Jurnalis menurut saya suatu profesi yang wow. Mengapa? Karena jurnalis bisa masuk ke berbagai lingkungan, termasuk lingkungan yang sulit dimasuki orang kebanyakan. Jurnalis adalah seorang konstruktor. Sebab menurut pemikiran konstruktivisme, berita bukanlah refleksi dari realitas melainkan konstruksi atas realitas. Sedangkan wartawan bukanlah sekadar pelapor, tetapi dia juga merupakan aktor sosial yang memiliki peran dalam mendefinisikan peristiwa.

Jurnalis adalah sesuatu yang belum selesai saya pelajari. Ketika saya berada di luar dunia itu, saya menemukan banyak hal yang kemudian muncul sebagai suatu otokritik.

Sering kali muncul pertanyaan ‘enggak banget’ yang diajukan jurnalis kepada narasumbernya. Saya pernah mengajukan pertanyaan seperti itu. Saat itu usai sidang dengan agenda vonis (terdakwanya lupa siapa) di PN Jakarta Pusat. Si terdakwa divonis beberapa tahun penjara (lupa juga tepatnya berapa tahun). Saya dan teman-teman tanya begini sama keluarga yang bersangkutan: “Bagaimana perasaannya Bu, bapak divonis xx tahun?”

Keluarga mereka menatap kami dengan nanar tapi tetap mengunci mulut. Salah satu dari mereka berujar ketus, “Ya pasti sedihlah, kayak gitu kok ditanyain.”

Dalam hati saya berkata, “Ya ampun, ditanya baik-baik kok jawabnya gitu.” Tapi itu adalah risiko profesi ini. Pekerjaan itu didominasi dengan aktivitas bertanya, sehingga akan ada berbagai respons atas pertanyaan  yang kami ajukan.

Tapi sekarang saya baru menyadari, betapa bodohnya pertanyaan itu. Ada berbagai bentuk kalimat dan pilihan kata yang bisa digunakan guna mengorek informasi dari narasumber. Ya, bukan dengan pertanyaan nggak banget seperti itu.

Jurnalis kerap terjebak dengan pertanyaan serupa saat terjadi bencana. “Bagaimana perasaan Ibu, anak Ibu belum ditemukan?” “Seandainya anak Ibu meninggal?” Menurut saya, pertanyaan itu betul-betul meninggalkan sisi humanis.

Seseorang yang menangis meraung-raung, histeris saat peristiwa yang menyita perhatian publik terjadi akan menjadi berita maupun gambar menarik. Tapi apa iya, jurnalis harus memancing-mancing dengan pertanyaan yang enggak banget, yang sepertinya hanya condong pada kepentingannya sendiri.

Suatu kali saya diplot di Dephub untuk liputan arus mudik lebaran. Posko yang paling sering saya sambangi adalah Jasamarga, soalnya di situlah yang paling sering ada berita dibanding posko lainnya. “Pak, hari ini nggak ada kecelakaan nih?” tanya saya dengan enteng kepada petugas posko.

Astaghfirullah, enteng banget ya pertanyaan seperti itu keluar dari mulut saya. Padahal akan lebih baik kalau saya memilih kata-kata: “Pak, bagaimana jalanan? Aman-aman saja?” Dengan pertanyaan seperti itu pun saya bisa mendapatkan informasi yang sama.

Saya juga nggak habis pikir kalau ada yang liputan sambil senyam-senyum di tengah korban bencana. Mungkin akan sulit mengerti bagaimana rasanya jadi korban bencana kalau tidak merasakan jadi korbannya sendiri, tapi apa harus mengumbar senyum begitu. Kok kayaknya nggak peka sama kondisi ya.

Nanti, kalau saya kembali ke dunia itu saya bertekad untuk lebih humanis dan tidak malas mengkroscek. Saya akan menggunakan bahasa yang lebih santun, karena salah satu fungsi media adalah sarana pendidikan publik. Bila publik dicekoki kata-kata yang vulgar akan kekerasan, maka mereka akan terbiasa dengan kekerasan (setidaknya dalam wujud kata-kata). Saya juga akan mengingatkan teman-teman untuk membaca kode etik jurnalistik, karena itulah rambu-rambu yang menjadi koridor jurnalis. Hmm, konon masih banyak jurnalis yang belum membaca kode etik ini.