Tags

(Gambar: http://www.whitakerlachance.com/images/dad-daughter.jpg)

Kalau aku orang dermawan karena Ayahku yang mengajarkan

Kalau aku jadi orang toleran, itu karena Ayahku yang menjadi panutan

Kalau aku jadi orang beriman, itu karena Ayahku yang menjadi imam

Kalau aku jadi orang rendah hati, itu karena ayahku yang menginspirasi,

Kalau aku jadi orang cinta kasih, itu karena ayahku memberi tanpa pamrih

Kalau aku bikin puisi ini karena ayahku yang rendah hati.

(Inayah Wahid; dibacakan usai tahlilan hari ke-7 kematian Gus Dur)

Minggu lalu temanku kehilangan ayahnya. “Saya kuat. Saya ikhlas,” katanya selalu meski diiringi tangis. Temanku itu mendadak terlihat lebih tua dari umurnya (dia 10 tahun lebih tua dariku). Matanya sebesar jengkol ketika kami ketemu beberapa hari lalu. Aku memahami kesedihannya, karena aku pun pernah merasakan kehilangan serupa.

6 Tahun lebih hidup tanpa sosok ayah bukanlah hal yang gampang. Tapi di luar sana, ada banyak anak-anak yang mungkin sejak lahir kehilangan ayah, atau yang lebih tragis tidak tahu siapa ayahnya, atau justru dibuang oleh ayahnya sendiri. Karena itu aku pun bersyukur untuk setiap menit hidupku memiliki sesosok ayah, untuk tiap helaan nafasku mendapat kesempatan memanggil sosok besar itu dengan sebutan “Bapak.”