis?” tanya seorang teman via SMS.

“Dan kematian adalah PASTI,” tulis teman yang lain di status FB-nya. Kalimat yang pernah juga saya gunakan untuk merespons komentar seseorang di tulisan saya tentang meninggalnya WS Rendra.

” Saya hari ini tidak bisa. Selasa siang saja ya,” ujar seseorang pagi tadi yang membuat semangat saya runtuh.

“Kapan ke Jakarta lagi?” tanya seorang sahabat malam kemarin.

Keempat kalimat itu dilontarkan oleh orang yang berbeda-beda, tetapi sebenarnya merujuk pada esensi yang sama. Waktu. Ya, semua adalah persoalan waktu.

Kita pasti mati. Entah hari ini, besok, besoknya lagi, atau besok lainnya. Karena mati akan menjadi fakta tak terbantahkan dalam siklus makhluk-makhluk-Nya.

Bagi saya sekarang, pra tesis, bertemu seseorang, atau pergi ke Jakarta adalah pasti. Sebab semua masuk dalam rencana saya. Tapi kapan? Semua belum pasti. Meskipun seseorang menjanjikan waktu di hari Selasa, tapi itu bukan suatu kepastian. Karena bisa saja, Selasa pagi akan ada SMS serupa: “Hari ini saya tidak bisa, bagaimana kalau…..” Juga ketika saya berencana pergi ke Jakarta akhir bulan ini, bisa saja pada akhir bulan itu saya terpasung pada sesuatu sehingga tidak bisa pergi ke mana-mana.

Tapi tidak dengan mati. Ketika si pemilik hidup menetapkan hari, tanggal, bulan, tahun, dan jam kematian bagi seseorang, maka itulah saatnya. Kita tidak bisa bernegosiasi untuk mempercepat atau menundanya. Jadi sekarang, kita sedang menunggu giliran. Giliran untuk mati. Ketika sedang menunggu sesuatu, orang-orang pun punya cara sendiri-sendiri. Ada yang duduk diam. Dan ada pula yang sibuk melakukan aktivitas lain. Semua itu pilihan.

Jadi teringat 2 tahun lalu saat saya naik ojek dari kawasan Jakarta Selatan menuju Kantor Wapres. Saya terpaksa naik ojek karena bangun kesiangan. Masalahnya klasik, tidur pagi. Tiba-tiba ada bus patas AC dari Depok yang remnya blong. Para pengendara motor di depan bus itu berteriak-teriak histeris. Saya kaget dan panik hingga nggak tahu harus berbuat apa. “Minggir Bang!” teriak saya pada tukang ojek itu.

Nggak tahu karena panik atau apa, si tukang ojek tidak bisa mengendalikan sepeda motornya dengan baik. Kami tetap berada di depan bus tersebut. Hingga akhirnya, tukang ojek berhasil membelokkan motornya, menghindari bus dan bergabung dengan kendaraan-kendaraan lain yang menyemut di sisi kanan jalan.

Hasilnya apa? Kami selamat. Bahkan saya masih hidup hingga kini. Tapi mungkin tidak demikian dengan kakek penjual es cincau. Dia dan gerobaknya ada di depan ojek yang saya naiki. Ketika ojek saya menepi, maka kakek dan gerobaknyalah yang disasar bus itu. “Pak, minggir!” teriak saya dan puluhan orang lainnya kepada kakek itu.

Saya ingat benar ekspresi si kakek. Ketakutan, bingung, dan panik. Belum lagi saya menutup mulut, bus sudah menabraknya. Bus dengan rem blong yang berjalan tanpa kendali itu langsung berhenti, tertahan gerobak es kakek. Sedangkan kakek itu terlindas. Darah mengalir dari kolong bus, kemudian bercampur dengan es yang tumpah di jalanan. Entah kakek itu selamat atau tidak karena buru-buru dibawa ke RS terdekat oleh beberapa bapak-bapak yang ada di TKP. Semoga selamat.

Waktu itu sekitar 08.30 WIB. Es cincau itu masih banyak, mungkin belum ada yang beli. Es cincau yang mungkin dibuat pada malam sebelumnya dan berlanjut di pagi-pagi buta, saat banyak orang masih sibuk dengan selimutnya. Es cincau yang diharapkan berubah menjadi kepingan rupiah saat kakek kembali ke rumah. Tapi apa? Pagi itu es cincau tumpah di jalanan, dan kakek bersimbah darah.

Kalau tukang ojek tidak berhasil minggir, mungkin saya yang akan terkapar di jalan. Mungkin bukan es cincau yang menggenangi jalan, tapi isi tas saya yang berserakan. Pagi itu mungkin maut melewati saya. Pagi itu saya diberi kesempatan untuk merenung bahwa SEGALA HAL telah diatur kapan saatnya. Time is ticking away. Semua soal waktu.