‘Wanita yg pas u/ teman pesta,clubbing,brgadang smp pagi,chitchat yg snob,mrokok,n kdang mabuk – tdk mungkin direncanakn jadi istri.” Demikian tweet dalam akun twitter @marioteguhMTGW belum lama ini seperti dikutip dari detikcom (22/2/2010).

Postingan tersebut menimbulkan berbagai kritik. Motivator Mario Teguh dinilai bias gender. Munculnya berbagai kata-kata kasar dalam respons tweet’nya membuat Mario menutup akun tersebut.

Mario meminta maaf kepada publik apabila tweet-nya mengganggu sebagian kalangan. Namun, pria berkacamata itu menolak meralat substansi dari hal yang disampaikannya. “Tidak perlu ada permintaan maaf atas sebuah kebenaran,” ucap Mario seperti dikutip dari suaramerdeka.com  (23/2/2010).

Mario lantas memberi klarifikasi melalui facebook. Dijelaskannya, kalimat yang di-posting di Twitter merupakan bagian trending topic dengan hashtag #MTOF (Mario Teguh Open Forum) yang memang dirancang Mario dan timnya sebagai koleksi mata diskusi akhir minggu. Sebagai mata diskusi, kalimat posting-an dalam Twitter adalah judul dari diskusi, yang lebih ditujukan sebagai pemulai proses diskusi, dan bukan justifikasi terhadap perempuan.

Meski mendapat banyak kritik, namun dukungan kepada Mario pun tidak kalah banyak. Antara lain dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Amidhan.  Menurut dia, Mario tidak menuding siapa-siapa, melainkan hanya memberi nasihat, kalau perempuan berbuat begitu tidak direncanakan untuk menikah. Ditambahkan Amidhan, nasihat yang disampaikan Mario Teguh sebenarnya adalah hal yang umum bila merujuk ke ranah agama, karena agama menghendaki istri atau suami yang berakhlak mulia.

“Itu nasihat biasa saja. Agama menyerukan kepada lelaki yang baik, selayaknya memilih yang baik juga akhlaknya, dan begitu sebaliknya. Kalaupun ada wanita atau laki-laki seperti itu, mabuk-mabukan dan sebagainya, kalau bisa dibina dan diperbaiki,” terang Amidhan seperti disampaikan kepada detikcom (22/2/2010).

Yang tidak setuju pada Mario berpandangan, kalimat tweet tersebut sangat kental muatan patriarkhalnya. Sebab definisi baik dan buruk dilihat dari kacamata laki-laki.

Aku bukan orang yang memiliki pengetahuan agama sempurna, juga bukan orang yang sangat paham mengenai feminisme. Tapi aku mendukung tweet Mario Teguh (MT), karena seperti yang dikatakan Pah Amidhan, hal itu hanyalah nasihat. Lagipula Mario sudah mengatakan, dia tidak pernah bermaksud untuk memberikan justifikasi terhadap siapapun. Meski mungkin akan lebih sempurna jika MT menambahkan kata laki-laki pula dalam postingannya sehingga nasihat itu bisa diterima oleh laki-laki dan perempuan. Haduuh aku nggak tahu versi aslinya karena Twitter-ku nggak terawat dan memang belum jadi follower-nya MT.

Tapi dari dutamasyarakat.com (22/2/2010), berbagai nasihat melalui tweet MT bila digabung akan menjadi seperti ini: “Pada akhirnya kita harus memilih wanita yang baik untuk istri, pria yang baik untuk suami, dan membangun keluarga yang baik. Jodoh itu di tangan Tuhan. Akan lebih baik jika kita periksa apakah kita mempersulit orang yang ingin memperjodoh kita. Wanita yang pantas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai pagi, chitcat yang snob, merokok dan kadang mabuk, tidak mungkin direncanakan jadi istri. Hidup berbahagialah dengan istri Anda yang baik, atau suami Anda yang anggun. Tidak ada kebahagiaan selain kebaikan.”

Menurutku tidak ada yang salah dengan apa yang disampaikan MT. Di negara kita dan mungkin juga di banyak negara, orang yang gemar clubbing hingga begadang sampai pagi, merokok sambil minum minuman beralkohol yang terkadang sampai mabuk seringkali mendapat stigma negatif. Sebab apa yang dilakukan tersebut menjurus ke arah maksiat.

Mungkin ada yang berujar, ‘biarpun clubbing atau mabuk-mabukan tapi yang penting tidak merugikan orang lain. Stigma negatif itu kan cuma soal kepantasan dan kewajaran yang diakui bersama di masyarakat.’ Iya, itu norma. Norma yang muncul tidak serta merta melainkan menengok pula nilai-nilai agama. Aku rasa di agama manapun tidak ada yang mengajarkan umatnya untuk get involve pada ‘dunia’ seperti yang disebut MT.

Aku perempuan yang rasional dan setuju akan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Aku pun setuju bila perempuan bebas berkehendak. Bebas berkehendak untuk bersuara, bekerja, berpolitik, bersosialisasi, menuntut ilmu, termasuk bebas berkehendak untuk menentukan siapakah laki-laki pilihannya. Ya, bebas, tapi bukan berarti tanpa batas yang menjadikannya hilang tanggung jawab. Karena bagaimanapun, sebagai umat, ada hukum-hukum Illahi yang harus ditaati. Dan subhanallah, Allah memberikan tempat yang terpuji dan mulia bagi perempuan shalihah.

Masing-masing punya pendapat. Masing-masing punya sikap. Aku mendukung tweet MT bukan karena aku nge-fans sama dia sehingga semua yang dia katakan dan dia perbuat lantas aku benarkan begitu saja. Karena aku sependapat sama dia, itu saja.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (QS. An Nuur : 26)

“…Sungguh Kami telah menjadikan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami kembalikannya jadi serendah-rendahnya yang rendah (masuk neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih maka mereka akan memperoleh pahala yang tak putus-putusnya.” (QS. At-Tien: 4, 5, 6).

“Sesungguhnya yang paling mulia dari kamu sekalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa”. (QS Al-Hujuraat/ 49: 13).