Tags

“Mbak udah makan? Sama apa?” Itulah isi SMS yang paling sering dikirimkan ibu saya.

“Mbak gimana tesisnya? Tidur jam berapa?” tanya ibu saya semalam via telepon.

Hmm, mungkin memang begitu ya ibu-ibu. Biarpun anaknya sudah besar, masih sering memperlakukan anaknya seperti anak kecil. Dicek sudah makan belum, sudah pulang kuliah belum, kalau lagi pergi ditanya pulang jam berapa dan pergi sama siapa. Padahal anaknya tinggal di mana, ibunya tinggal di mana. Seolah-olah tinggal serumah saja.

Dulu, waktu masih SMA, saya suka kesal kalau banyak ditanya sama orang tua. “Kenapa sih harus diinterogasi kayak gitu. Aku bukan anak kecil lagi,” sungut saya. Termasuk juga kalau sama orangtua disuruh makan atau mandi. “Hiiiihh, aku udah gede, tahu waktu.” Saya ngedumel.

Tapi sejak tinggal terpisah dari orangtua, ‘interogasi’ seperti itu justru saya kangeni. Rasanya lucu saja, masih selalu dimanja. Ibu saya nggak segan-segan menyuapi kalau saya malas makan. Sekarang, setiap kali pulkam, ibu saya pun masih selalu heboh dengan ‘perintah’ dan teriakannya. Kadang saya malah sengaja jadi ‘anak bandel’ demi mendengar teriakan-teriakannya he he. Dan ternyata banyak teman yang bertingkah begini ketika di rumah, lalu kami akan berebut memamerkan bagaimana cara ibu-ibu kami memanjakan.

Dulu, waktu masih kecil inginnya buru-buru dewasa karena ingin bebas, tidak terikat aturan a la orangtua. Tapi saat sudah dewasa, ingin kembali ke masa kecil, membiarkan diri terikat aturan a la orangtua. Sebab di situ ada perhatian luar biasa. Hmm ya, bagi orangtua mungkin yang namanya anak akan tetap anak-anak, tidak peduli berapa umurnya…. Dan sampai kapanpun, saya akan selalu menyukai cara mereka memanjakan.