Tags

,

(Gambar: http://i289.photobucket.com/albums/ll225/atnames/friend.jpg)

Seram. Itu kesan pertama saya melihat mayoritas teman-teman sekelas yang datang dari ‘barak’. Mereka rata-rata berpostur tinggi besar dengan wajah yang tidak terlalu ramah. Salah satu dari mereka ada yang beralis dan berkumis tebal, serta bersuara tegas. Orang ini yang paling terkesan seram.

Tetapi setelah hampir dua tahun bersama, kesan seram itu hilang dengan sendirinya. Segala hal yang kami lewati dan lakukan bersama menjadikan kami saling memahami satu sama lain. Di balik wajah-wajah yang awalnya terlihat sangat serius itu tersimpan berbagai kekonyolan. Ada-ada saja celetukan atau tingkah mereka yang melenyapkan kesan seram dari wajah mereka.

Di kelas hanya ada 3 mahasiswi, jadi kami hampir selalu diperlakukan bak putri raja oleh 28 pria yang juga menghuni bangku-bangku Taman Sari. Kalau pulang malam, banyak tawaran untuk mengantar pulang. Saat kerja kelompok dan terlihat lapar, seketika ‘sesaji’ dihadirkan. Saat emosi tidak stabil, banyak yang menghibur dengan caranya sendiri-sendiri. Bersyukur sekali memiliki teman-teman seperti mereka, meski ada juga sih yang sepertinya nggak tulus berteman😦

Hampir 2 tahun ini, kami menulis banyak cerita. Suatu kali kami pernah sangat kompak, makan bareng-bareng, karokean, nonton bareng, hang out bareng, main futsal (saya jadi kiper saat itu), dan belajar bareng. Wah pokoknya kami ini sepertinya nggak akan terpisahkan meski malam berubah siang, hujan badai menerjang, dan isu-isu global berganti-ganti.

Tapi ada juga saat kami nggak harmonis. Yang satu membicarakan kejelekan yang lain, sering kali hampir berantem, marahan, dan mencibir. Namanya juga hubungan, pasti ada up and down-nya.

Mari Duduk Mari Bicara

Sore itu tidak ada teh. Hanya ada sebotol kecil air mineral (punya saya), sepotong roti yang sudah digigit (punya teman saya),  dan xxx Mie yang sudah habis. Di luar mendung. Di kelas hanya ada saya dan 4 teman lainnya.

Kami terlibat obrolan yang menarik. Kadang kami tergelak-gelak. Kadang ada perkataan yang sangat serius. Saat itu sih cerita saya yang mendominasi: pengalaman mencari data tesis di Jakarta. Menurut mereka pengalaman saya menarik. Hmm ya, saya akui juga.

Lalu ada curhat colongan alias curcol. Ya, seperti biasa. Kami hanya butuh duduk bersama dan semua cerita mengalir. Kami tidak perlu teh. Kami tidak perlu cemilan apapun.

Di sini kami saling menyemangati, saling menguatkan, dan kadang saling menertawakan ha ha ha. Di sini saya semakin tahu, sedewasa-dewasanya seseorang atau setua apapun seseorang masih memiliki sisi kekanakan. Tidak perlu ada anak-anak kecil untuk membuat mereka (teman-teman saya yang usianya jauh di atas saya) bermain. Kami bermain monopoli, adu buble breaker, dsb.

“Nanti kalau kita udah pisah lo pasti kangen gue,” ujar salah satu teman satu sindikat.

“Aku? Ngapain kangen orang cbl,” kata saya waktu itu. Hmm tapi memang benar, belum juga kami lulus, gara-gara sekarang jarang ketemu, saya akui kalau saya kangen juga.

“Ta, nanti kamu pasti bakal inget terus kejadian ini, dorong motorku gara-gara ban bocor,” ujar teman satu sindikat yang lain. Siang itu, sepulang ujian terakhir, kami harus berpanas-panas dorong sepeda motor dia demi mencari tukang tambal ban.

“Iya, Bang. Suatu siang di Jalan Ganeca dengan ee kuda yang bertebaran, wuaah romantis banget,” kata saya ngaco.

Hmm btw busway on the way, saya menemukan gambar plus kata-kata menggelitik tentang friend. Kata-katanya begini: A  friend is like a good bra. Hard to find. Supportive. Comfortable. Always lifts you up. Makes you look better. And always close to your heart.

Waktu itu kami datang bersama ke tempat ini. Tapi nggak lama lagi, insya Allah, kami akan segera pergi. Mereka datang dalam hidup saya, mengisi hari-hari saya, tapi nanti akan ada masa semua padam. Bersyukur dengan anugerah hebat bernama teman-teman ini. Semoga kami bukan sekadar teman sekelas, yang akan menyublim  seiring kelas tidak lagi memiliki eksistensi, atau seiring kepentingan yang tak lagi sejalan. Finito per la storia di miei amici, saya mau pergi ke pesta dulu. Pesta buku, yuhuuuu I’m coming….🙂